Mengingat Era Kejayaan Parma: Saat Mereka Masih Jadi Tim Elit Serie A
Gianluigi Buffon. Sebelum jadi kiper Juventus memulai karir di Parma. Foto: PA Images.
Sepakbola

Mengingat Era Kejayaan Parma: Saat Mereka Masih Jadi Tim Elit Serie A

Awal dekade 90-an, Parma bertransformasi dari sekadar tim gurem menjadi langganan juara kompetisi Eropa. Kejatuhan klub itu yang tragis menandai pula kemunduran mutu Liga Italia.
29.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Beberapa tahun belakangan, reputasi Serie A sebagai liga sepakbola papan atas dunia pelan-pelan membaik. Juventus dua kali menembus final Liga Champions (walau gagal menang) lima tahun terakhir, mengingatkan publik kalau tim jagoan Italia masih harus diperhitungkan. Padahal jika kita melihat satu dekade lalu, citra Serie A benar-benar di titik nadir. Tak terbayangkan klub-klub Italia mengalami krisis finansial, terganjal kasus calciopoli, hingga menderita penurunan jumlah penonton di stadion.

Iklan

Padahal selama akhir dekade 80-an hingga awal Abad 21, Liga Italia merupakan yang terbaik di seluruh Benua Eropa (serta dunia). Sepanjang kurun 1988-2000, sembilan kali klub Italia menembus final Piala Champions, sementara untuk final Piala UEFA lebih banyak lagi: 13 kali. Tim Italia juga menjadi kampiun Piala Winners (yang kini sudah dihapuskan) tiga kali berturut-turut, membuat siapapun segan pada kiprah klub Negeri Pizza. Klub Serie A membangun reputasi sebagai kawah candradimuka melahirkan sistem pertahanan terbaik dalam sepakbola, superioritas taktik, dan menumbuhkan bibit lokal Italia yang kelak menjadi pemain kelas dunia.

Perubahan situasi mulai terjadi di awal Millenium ke-3. Premier League dan La Liga mulai menyodok dalam hal popularitas. Sepanjang dekade pertama 2000-an, prestasi klub Italia di Eropa hanya ditopang oleh dua klub rival Kota Milan. AC Milan berhasil juara Liga Champions dua kali, menyelamatkan wajah persepakbolaan Italia kala itu. Jurnalis olahraga sedunia mulai mencium gelagat mengerikan, industri sepakbola Italia akan menuju resesi. Manajemen klub di Turin, Milan, Roma, atau Napoli sejak lama ditengarai kurang tertib mengelola keuangan. Ketika krisis finansial global menghajar perekonomian dunia pada 2008, anjloknya prestasi Serie A segera terbukti. Klub tak mampu menggaji pemain terbaiknya hanya dari pendapatan hak siar televisi. Penonton pun mulai ogah datang ke stadion, gara-gara skandal Calciopoli yang mengirim Juventus degradasi ke Serie B. UEFA lalu menurunkan koefisien Serie A hanya setara Liga Premeira Portugal. Tak ada lagi citra Liga Italia sebagai produsen taktik bertahan brilian. Pamor Serie A meredup.

Iklan

Dalam situasi berat Serie A itulah, kisah Parma pantas disimak lebih lanjut. Sebab, tak ada klub Italia lain yang menderita lebih parah dibanding Parma. Klub berjuluk 'I Gialloblù' itu sudah mengalami krisis internal, jauh sebelum Italia terperosok resesi ekonomi 2008. Masalah Parma, karenanya, bisa kita simpulkan sebagai persoalan kronis yang sebetulnya sudah menghantui Serie A sejak lama namun tak pernah ditangani serius. Parma adalah sinonim bagi disfungsi manajemen organisasi sepakbola Negeri Pizza.

Cerita tragis Parma dimulai ketika pada 2003, Parmalat—sponsor sekaligus korporasi pemilik saham terbesar klub—menyatakan bangkrut. Otoritas keuangan Italia menyatakan Parmalat ternyata memanipulasi neraca keuangan klub. Perusahaan sengaja tidak melaporkan nominal utang yang sangat besar ke investor, dalam rangka menerbitkan obligasi baru. Akibat keputusan manajemen, Calisto Tanzi—pemilik Parmalat yang berhasil membangkitkan klub gurem itu jadi raksasa sepakbola Italia—terpaksa mendekam di penjara atas pasal penipuan, pencucian uang, dan penggelapan pajak.

Kejatuhan Parmalat membuat klub diambil alih negara beberapa saat. Kala itu, BBC melaporkan bahwa klub dari Provinsi Emilia-Romagna ini sangat mungkin bubar. Persoalannya, fans Parma mayoritas adalah karyawan Parmalat, perusahaan yang bergerak di bidang produksi susu dan pangan olahan. Di kota itu, ribuan orang bergantung pada Parmalat, belum lagi peternak sapi perah. Mereka sama menderitanya dengan manajemen Parmalat ketika harus mengumumkan bangkrut. BBC menyatakan, "kekacauan finansial yang sedang dialami Parma saat ini membuat skandal keuangan Leeds United terkesan jauh lebih sepele."

