'Peti Hidup': Cara Baru Mempercepat Pembusukan Jasad Manusia Ramah Lingkungan

‘Living Cocoon’ adalah inovasi teknologi pemakaman terbaru memanfaatkan jamur, lebih ramah lingkungan dibanding penguburan biasa
18.9.20
Pendiri Loop Bob Hendrikx berdiri di antara tiga peti mati 'Living Cocoon'
Hendrikx berdiri di antara tiga peti mati 'Living Cocoon'. Foto: Bob Hendrikx -- Loop Biotech

Upacara pemakaman terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Dan semakin meningkatnya kesadaran manusia terhadap kelestarian lingkungan, banyak dari mereka mencari metode penguburan alami yang berkelanjutan dan tidak merusak planet.

Perusahaan bioteknologi Belanda Loop berhasil menciptakan peti mati biodegradable menggunakan jamur, mikroba dan akar tanaman. Peti bernama ‘Living Cocoon’ ini tak hanya mempercepat pembusukan jasad saja, tapi juga dapat memperkaya kandungan tanah di sekitarnya.

“Manusia biasanya membunuh atau merusak sesuatu dari alam untuk kemudian digunakan sehari-hari,” ujar pendiri Loop Bob Hendrikx melalui panggilan telepon. “Bagaimana kalau sekarang kita mulai memanfaatkan benda hidup tanpa merusaknya?”

“Dengan begini, kita takkan lagi menjadi parasit bagi alam. Kita juga bisa mencari cara membuat benda-benda keren macam lampu hidup atau dinding yang bisa memperbaiki kerusakan dengan sendirinya,” imbuhnya.

Ide menciptakan Living Cocoon terlintas dalam pikiran Hendrikx ketika dia mempresentasikan konsep “living home” pada Dutch Design Week tahun lalu. Dia terpikir mengadaptasi konsep ini untuk membuat peti mati dari miselium, bagian vegetatif dari jamur.

“Miselium adalah penyerap alami terbesar karena mampu mengubah sisa-sisa organisme menjadi nutrisi utama,” kata Hendrikx.

P1080548.JPG

Loop berkolaborasi dengan Delft University of Technology dan Naturalis Biodiversity Center untuk menciptakan Living Cocoon. Dasar peti mati ini dilapisi lumut yang terdiri dari miselium, akar pohon dan ekosistem mikroorganisme subur. Living Cocoon sudah mulai dipasarkan di Belanda, dan telah digunakan dalam satu upacara pemakaman di Den Haag.

Uji coba awal menunjukkan peti mati ini akan terurai sepenuhnya dalam 30-45 hari, sedangkan jasadnya diperkirakan bisa menjadi kompos setelah tiga tahun. Jamur dapat membersihkan tanah dari kontaminan, sehingga para peneliti yakin penggunaan peti mati ini bisa membersihkan lingkungan yang kotor.

“Produk ini memang sudah dipasarkan, tapi kami masih ingin memastikan berapa lama [proses pembusukan] terjadi, seperti apa tahap-tahapnya, dan yang paling penting zat kimia apa saja yang diserap,” lanjutnya.

Sama seperti metode “pemakaman hijau” lainnya, Living Cocoon diciptakan dengan tujuan mengurangi dampak lingkungan dari metode penguburan konvensional. Peti mati dan pengawet mayat yang banyak ditemukan saat ini masih menggunakan bahan kimia yang akan larut ke dalam tanah seiring berjalannya waktu, sehingga berpotensi mencemari air tanah.

Penguburan alami sebenarnya sudah ada sejak dulu kala, mengingat anggota suku asli di seluruh dunia telah mempraktikkan pemakaman ramah lingkungan selama ribuan tahun. Ritual pemakaman langit masih dilakukan di Tibet. Jenazah akan diletakkan di atas puncak gunung supaya nantinya dimakan burung.

Proses “kremasi air” adalah contoh yang lebih modern. Jasad akan terurai setelah dimasukkan ke dalam campuran air dan kalium hidroksida. Metode ini semakin diminati orang-orang, karena mereka tidak mau merusak planet bahkan setelah meninggalkan dunia ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.