Musik

Cara Musisi Timur Tengah Melepas Diri dari Cengkeraman Konservatisme

Pilihannya dua: Lawan atau eksodus ke negara lain. Suka tak suka, bermusik adalah aksi politis di Timur Tengah sana.
7.11.17

Artikel ini pertama kali tayang di i-D Mulai terancam jadi korban kekerasan dan akhirnya malah jadi penggagas revolusi, musisi di kawasan Timur Tengah mau tak mau harus jadi politis di sana. Pasalnya, membuat musik sendiri adalah kegiatan yang dianggap politis, kalau tak bisa dibilang subversif di dana.

Kecuali kamu tinggal di negara Timur Tengah atau seorang pengarsip world music jempolan, sepertinya kamu bakal kesusahan menyebut lebih dari lima nama musisi dari Timur Tengah. Kalian mungkin mengenal DJ Khaled, produser keren asal Palestina yang menggarap " Wild Thoughts" (salah satu lagu terkeren di 2017). Lalu, ada pula beberapa musisi diaspora asal Timur Tengah yang mengadu keberuntungan di Amerika Serikat dan Eropa, seperti Fatima Al Qadiri, yang berasal dari Kuwait, Sevdaliza dari Iran dan rapper berdarah campuran Inggris-Irak, Lowkey. Jangan juga melupakan Mashrou' Leila, band rock asal Lebanon yang namanya mulai masyhur di kalangan penggemar musik meski keukeuh menyanyi dalam bahasa Arab dan bertamu dalam album terbaru Hercules & Love Affair, Omnion.

Kurangnya musisi Timur Tengah yang menembus kancah musik internasional bukannya tak jadi perhatian para pelaku musik setempat. Pada 2008, Mashrou' Leila hanya sekumpulan mahasiswa arsitektur di Beirut yang gundah gulana karena tak lagi melihat band di sekitar mereka bernyanyi dalam bahasa Arab tentang hal-hal penting dalam kehidupan mereka. "Kebanyakan musik Arab cuma berisi nostalgia doang," jelas gitaris Firash Abou Fakher. Musisi perempuan juga hampir mustahil ditemukan di kancah musik Timur Tengah saat itu. Jika kalian tak percaya, silakan tanya Rotana, musisi pop Arab Saudi, siapa musisi yang mempengaruhi musiknya, niscaya dia akan kaget dan menjawab terbata-bata. "Hampir enggak ada," ujar perempuan berumur 27 tahun itu sembari menuding islam konservatif yang dianut di negaranya sebagai penyebab langkanya musisi (perempuan) di negaranya. "Bayangkan, kami baru bisa konser pertama kali (dalam tujuh tahun) di Saudi tahun ini. Tentu, kami punya artis di kawasan Timur Tengah. Tapi, sayangnya mereka dipandang dengan cara yang berbeda daripada orang barat memandang seorang artis. Di sini, artis adalah warga negara kelas dua."

Larangan yang ditujukan para artis untuk menggubah musik di kawasan Timur Tengah bervariasi dari satu negara ke negara lain. Di Iran, contohnya, seorang DJ harus dapat izin resmi dari pemerintah agar bisa manggung. Sementara di Israel- yang tetap dianggap Timur Tengah walau mayoritas penduduknya beragama Yahudi— peraturan menyangkut musik ternyata lebih longgar. Israel punya "skena" musik yang subur yang menghasilkan musisi sekelas Victoria Hanna, Ester Rada, dan Shai Tsabari yang begitu populer di dalam negeri. Di saat yang sama, A-WA, trio bersaudari Tair, Tagel dan Liron yang bernyanyi dalam bahasa Arab Yaman, mencuri perhatian pemerhati musik global dengan track mereka "Habib Galbi". Sampai saat ini videoklip mereka telah ditonton lebih dari 8 juta kali. Pun, wajah-wajah tiga bersaudari ini sudah nampang di berbagai penerbitan beken, dari Vogue hingga Rolling Stone.

"Sulit sekali bagi musisi, terutama musisi perempuan, di kawasan Timur Tengah, tempat kami tinggal, untuk bisa menembus pasar musik di Amerika Serikat dan Eropa," kata Tair, sulung dari tiga bersaudari A-WA. "Untunglah, kami tinggal di masyarakat yang lebih modern, di mana perempuan bisa hidup bebas dan bisa menikmati hak-haknya," tambah saudarinya Liron. "Kami diizinkan berekspresi dengan bebas, memakai pakaian manapun yang kami suka dan mendapatkan pendidikan seperti yang kami inginkan," katanya. Penjelasan mereka memberi kesan bahwa seandainya saja A-WA berasal dari negara yang lebih konservatif dari Israel, tiga bersaudari ini mustahil menggantungkan hidup pada musik, merilis dua album, apalagi tur keliling dunia. Menyitir apa yang diungkapkan Rotana tentang kancah musik di Arab Saudi, "Perempuan memang tak diizinkan untuk keluar rumah dan menari. Waktu aku tumbuh dewasa, semua itu terasa mustahil."