Setelah pembenahan oleh auditor publik dan diawasi langsung Federasi Sepakbola Italia (FIGC), kondisi Parma agak membaik pada 2005. Namun upaya pemerintah menjual klub itu ke investor swasta selalu gagal. Barulah pada 2006, Tommaso Ghirardi, seorang pengusaha baja sukses, bersedia mengambil alih manajemen klub yang resminya bernama S.S.D. Parma Calcio 1913. Sebagian fans sempat berharap banyak pada kepemimpinan Ghirardi. Berselang setahun, utang-utang klub mulai dilunasi. Ada peluang Parma bisa kembali ke papan atas Liga Italia, setelah mereka terperosok ke Serie B pada musim 2007/2008. Apalagi di bawah asuhan Claudio Ranieri, Parma segera kembali ke Serie A. Klub ini bahkan sempat mencicipi posisi enam klasemen, artinya sah untuk melakoni kualifikasi Piala UEFA, di bawah asuhan pelatih Roberto Donadoni.

Iklan

Harapan itu jadi angan-angan kosong belaka. Setelah sempat stabil selama tiga tahun, Ghirardi ternyata meneruskan kebiasaan buruk manajemen sebelumnya, yang tidak mau jujur mengungkap kondisi keuangan Parma. Desember 2014, UEFA tak mengizinkan Parma bermain di Liga Eropa karena ada pajak yang belum dibayarkan. Ghirardi pun mengumukan mundur dari posisinya, sebagai bentuk protes atas keputusan otoritas sepakbola Eropa. Belakangan, baru ketahuan bila Ghirardi mundur bukan karena klubnya dizalimi UEFA. Dia ternyata meninggalkan utang lebih dari 200 juta Euro yang tidak terbayarkan. Itu jumlah utang swasta terbesar yang pernah dialami klub Italia. Gaji pemain mulai tidak dibayarkan, kreditur mulai gerah, dan aset-aset klub disita. Parma kembali menuju jurang pembubaran. Dalam situasi kacau itu, Giampietro Manenti mengambil alih kepemimpinan. Jurnalis Italia meragukan kapasitas sosok yang dikenal sebagai spekulator bisnis itu, menujuluki Manenti "manusia termiskin yang bisa kalian temui di Kota Parma."

Benar saja, Manenti segera ditangkap Kepolisian Italia atas kasus pencucian uang. Parma kembali menyatakan bangkrut. Tanpa ada sosok yang bisa mengisi posisi CEO, klub berjuluk I Crociati ini mengalami titik terendahnya. Parma Calcio 1913 akhirnya terperosok ke Serie D.

Cerita Parma adalah kisah mengenai bermacam kesalahan yang berujung pada kehancuran sebuah komunitas dan perusahaan. Kontras sekali dengan optimisme dan kebahagiaan yang dibawa oleh Calisto Tanzi, ketika sang konglomerat pertama kali memutuskan membeli klub di kotanya itu, menyulap mereka menjadi tim papan atas Italia. Parma dulunya sekadar klub gurem tingkat provinsi. Barulah ketika Parmalat menanamkan modal, klub punya cukup dana untuk menarik bakat-bakat terbaik, menembus puncak Serie C, mengobrak-abrik Serie B, lantas promosi ke Serie A pada 1990 setelah finish di posisi empat klasemen liga kedua.

Iklan

Semua keajaiban Parma itu bermula dari pemilihan sosok pelatih bernama Arrigo Sacchi pada 1985. Dengan pengalaman sepakbola profesional sangat minim, dan lama bekerja sebagai sales sepatu, Sacchi ternyata punya visi brilian dalam hal taktik sepakbola. Tak boleh sekadar mengandalkan catenaccio, klub menurut Sacchi wajib mengutamakan positional marking dan serangan kolektif lewat pressing ketat. Kombinasi serangan dan bertahan yang dinamis membuat Sacchi sukses membawa klub-klub gurem, misalnya tim yunior Fiorentina, meraih sukses. Parma memanen sukses besar di bawah arahan Sacchi. Tim Sacchi mengalahkan AC Milan dua kali di Coppa Italia, masing-masing dengan skor 1-0. Pemilik baru Milan, Silvio Berlusconi, akhirnya kesengsem, dan membajak Sacchi pada 1987. Kita tahu, cerita Sacchi di Milan berujung sebagai legenda, melahirkan salah satu tim sepakbola terbaik sepanjang masa.

Parma untungnya tidak anjlok ditinggal pergi Sacchi. Pelatih baru pun didatangkan, yakni Nevio Scala, untuk membantu mereka mengarungi Serie B. Manajemen Parma rupanya jeli memilih pelatih. Scala tak kalah ambisius dari Sacchi. Scala memfokuskan pembibitan pemain muda serta kebijakan transfer pemain potensial dengan harga murah. Kebijakan itu sekarang sudah sangat lazim, namun pada masa lalu jarang dilirik tim-tim papan atas. Tanzi mendukung sepenuhnya kebijakan Scala, membuat Parma segera menapak jenjang tertinggi Serie A, bahkan langsung jadi penantang kancah sepakbola Eropa, berbekal tim muda luar biasa.

