Views My Own

Kritik Buat Obsesi Keluarga Indonesia Memasukkan Anak ke Universitas Negeri

Saya punya argumen untuk menyebut keputusan menghabiskan banyak uang demi keterima kampus negeri sebetulnya enggak 'worth it'.
3.11.17
Illustration by Dini Lestari

Saya masih ingat betapa stresnya tahun terakhir di SMA. Teman-teman seangkatan dan saya cemas tentang masa depan kami. Tapi bahkan sebelum kami mempelajari pilihan universitas dan programnya, satu hal sudah jelas: universitas negeri dianggap lebih baik dari universitas swasta. Anak kampus swasta dianggap kelas kedua.

Stereotip umum di Indonesia mengatakan bahwa universitas negeri, terutama Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gajah Mada menjanjikan masa depan yang cerah. Ketiga universitas ini dianggap bergengsi, dan banyak keluarga rela menghabiskan banyak uang demi memasukkan anaknya ke salah satu kampus itu. Kadang bahkan tidak penting jurusan apa yang diambil, yang penting kuliah di sana.

Iklan

Dua tahun yang lalu, di tengah besarnya tekanan untuk masuk universitas negeri, saya berakhir di sebuah universitas swasta. Tapi apakah ini lantas membuat saya gagal berprestasi, menikmati kuliah, dan yang terpenting membuat orang tua bangga? Enggak dong. Justru, saya jadi sadar bahwa tekanan untuk masuk universitas negeri itu gak perlu banget—karena mereka gak segitu bagusnya kok.

Satu hal yang saya sadari setelah menghabiskan dua tahun kuliah adalah bagaimana kesuksesan ditentukan oleh diri kita sendiri. Universitas negeri memang biaya SPP-nya lebih rendah, dan saya menghargai mereka-mereka yang berusaha keras untuk diterima di sana demi meringankan beban finansial keluarga. Tapi selain biaya yang lebih murah, universitas negeri itu menang hype doang. Berikut alasan kenapa universitas negeri itu overrated.

Abis Banyak Duit Buat Bimbel
Hal pertama yang kamu harus lakukan agar berpeluang diterima di universitas negeri adalah dengan mendaftarkan diri ke bimbel, demi pelajaran tambahan tes persiapan UMPTN. Masalahnya, bimbel itu gak murah. Pusat bimbel bisa meminta bayaran mulai dari Rp2 juta sebulan untuk paket standar hingga Rp10,5 juta untuk paket "spesial". Kalau dirasa masih kurang, masih ada paket "supercamp" lho, seharga Rp75 juta saja sebulan. Obsesi masuk ke universitas negeri telah menghasilkan industri bimbel yang makmur. Beberapa pusat bimbel bahkan berjanji akan mengembalikan uang apabila kamu gagal masuk universitas negeri. Kenyataannya? Kebanyakan omong doang.

Jangan lupa kamu juga perlu membeli banyak buku latihan SBMPTN, tes lainnya yang perlu kamu ambil demi masuk ke universitas negeri. Kalau orang tuamu merasa kamu masih kurang siap, guru privat akan dipanggil, lagi-lagi menghabiskan uang—Rp1.5 juta sebulan rata-rata.

Semua ini adalah investasi yang besar, dan mungkin tidak perlu. Sebuah laporan mengatakan bahwa biaya persiapan masuk universitas negeri bisa lebih mahal dibanding biaya SPP-nya selama tiga tahun. Industri bimbel itu tipu-tipu doang. Kalau kamu emang gak ada niat masuk ke universitas negeri dari awal, mendingan bilang ke bonyok duitnya dipake buat liburan keluarga ke Spanyol atau beli saham. Lebih untung deh, beneran.

