FYI.

This story is over 5 years old.

journalism

Narasi di Media Tentang #MeToo Ternyata Didominasi oleh Pria

Women’s Media Center menemukan bahwa dalam kurun waktu 15 bulan, 53 persen cerita kekerasan seksual ditulis oleh wartawan laki-laki.
Foto oleh MEM Studio/Stocksy 

Gerakan sosial sudah banyak bermunculan belakangan ini. Beberapa di antaranya berhasil menarik perhatian publik. Akan tetapi, kesuksesan suatu gerakan sering sulit diukur. Isunya memang ramai diperbincangkan di media sosial, tetapi kita baru bisa melihat seberapa besar dampak gerakannya jika melibatkan sebab dan akibat.

Women’s Media Center (WMC) merilis laporan #MeToo-nya dalam rangka memperingati satu tahun setelah diterbitkannya artikel The New York Times yang membeberkan berbagai tuduhan pelecehan seksual terhadap Harvey Weinstein. Laporan tersebut mengamati liputan pers dari 1 Mei 2017 hingga 31 Agustus 2018, lima bulan sebelum dan 10 bulan setelah pengungkapan kasus Weinstein yang memicu gerakan internasional yang mendorong korban pelecehan seksual untuk menceritakan pengalaman pribadinya ke publik.

Iklan

Lauren Wolfe, salah satu penulis sekaligus direktur WMC Women Under Siege, menganalisis tajuk, byline (nama penulis), dan artikel di lebih dari 15.000 konten berita dari 14 surat kabar ternama di Amerika, termasuk Chicago Tribune, The Washington Post, Los Angeles Times, dan Newsday.

“Kami membuat laporan kasus pemerkosaan di kampus pada 2015, dan seperti kekerasan seksual, kami mempelajari liputan media,” kata Wolfe kepada Broadly tentang awal mula penelitian mereka untuk laporan #MeToo. “Kami sudah mulai meneliti bagaimana media meliput kasus pelecehan seksual. Jadi [kasus Harvey Weinstein] mulai berlaku pada waktu itu.”

Bersama rekannya Eliza Ennis, media analyst dan data manager di WMC, Wolfe menemukan bahwa selama 15 bulan, 53 persen byline di berita kekerasan seksual adalah laki-laki, yang mendominasi di ruang pemberitaan. Para wartawan laki-laki inilah yang kemudian membentuk narasi media.

“Kami memang melihat perbedaan jumlah byline perempuan yang meliput kekerasan seksual dalam waktu beberapa bulan,” kata Wolfe saat menjelaskan bahwa byline perempuan enam persen lebih sedikit daripada laki-laki selama 15 bulan. “Yang menarik dari studi ini yaitu wartawan perempuan cenderung lebih sering berbicara dengan narasumber perempuan, tidak seperti wartawan laki-laki yang lebih banyak mewawancarai laki-laki.”

Beberapa hal menarik lainnya yang mereka temukan:

  • Nama Presiden Donald Trump lebih sering muncul daripada nama lain—baik di headline maupun ceritanya—dalam artikel pelecehan seksual. Trump muncul di 1.020 headline tentang kekerasan seksual. Sedangkan artikel #MeToo banyak mengaitkan Weinstein, yang namanya muncul 424 kali dalam periode yang sama dengan rata-rata 39 artikel sebulan.
  • Pada Oktober 2017, ada peningkatan jumlah wartawan perempuan yang menulis tentang kekerasan seksual (52 persen dari total byline), dalam kisaran waktu diterbitkannya artikel NYTimes. Ini menandakan bahwa wartawan perempuan berusaha lebih keras untuk meliput isu ini atau editor menugaskan liputannya ke mereka.
  • Media lebih banyak dikunjungi ketika membahas kasus kekerasan seksual yang melibatkan tokoh papan atas daripada orang “biasa.”
  • Kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan kulit berwarna jarang diliput, meskipun tingkat kekerasan seksual yang mereka alami lebih tinggi.
  • Jumlah liputan kasus pelecehan seksual saat ini 30 persen lebih tinggi daripada sebelum #MeToo pada Oktober 2017 di setiap kategori yang diamati (Hollywood, media, dan politik).
  • Pada Agustus 2018, bulan terakhir penelitian, 35 persen liputan kasus pelecehan dan kekerasan seksual secara keseluruhan memasukkan frasa “me too” atau tagar #MeToo.

“Rumornya ada wartawan laki-laki yang mendatangi kamp pengungsi di Kongo dan berseru, ‘Ada yang pernah diperkosa, gak?’” tutur Wolfe. “Saya enggak habis pikir kenapa ada orang yang melakukan itu. Tapi, masalahnya ini sering terjadi. Jurnalis melakukannya semata-mata untuk mendapat bahan tulisan.”

“Kamu harus memahami situasinya dulu. Ini berbeda dari sekadar wawancara politik atau apalah itu,” lanjutnya. “Kamu tidak bisa asal tanya. Harus peka supaya narasumber mau menceritakannya.”

Pada 2017, laporan WMC yang bertajuk “ The Status of Women in the U.S. Media” menemukan bahwa 86 persen staf redaksi di Amerika adalah pria berkulit putih yang mendominasi 55 persen dari keseluruhan media. Temuan terbaru mereka menunjukkan pentingnya inklusivitas di ruang redaksi dalam menceritakan kisah penyintas pelecehan seksual dan mengakui budaya pemerkosaan yang tersebar luas.

“Bagaimana mungkin kisahnya bisa disampaikan dengan baik apabila staf redaksi tidak melibatkan berbagai kalangan… orang kulit berwarna, perempuan, dan kelompok minoritas,” kata Wolfe. “Misalnya, kamu akan tertarik menulis isu LGBT karena kamu sendiri orang queer… Kamu mungkin akan lebih tertarik meliput kasus pemerkosaan kalau kamu perempuan dan juga pernah diperkosa,” katanya.