Konservatisme sudah barang tentu bukan satu-satunya faktor yang menghambat musisi Timur Tengah menerobos pasar musik internasional. Negara seperti Suriah—yang belum pulih dari sisa-sisa perang saudara— atau Palestina—yang diduduki Israel sejak 1967—mungkin memiliki talenta-talenta musik berharga. Masalahnya, kancah musik memang tak bisa berkembang di sana. Bagaimana mau berkembang jika musisinya tak diperbolehkan menggelar gigs. Ah kan tetap bisa jadi non-performing artist? Sama saja. Rekaman di negara-negara ini kerap dihantui pemadaman listrik. Namun, kendati ada perbedaan kondisi yang mencolok dari satu negara Timur Tengah ke negara lainnya, musisi dari seluruh penjuru Timur Tengah sepakat bahwa masalah utama dari stagnannya kancah musik di kawasan ini adalah eksodus besar-besar yang dilakukan musisi muda.

Raving Iran, film dokumenter yang mulai beredar awal tahun ini, menyoroti masalah ini dengan lugas. Bersetting di kancah musik techno Tehran, Raving Iran mengikuti petualangan dua DJ lokal: Blade&Bear, yang diundang nge-dj di sebuah festival musik di Swiss. Keduanya lantas berkemas dan akhirnya memutuskan meninggalkan Iran selamanya. "Kami mulai nge-dj sejak umur 16 tahun dengan menggunakan software macam CDJs dan Songbird," ujar Anoosh, salah satu anggota Blade&Beard. "Tapi kami tak pernah manggung di gig resmi, cuma pesta-pesta rave ilegal." Anoosh juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai bentuk "hiburan malam" selain restoran telah dilarang di Iran sejak revolusi Islam terjadi 40 tahun silam.

Tapi, DJ muda ini menegaskan bahwa kondisinya tak sebusuk itu. Generasi muda Iran, yang menurut Anoosh "bosan tak punya hiburan sepanjang hidupnya", mulai membangun kultur klab di sana. "Mereka bikin party sendiri di apartemen atau gurun. Mereka cukup puas melakukannya—party-party ini gratis dan tak disertai pemeriksaan keamanan. Ya mau bagaimana lagi, namanya juga party underground." Rotana juga meninggalkan kampung halamannya untuk mengembangkan karir bermusiknya. Sejak empat tahun lalu, Rotana yang kini berusia 23 tahun bermukim di California. Layaknya musisi lain yang pergi dari kawasan Timur Tengah, Rotana jengah dengan kehidupan konservatif di Arab Saudi dan memutuskan menghabiskan hidupnya di tempat yang benar-benar berbeda. Kini, Rotana tengah menggarap album pertamanya dan perempuan ini mengaku keputusannya meninggalkan Negara Petro Dolar ternyata menguntungkan. Mislanya, fakta bahwa dirinya "terlambat dewasa" menyediakan banyak inspirasi bagi lirik-lirik gelapnya yang bicara tentang laki-laki, Tuhan dan alam—pokoknya segala hal yang tak bisa dia bicarakan dengan bebas di kampung halamannya. "Intinya, ini semua kayak tai yang saya pendam bertahun-tahun," ucapnya, berkelakar. "Proses pembuatan EP pertama saya intens sekali."

Bagi Rotana, musisi perempuan di Arab Saudi tak bisa menghindar disebut politis. Sebab dengan bermusik, entah sengaja ataupun tidak, mereka melawan aturan-aturan kolot yang memasung kebebasan perempuan di Arab Saudi untuk mengekspresikan diri. "Di akun Instagram, banyak orang yang menyumpahi saya. Saya sih asik-asik saja melihatnya," katanya sambil tersenyum. "Orang-orang ini baru saja keluar dari zona nyamannya dan mereka marah. Tapi, memang begitu seni seharusnya bekerja."

