Hubungan

Emang Bisa Orang yang Monogamis Pacaran sama yang Poliamoris?

Berikut adalah kumpulan kisah-kisah hebat tentang cinta, seks, dan kepedihan.
12.9.17
sumber: : Shutterstock | Art by Noel Ransome

Jarang terpikirkan oleh kita bahwa orang-orang yang memilih hubungan monogami bisa saja berpasangan dengan orang-orang yang percaya poliamori.

Bagaimana ceritanya orang yang lebih nyaman dengan hubungan "hanya ada aku dan kamu" (monogami) bisa berpasangan dengan orang yang percaya bahwa "hubungan bukan hanya aku dan kamu, tapi juga ada dia, dia, dan dia" (poliamori).

Soalnya, ada kesan hubungan seperti itu bisa memicu banyak drama yang tak perlu. Tapi nyatanya, banyak kok orang yang menjalani hubungan hibrid semacam itu.

Iklan

Berpasangan dengan seseorang yang tidak sepaham denganmu dalam spektrum mono-poli boleh berarti banyak hasrat dan dorongan yang terpendam, sehingga kamu jadi merasa "kurang jadi diri sendiri," obrolan tak usai-usai soal kepekaan masing-masing, dan terkadang, perasaan terluka. Tapi, rasanya ini mirip-mirip dengan kalau pasanganmu memiliki pandangan politik atau tujuan hidup yang berbeda.

VICE ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang berada dalam hubungan hibrid poli-mono, supaya tahu tantangan-tantangan terbesar mereka dan bagaimana mereka menghadapi perbedaan-perbedaan.

Poly, Tapi (Sebagian Besar Waktu) Menjalin Hubungan Monogami Brittany, 27 tahun

Sejauh ini, kesepakatan kami adalah, saya poli dan dia mono. Saya boleh saja punya hubungan dengan orang lain, selama tanpa kontak fisik. Kesepakatan ini kami raih setelah komunikasi berjam-jam dan berdebat ke sana-sini. Dia tahu saya poli sejak awal. Kami sudah melewati jalan panjang hingga akhirnya sampai di sini. Saya masih dekat dengan mantan saya, dan kami bertiga suka nongkrong bareng kadang-kadang. Tapi butuh waktu lah sampai pasangan saya bisa nyaman dengan hal itu.

Sejauh ini tantangan terbesarnya adalah komunikasi dan melawan dorongan untuk mengikuti hasrat-hasrat saya. Utamanya, saya menunjukkan kasih sayang lewat sentuhan fisik, jadi sulit bagi saya untuk tidak bersentuhan. Saya belajar menerima cara-cara lain menunjukkan kasih sayang pada pasangan-pasangan emosional saya. Tantangan terbesar bagi pacar saya, adalah memahami mengapa dan bagaimana poliamori bekerja.

Iklan

Saya memilih hidup secara monogami dengan pacar saya, setelah sebuah kegagalan terjadi di suatu malam, yang berdampak cukup parah baginya. Pasangan saya yang lain saat itu tidak bisa membawa hubungan kami lebih jauh lagi, sedangkan pacar saya bisa. Saya tidak mau merusak masa depan bersama pacar saya dan saya pun tidak mau memberi harapan palsu pada mantan pasangan saya itu sembari menunggu pacar saya menerima aspek fisik dari praktik poliamori. Saya memutuskan untuk menyudahi hubungan saya dengan mantan pasangan saya supaya bisa berlaku adil pada keduanya.

Saya masih kepayahan, tapi ya sudahlah. Begini adanya. Saya jadi sadar bahwa meski saya ingin mencintai secara poliamori, saya juga menginginkan rasa aman dari hubungan monogami. Pacar saya memberikan rasa aman itu. Dia tahu saya akan terus mencintai orang-orang lain dan dia bisa menerima hal itu. Dia sudah melalui proses panjang selama enam bulan jalan sama saya dan kami semakin terbuka seiring berjalannya waktu.

Ada hari-hari saya merasa terjebak, namun biasanya perasaan seperti itu hilang kalau diobrolin secara terbuka dan panjang lebar. Akhir-akhir ini, saya merasa tak berdaya karena mantan pasangan saya itu akan pindah rumah. Saya mungkin tidak akan bertemu lagi dengan dia, jadi saya merasakan dorongan kuat untuk menghabiskan malam bersama.