Ya, kamu bisa gagal
Mau karena tato kek, ketahuan mabuk-mabukkan kek, atau ngetwit sesuatu yang bikin netizen Indonesia ngomel-ngomel, di usia 20-an, kamu pasti bikin banyak kesalahan. Jadi, masuk universitas negeri enggak akan mengubah fakta itu. Kehidupan kampus, mau di universitas negeri ataupun swasta, bisa jadi lingkungan yang sangat enggak ramah. Sebagian besar orang dalam fase ini fokus dan sibuk ngebenerin hidup masing-masing, jadi mereka enggak sempat mengurus kamu. Saya rasa hari-hari ini universitas baik untuk satu alasan saja: layanan akademik yang mereka berikan. Sisanya sih tugas kamu untuk menemukannya, dan masuk universitas negeri enggak menjamin bahwa lingkungan yang aman memberikan pengaruh baik dengan anak-anak berprestasi dan IPK yang bagus. Pada akhirnya kamu bakal menghadapi dan berkompetisi dengan mereka yang kuliah di universitas swasta.
Beberapa universitas swasta mungkin tidak prestisius, namun bukan berarti pelajar dari Nusa Tenggara Timur tidak bisa mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa pelajar Indonesia yang kuliah di universitas negeri lokal bisa lebih berprestasi dibandingkan pelajar di universitas swasta. Ya, meski memang ada perusahaan yang bias terhadap asal universitas calon pegawai. Tapi ya, emangnya kamu mau kerja buat orang-orang yang menilai kualitasmu sebagai buruh hanya berdasarkan alma mater? Terlepas dari soal keberuntungan, yang paling penting setelah lulus bukanlah alma mater, melainkan keterampilanmu berkomunikasi dan paling penting, cara kamu meyakinkan orang-orang soal bakat dan keterampilan kamu. Pada akhirnya, kita semua akan mencoba membuat kagum perusahaan-perusahaan di job fair atau berkompetisi untuk beasiswa LPDP yang sama, dan berharap bisa segera nyicil KPR. Kalau orang tuamu mikir masuk kuliah negeri bakal menjamin kamu dapat rumah bagus, bilang lah bahwa generasi milenial tuh hampir mustahil beli rumah. Ingat-ingat lagi tujuan awalmu masuk kuliah
Bagi sebagian besar orang, kuliah adalah pilihan yang logis. Sampai-sampai, kita jadi meremehkannya dan enggak terlalu memikirkannya dengan serius. Kalau kamu sekarang masih kuliah, mau di universitas negeri ataupun swasta, pasti kamu menemukan "anak-anak hilang" seenggaknya sekali. Anak-anak hilang ini adalah mereka yang duduk di kelas pelanga-pelongo. Mereka mungkin enggak tahu mereka lagi ngapain, dan kamu bingung juga ngapain mereka di sana alih-alih bermeditasi atau jalan-jalan. Nah, pikirin deh. Gimana kalau mereka sebenarnya sudah punya rencana tapi enggak disetujui sama orang tua? Gimana kalau kehidupan kampus terlalu berat buat mereka? Gimana kalau mereka mau langsung kerja dan enggak kuliah? Ada banyak banget pilihan setelah SMA, dan seringkali kita dikasih tau kita cuma punya stau pilihan: masuk univeristas negeri. Dan ketika pengalaman kuliah enggak seseru yang digembor-gemborkan semua orang, kita jadi linglung sendiri. Ada banyak cara bikin orang tuamu bangga
Kuliah di universitas negeri masih menjadi parameter penerimaan pekerjaan, atau status sosial, untuk sebagian besar orang, terutama generasi tua. Mungkin hal ini menjelaskan rasa takut dan malu yang menggiring banyak orang tua Indonesia untuk menekan anak-anaknya untuk daftar dan diterima di perguruan tinggi negeri. Juga kental di budaya Indonesia bahwa orang tua masih suka ngatur kehidupan dan keputusan anak-anaknya, dan anak-anak bakal melakukan apapun supaya orang tua mereka enggak kecewa. Tapi, bukannya ada banyak jalan menuju Roma? Ngebela-belain supaya diterima di universitas negeri, yang bisa jadi enggak cocok buat kamu, bukan satu-satunya cara membuat keluargamu bangga. Mungkin dibutuhkan lebih dari komunikasi dan negosiasi supaya mendapatkan dukungan orang tua kalau kamu memilih suatu jalur. Ini bukan jadi pekerjaan mudah, tapi saya memastikan ini bakal sepadan. Lagian, ini kan hidupmu, bukan hidup mereka, dan kamu yang tahu yang kamu mau dan butuhin itu sebenernya apa.