Kesehatan Mental

Diam-Diam, Ada Kecenderungan Psikopat Pada Diri Semua Orang

Camkan lima poin ini biar kalian bisa mengenali psikopat di sekitar kita—atau bahkan dalam diri kita
11.10.18
Ahmed Zid/Unsplash

Dalam sebuah serial BBC berjudul Killing Eve, Villanelle, seorang pembunuh psikopat dalam serial itu, memberitahu Eve, salah satu staf perusahaan keamanan, “Kamu enggak boleh sekali pun memanggil seorang psikopat dengan sebutan psikopat. Itu bisa bikin mereka keki,” Villanelle lantas manyun, menirukan bentuk bibir seseorang yang sedang ngambek.

Kebanyakan orang kelewat menyederhanakan definisi psikopat: seseorang yang tak punya perasaan. Kali lain, psikopat kadang digambarkan sebagai seseorang yang doyan menyiksa binatang saat masih kecil. Padahal, psikopat tak harus harus seperti itu. Nah guna menghindari kekeliruan akut dan agar kita bisa lebih jeli dalam mengenali seorang psikopat, berikut ini lima hal yang mungkin tak kalian ketahui tentang psikopat.

Iklan

Ada “Psikopat” dalam diri semua orang

Psikopati adalah sebuah spektrum, kita semua ada dalam spektrum tersebut. Jika kalian pernah merasa tak bersalah, enggan menunjukkan empati pada orang lain, atau pernah menggunakan pesonamu untuk mendapat apa yang kalian incar (dalam sebuah interview kerja misalnya), itu berarti kalian punya sifat-sifat psikopat. Atau kalian tak mengenal ketakutan dalam situasi tertentu dan kerap mengambil risiko yang besar—ini juga mengindikasikan bahwa tersembunyi sifat “psikopat” dalam diri kalian.

Tak Semua Psikopat “Gila”
Patrick Bateman dalam American Psycho dan Hannibal Lecter dalam Silence of the Lambs adalah gambaran paling umum seorang psikopat dalam budaya populer. Memang benar, kebanyakan pembunuh berantai adalah seorang psikopat, tapi mayoritas psikopat bukanlah pembunuh bayaran. Sekitar satu persen penduduk dunia adalah psikopat dan, percayalah, mereka bisa jadi anggota masyarakat yang produktif.

Ketidakmampuan mereka menunjukkan emosi tertentu—ketakutan atau kegelisahan—bisa menjadi modal bagi para psikopat agar tetap kalem di kondisi yang mengkhawatirkan. Sejumlah eksperimen menunjukkan bahwa psikopat memiliki respon kaget yang rendah. Jika ada orang yang mengagetkan kamu saat sedang tegang-tegangnya nonton film horor, kamu mungkin menunjukkan respons ketakutan yang berlebihan—intinya, kamu kaget setengah mati. Jika hal ini terjadi pada seorang psikopat, mereka akan tetap tenang dan anteng nonton film horor. Kemampuan ini tak selamanya buruk. Bagi seorang prajurit, dokter bedah atau agen rahasia, kelebihan untuk tak mudah kaget, panik dan takut jelas berharga.

Iklan

Seorang psikopat juga bisa sangat memesona dan mereka bisa dengan begitu percaya diri mengambil risiko, mengambil keputusan yang tegas, sangat mementingkan hasil dan bengis. Semua sifat ini sangat berguna bagi seorang pialang saham di Wall Street atau mereka yang duduk di dewan penasihat sebuah perusahaan dan anggota parlemen.

Psikopat lebih doyan nonton Sex in the City dibandingkan Little House on the Prairie .
Psikopat lebih mudah ditemui di wilayah urban. Mereka lebih memilih hidup dengan apa yang disebut para psikolog sebagai “fast life history strategy

." Pendeknya, para psikopat lebih tertarik menemukan pasangan seksual sebanyak-banyaknya daripada harus hidup dengan satu pasangan saja, menjalin hubungan seksual jangka panjang apalagi menjadi orang tua. Kecenderungan ini erat kaitannya dengan kebiasaan mereka mengambil risiko dan bersikap ingin menang sendiri. Selain itu, lingkungan pergaulan kota memberikan kesempatan seorang psikopat untuk memanipulasi orang lain. Kota juga mengizinkan seorang psikopat untuk bebas bertingkah tanpa takut kepribadian asli mereka terungkap.

Psikopat perempuan biasanya agak berbeda.
Kendati psikopat perempuan dan pria banyak memiliki kesamaan, beberapa penelitian menunjukan sejumlah perbedaan di antara keduanya. Misalnya, psikopat perempuan lebih rawan diserang kegelisahan, masalah emosional dan gampang dirayu melakukan hubungan seksual daripada psikopat laki-laki.

Iklan

Beberapa psikolog berargumen bahwa psikopat perempuan kadang terdeteksi mengidap personality disorder—indikasinya mereka susah mengatur emosi, kerap menunjukan respons impulsif dan bisa tiba-tiba marah. Ini menjelaskan kenapa kebanyakan penelitian menyimpulkan bahwa tingkat psikopat pada perempuan cenderung lebih rendah.


Simak dokumenter VICE yang membahas tentang poligami di Indonesia

Penelitian terbaru yang kami lakukan memperlihatkan bahwa psikopat perempuan cenderung memilih pasangan non-psikopat dalam hubungan jangka pendek. Bisa jadi, pasangan jangka pendek memang diperuntukkan sebagai “mainan” belaka dan dipilih agar mudah dimanipulasi. Sedangkan untuk hubungan jangka panjang, mereka memilih sesama psikopat.

Psikopat juga punya perasaan
Walaupun, psikopat kadang tak bisa merasakan emosi tertentu—seperti ketakutan, kegelisahan dan kesedihan—mereka pada dasarnya bisa merasakan emosi lain seperti rasa bahagia, terkejut dan kebencian. Jadi, kendati mereka susah mengenali tampang seseorang yang sedang ketakutan atau sedih serta tak kurang responsif terhadap ancaman dan hukuman, mereka tetap bisa mengidentifikasi paras wajah gembira dan merespons dengan positif bila diberi hadiah.

Bagi kita—yang kemungkinan besar bukan seorang psikopat, menang lotre sebesar sejuta rupiah saja sudah bikin kita berbunga-bunga. Namun, bagi para psikopat, jumlah hadiah yang diperlukan agar bisa bikin mereka senang kemungkinan jauh lebih tinggi. Dengan kata lain, mereka bisa merasa gembira dan termotivasi jika reward yang mereka terima juga tinggi. Tentu saja, seorang psikopat bisa ngambek, apalagi jika diprovokasi atau frustasi karena goal yang mereka incar gagal tercapai. Dengan demikian, apa yang dikatakan Villanelle ada benarnya: kita bisa menyakiti perasaan psikopat, tapi mungkin perasaan yang sangat spesifik dan karena alasannya tertentu pula.

Nadja Heym adalah dosen senior mata pelajaran psikologi di Nottingham Trent University. Artikel ini sebelumnya pernah tayang di The Conversation di bawah lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya di sini.