Kesempatan Kedua Mike, 59

Kedua pasangan saya mono: istri saya selama 17 tahun dan tunangan saya selama 15 bulan. Saya selalu seorang poli, hanya saja baru menyadari istilah ini sepuluh tahun lalu. Sebelumnya, saya kira saya memiliki kecenderungan yang berbeda atau aneh, atau bahkan rusak.

Istri saya selalu tinggal di daerah pinggiran South Dakota dan Minnesota yang konservatif dan sulit sekali untuk ngobrolin hal ini dengannya. Kami berdua biasanya saling membacakan bagian-bagian Opening Up dan The Ethical Slut setiap malam dan membahas setiap paragrafnya sembari jalan. Awalnya saya rasa istri saya tidak percaya bahwa saya bisa menemukan pasangan lain yang sudi menjalani hubungan yang saya inginkan.

Iklan

Pada Maret 2011 saya bertemu pasangan jangka panjang yang pertama. Setelah kencan kedua, dia pulang sambil sesenggukkan. Dia bilang, dia tidak bisa kalau saya sama perempuan lain. Pada bulan Mei tahun itu, dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang bisa saja menewaskannya. Saat dia keluar dari rumah sakit, dia menelepon saya untuk pertama kalinya dan meminta saya menjemputnya. Kami menjalani kencan ketiga dan saya menjelaskan perasaan saya bahwa dia dan istri saya perlu bertemu dan membahas hal-hal tanpa keberadaan saya. Mereka melakukan hal itu. Dia dan saya bersama selama empat tahun. Pada Juli 2015, saya menjemputnya dari rumah orang tuanya untuk kembali ke Spokane. Dalam perjalanan, dia memberikan saya cincin dan berjanji menghabiskan sisa hidupnya bersama saya. Empat hari kemudian dia meninggal dunia saat tidur di sofa di ruang keluarga. Usianya baru 48 tahun.

Dua bulan kemudian, istri saya dan saya naik motor dari South Dakota ke Spokane. Dia terlempar di belokan saat kecepatan motor 112 km per jam dan kini bagian tubuh bawahnya lumpuh… Beberapa bulan selanjutnya saya sangat merana, meski istri saya bilang dia gembira-gembira saja karena bisa memiliki saya sendirian.

Pada Juni 2016 saya berjumpa dengan Mary. Dia dan istri saya pernah bekerja bareng 20 tahun lalu, sebelum saya mengenal istri saya. Mary dan saya mulai berkencan dan merasa sangat cocok. Istri saya senang dengan Mary, dan Mary mengagumi istri saya. (Istri saya tak terlalu senang dengan pasangan saya sebelum ini.)

Iklan

Saya meminta Mary untuk menjadi pasangan hidup saya pada Oktober tahun lalu, dan dia mengenakan cincin pernikahan saya. Kami ingin Judy, istri saya, untuk berpartisipasi dalam upacara ini. Judy masih berharap saya bisa menjalin hubungan monogami, itu adalah mimpinya. Mary senang-senang saja berbagi suami dengan Judy, perempuan yang dia sudah anggap sebagai kakak sendiri.

Kisah Cinta Juggalo Justin, 32

Saya ketemu sama dia di grup chat juggalo Yahoo 14 tahun yang lalu. Kami chatting, terus telponan, lewat webcam selama enam bulan. Dia beli tiket pesawat supaya saya bisa ke San José, California. Di hari kedatangan saya, kami memutuskan tinggal bersama. Hubungan kami berjalan OK aja sih, kami punya masalah sebagaimana pasangan pada umumnya. Tapi yang terburuk adalah saat dia selingkuh dengan seorang mantan enam tahun lalu. Dia akhirnya mengakui pada saya dan memutuskan si mantan itu.

Kira-kira empat bulan lalu: mantannya yang berbeda mengirim pesan di Facebook. Ini mantan terakhirnya sebelum pacaran sama saya. Terus dia sok-sokan bilang gini lagi: "Aku dan istriku poli kok."

Dia bertanya pada pacar saya apakah dia tertarik… pacar saya nanya ke saya. Awalnya, sih, saya gelisah. Tapi pas dia ngajak ngobrol soal ini, kami udah jarang ngewe. Jadi dia mulai memanipulasi saya lewat hubungan seks. Yang tadinya kami cuma ngewe seminggu sekali (itu juga kalau lagi hoki), tiba-tiba kami jadi ngewe sembilan kali sehari. Tit*t saya sampai nyeri selama tiga hari.