Narcy adalah seorang rapper kelahiran Irak yang pertama kali menggubah musik pada dekade '90an saat dirinya tinggal di Abu Dhabi. Nancy mengaku bahwa musik buatannya selalu dianggap subversif di kawasan Timur Tengah. "Pemerintah Abu Dhabi sebenarnya tak memperkenankan penduduknya mengeluarkan opini politis. Aku dan teman-temanku masa bodoh dengan itu. Kami ngemix musik-musik Arab milik orang tua kami di atas beat-beat hip-hop dan melakukan freestyle di kamarku," kenangnya. Nancy angkat kaki dari Abu Dhabi dan bermukim di Montreal pada awal dekade 2000-an. Tak lama berselang, Nancy mendapatkan panggilan jiwanya untuk menggambarkan orang Arab dalam representasi yang positif di barat setelah insiden 9/11. "Ini buka cuma tentang ngomong 'saya bukan teroris,' tapi saya lebih ingin ngomong bahwa "saya (penduduk Arab) ini adalah seorang manusia, ayah, saudara dan seorang anak sekaligus." Imbasnya, dalam sekejap Nancy didekati media dan dianggap sebagai sampel musisi Irak yang bekerja meniti karir di Barat: "Media biasa cuma bilang 'wah ternyata orang Arab damai-damai' alih-alih ngomong "oh ternyata hal-hal seperti ini biasa saja di sana' atau malah ngomongin musik," kenangnya. Mashrou' Leila tak pernah berniat jadi band yang politis, begitu klaim vokalis utama grup ini Hamed Sinno. "Kami mulai membuat musik buat kami sendiri dan saya pikir kami masih terus melakukan itu." Meski demikian, jelas sekali bahwa musik mereka menyentuh kesadaran politik generasi muda di kawasan Timur Tengah. Pada 2012, lirik dari salah satu track Mashrou' Leila. "Innii Mnee7" menjadi slogan aktivis yang terlibat dalam Arab Spring. "Frase pembuka lagu itu yang berbunyi 'Mari kita hanguskan kota ini dan bangun lagi kota yang lebih bermartabat' tiba-tiba jadi grafiti di dinding-dinding dan digunakan di beragam chatroom di internet," ucap Firas. "Orang-orang memulainya sendiri." Dalam Track "Strong," grup ini bernyanyi tentang serangan kekerasan yang dilakukan polisi pada sebuah gedung bioskop yang kerap dihadiri kaum gay. Isu-isu semacam ini, menurut Firas, tak dibicarakan secara blak-blakan namun "dibahas dengan cara yang intim, bahkan ketika kamu membahas subjek-subjek yang bermuatan politis." Pada 2016 dan 2017, Mashrou' Leila dilarang manggung di Yordania. Ini menunjukkan meski dibuat samar, lirik-lirik mereka masih dipermasalahkan pihak berwenang. "Apa yang terjadi di Yordania adalah serangan terhadap isi musik kami. Di mata banyak orang, kami adalah para penista agama yang mengancam integritas tatanan moral dan budaya di Yordania," jelas Firas sambil menghela nafas. Blade&Beard juga merasa tak diterima di Iran. Begitu ditanya kenapa aturan menyangkut musik begitu ketat di Iran, Anoosh menganggap pemerintah Iran tak takut perkembangan musik elektronik. Mereka lebih ketar-ketir melihat komunitas berkembang di sekitar genre musik ini. "Pemerintah Iran takut generasi muda Iran menyatu, ramai-ramai mengonsumsi obat, memperoleh ide baru tentang cara menghabiskan hidup dan menyebarkan ide-ide berbahaya ini ke generasi yang lebih muda lagi," katanya. "Tapi selama mereka bisa melarang generasi muda mendengarkan musik ini, mereka bisa menemukan solusi akan ketakutan mereka."

Rotana percaya perubahan akan terjadi dalam skala yang lebih luas. Musisi perempuan itu menceritakan tentang "kebangkitan artistik yang terjadi di sekujur kawasan Timur Tengah, terutama Arab Saudi." Malah, pemerintah Arab Saudi telah menghubungi Rotana dan bertanya apa yang mereka bisa bantu untuk memajukan karirnya. "Ini adalah bagian dari visi 2030 Raja Salman. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi berusaha memahami generasi muda karena mereka sadar bahwa generasi milenial dan Generasi Z akan menjadi mayoritas populasi Arab Saudi dan anak-anak ini tidak bodoh."

Nancy melihat perubahan serupa terjadi di Oman, Dubai dan Uni Emirat Arab—Nancy pernah manggung di tiga negara. "Hampir tak ada negara Timur Tengah yang belum mengalami perang. Meski begitu, masih banyak tersisa dalam kebudayaan kami. Ini tanggung jawab kami sebagai seniman. Mikrofonnya ada di tangan kamu. Kita sudah tak bisa lagi beralasan 'Pemerintah melarang kami manggung!'"