Iklan

Saya bilang gini ke dia, beberapa minggu sebelum dia pergi ke Vegas untuk menemui mantannya itu: "Eh, gimana kalau kamu ketemu aja sama dia, ngobrol-ngobrol, tapi enggak usah ngewe. Kayaknya aku gapapa deh kalau kayak gitu." Tapi abis itu dia malah ngasih blowjob gila-gilaan, sampai saya menyerah dan bilang, "Persetanlah, terserah kamu mau ngapain aja."

Dia pergi ke Vegas, mereka ngewe… selama itu dia juga mengabaikan saya. Ini bikin saya jengkel. Saya mabuk-mabukan dan mengirim chat jahat ke dia. Dia nyetir pulang ke rumah kami, tadinya janji mau seks anal seperti yang dia lakukan sama cowok lain itu. Eh, pas sampai rumah, dia malah bilang, "Kita putus ya. Tapi tetap bisa minta jatah kok." Saya sakit hati, tapi ya, yang penting tetap dapet jatah.

Dua minggu lalu, dia pergi lagi, selama dua malam. Lalu saya menyadari suatu hal: Mereka bakal terbangun di kasur yang sama. Selama 12 tahun terakhir, biasanya saya dan dia yang begitu. Jadilah saya tanya, "Mungkin enggak dia pulang pas malem-malem pas udah kelar, jadi kalian enggak bobo bareng?" Eh, lagi-lagi dia memanipulasi saya dengan hubungan seks. Saya manut deh.

Setelah drama berkepanjangan gara-gara kepergiannya itu, pas turun pesawat dia bilang mau udahan sama saya… Tapi untungnya, nih, istri pasangannya itu tiba-tiba males poli-polian jadi pacar saya dilarang berhubungan sama dia setelah itu!

Ya, kalau dilakukan secara etis, poliamori adalah hal yang indah… Tapi, pacar saya itu, emang cuma mau deket-deketan lagi sama mantannya itu. Dia melanggar batas-batas supaya bisa ngewe sama cowok itu.

Iklan

Bagian terburuknya adalah, sejujurnya nih, saya cinta banget sama dia untuk selamanya.

Menikah dengan Seorang Poli yang Dibesarkan di Keluarga Poli Andrea, 36

Saya mono, suami saya poli. Kami udah jalan bareng selama delapan tahun, nikah udah selama lima tahun. Dia sering pergi kencan dengan orang lain. Tapi, impiannya adalah berkencan dengan orang lain untuk jangka panjang. Kami selalu menggunakan istilah "untuk sekarang" dalam hubungan kami. Sepuluh tahun ke depan, mungkin jadinya dua orang. Ini adalah hubungan pertama saya dengan orang poli.

Saya tahu latar belakangnya dan dia dibesarkan di keluarga poli. Dia selalu bilang kalau dia bertemu dengan orang yang tepat, dia enggak perlu jadi poli. Itulah yang selama ini saya perkirakan. Pada akhir 2012, dia bilang ketemu seseorang pas naik gunung dan kayaknya menyenangkan kalau dia bisa ngajak cewek itu jalan. Tapi dia enggak melakukan itu karena kami belum punya kesepakatan. Awalnya, saya sedih banget. Hubungan kami jadi sangat sulit. Saya rasa itu adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan… Awal percakapan kita adalah, apapun yang dia lakukan, saya juga bisa melakukannya. Jadinya saya kepikiran, wah, sekarang saya harus mulai berkencan dengan orang-orang lain… Saya mulai mencari grup dukungan poli. Hal ini terkesan asing banget, seakan-akan mendengar orang bilang "Saya mau temenan sama anjing aja" atau apalah.

Dibutuhkan sembilan bulan sampai saya bisa menerimanya, dan setahun sampai aku bisa benar-benar tak terganggu lagi. Awalnya, saya bilang kalau saya enggak bisa berdamai dengan kondisi ini, kami harus berpisah karena saya ingin dia bahagia. Saya merasa bagian dari janji pernikahan kami adalah untuk menerima satu sama lain. Kalau saya enggak bisa menerima hal ini, berarti saya sudah melanggar janji itu. Jadi akhirnya, dibutuhkan usaha dari keduanya untuk bisa sampai ke sini.

Iklan

Dia baik sih, karena mau menjalani ini pelan-pelan. Pada tahun pertama, saya membiasakan diri dengan ngobrolin soal hal ini. Saya melakukan banyak riset. Tahun lalu, dia berhubungan dengan seseorang yang lebih serius. Ya, sebagian besar hubungan ini asik-asik aja sih. Tapi kadang saya juga jadi ratu drama.

Saya bilang begini pas bertemu dengan dia: Dia orang yang mandiri, enggak ribet, dan enggak tukang ngintil. Saya juga bukan orang seperti itu. Semua mantan saya, membutuhkan perhatian saya setiap saat. Sedangkan sama dia, saya merasa diinginkan tapi tidak dibutuhkan. Saya bisa melakukan kegiatan saya, dia melakukan kegiatannya, dan kami enggak perlu melakukan segala hal dan bersama setiap waktu. Ini menggembirakan sekali.

Menurut saya penting sih, bahwa orang yang poli memberikan orang mono waktu dan ruang untuk menyesuaikan diri, karena ini bisa menjadi proses panjang. Saya masih tidak paham poliamori sampai hari ini. Saya hanya menerimanya dan mengakui bahwa saya enggak cukup buat dia. Tapi, ya, saya enggak cukup bukan karena salah saya. Melainkan karena dia poli.

Momen Pengakuan Sebagai Poli dalam Pernikahan Mono Carrie, 38

Saya sudah menikah dengan suami selama tujuh tahun, dan tinggal bersama pacar saya selama dua tahun. Saya melela sebagai poli tak lama setelah bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi pacar saya. Saya memulai hubungan secara monogami. Jadi masalahnya adalah, kami enggak tahu soal poli-polian saat awal menikah. Nah pas saya ketemu pacar saya sebagai teman, saya baru mulai baca-baca soal ini. Itu bukan sesuatu yang saya yakini bisa dijalani dengan suami saya sih.

Tapi pas saya dan pacar saya semakin dekat, dia menjelaskan bahwa dia seorang poli, dan juga menjelaskan pada saya makna poliamori bagi dia. Baru deh saya ngeh. Meski demikian, suami saya seratus persen monogami.

Sewaktu saya menjelaskan hal ini ke suami saya, dia menangkap konsepnya dan tidak memiliki keberatan moril soal itu. Tapi entah bagaimana, dia tetap enggak bisa menerimanya. Dia bilang hal-hal terduga seperti "Kamu pasti enggak cinta sama aku" dan "Kenapa sih aku enggak cukup buat kamu?" Nah, karena ini bukan sesuatu yang dia inginkan, apalagi suka, dia enggak mau berurusan dengan ini semua. Yang mana menimbulkan masalah baru.

Suami saya punya masalah terutama soal tinggal bersama pacar saya, atau umumnya tinggal bersama siapapun. Saya tipe orang yang bakal senang tinggal serumah dengan semua teman akrab saya, jadi setiap pagi saya bisa melihat semua orang yang saya sayangi.

Sedangkan dia ingin privasi: cuma saya dan dia. Kalau saja kami sepakat soal konsep hubungan dan pengaturan tempat tinggal, hidup kami pasti lebih mudah. Tinggal berjauhan juga menimbulkan beberapa masalah, seperti saya ingin pakai baju A tapi ternyata tertinggal di rumah satunya, atau tidak bisa bermain dengan peliharaanku tiap hari.

Sekarang sih hubungan kami lancar-lancar saja, karena suami saya berusaha keras untuk menerima saya. Saya menjalani ini secara pelan-pelan, meski terkadang saya yang malah jadi gila karena berusaha mengakomodir perasaannya. Meski begitu, saya masih merasa terbatasi dengan kebutuhan-kebutuhan suami saya, dan penting juga saya merasa berjalan ke arah yang lebih tahan lama, dan yang membuat saya benar-benar bahagia. Saya merasa seperti bisa melihat kebahagiaan terbesar saya. Saya mau berlari secepat mungkin tapi dia meminta saya untuk pelan-pelan. Tapi kami akan mencoba terus, dan kalaupun kami gagal, kami akan menerima. Setidaknya kami sudah mencoba.