Gianfranco Zola saat masih membela Parma melawan Benfica di Piala Winners. Foto oleh PA Images.

Scala membawa anak asuhnya sukses dua kali berturut-turut finish di posisi enam Serie A, dalam dua musim pertama partisipasi mereka dalam kasta tertinggi. Prestasi segera menghampiri Parma, pada Final Coppa Italia 1992, ketika mereka mengalahkan Juventus melalui sistem pertandingan dua leg. Jika kita memahami ukuran Parma pada awal 90-an, siapapun pasti bakal kagum. Cerita mereka jauh lebih heroik dibanding Leicester atau Nottingham Forrest. Bayangkan kalau kita bicara Liga Inggris, tim semacam Luton atau Notts County tiba-tiba merangsek ke kompetisi tertinggi mengalahkan Manchester United yang sedang kuat-kuatnya untuk meraih Piala Liga.

Tim utama Parma yang menjadi tulang punggung menapakai Serie B ke Serie A, lalu menjuarai Coppa Italia, bertumpu pada beberapa nama pemain bertahan berikut: Antonio Benarrivo, Lorenzo Minotti, Luigi Apolloni, dan Alberto Di Chiara. Keempat sosok tersebut segera dipanggil masuk Timnas Italia. Ujung tombak mereka adalah pemain asal Swedia yang eksplosif dan sangat terampil menembus berbagai lini, yakni Tomas Brolin. Tiga tahun kemudian, Brolin memilih hijrah dari Parma ke Leeds United yang segera membuat prestasinya meredup.

Iklan

Dengan tim muda potensial dan belum punya nama, tapi berhasil meraih prestasi mentereng, Parma segera meraih simpati dari berbagai kalangan pecandu sepakbola. Parma seakan tak dapat dihentikan, setelah mereka pada 1993 menjuarai Piala Winners mengalahkan Sparta Praha dan Atletico Madrid pada babak awal, lalu di final menjungkalkan Royal Antwerp. Parma bahkan sukses menundukkan AC Milan pada 1994, untuk meraih European Super Cup. Padahal tim yang mereka kalahkan adalah Milan yang belum lama menggebuk Barcelona 4-0 dalam final Piala Champions di Athena.

Perjalanan luar biasa l Crociati di kancah Benua Biru baru berakhir setelah mereka kalah di Final Piala Winners melawan Arsenal pada akhir musim 1995/1996 akibat gol voli indah Alan Smith. Kekalahan itu cukup menyakitkan bagi Parma, mengingat manajemen di awal musim sudah merogoh kocek cukup dalam mendatangkan duet penyerang Faustino Asprilla dan Gianfranco Zola ke Stadion Ennio Tardini. Keduanya digadang bisa menyokong klub mengarungi ketatnya kompetisi teratas Eropa.

Lambat laun, posisi Parma mulai terbentuk, mereka rutin mengisi posisi atas Serie A namun selalu kekurangan bahan bakar untuk memperebutkan scudetto. Kesempatan emas sempat datang pada musim 1996-1997. Sayang, Parma harus mengakui keunggulan Juventus yang dilatih Marcello Lippi dengan selisih dua poin saja di klasemen. Pada musim itu, menyusul anjloknya prestasi duo Milan, Parma sempat menjadi rival utama Juventus di Serie A.

Iklan

Setidaknya, Parma sudah menorehkan catatan emas. Klub gurem tingkat provinsi yang berhasil mengejutkan Eropa, lalu menabalkan status sebagai tim unggulan di kasta tertinggi Liga Italia. Parma pada masa itu disukai dan dihormati banyak tifosi Italia, dari manapun kota mereka. Sebab, kesuksesan Parma dianggap hasil dari kerja keras dan pemanfaatan taktik jitu, bukan sekadar memanfaatkan uang. Parma tidak pernah dicibir seperti Manchester City atau Chelsea beberapa tahun ini, walau konglomerat besar Parmalat memasok dana melimpah untuk klub. Parma bahkan menikmati status underdog selama panen raya prestasi di dekade 90-an.

Banyak penggemar sepakbola mungkin sudah lupa, namun di Stadion Ennio Tardini, kita menyaksikan pertama kali debut kiper muda yang akan melegenda: Gianluigi Buffon. Dia dimasukkan tim inti setelah menghuni tim yunior dengan wajah sering gugup dan rambut belah tengah yang norak untuk ukuran sekarang. Berjaga di depan Buffon, ada pemain muda Parma lain yang nantinya membawa Italia menjuarai Piala Dunia pada 2006, yaitu Fabio Cannavaro. Saat itu Cannavaro masih gemar memakai bandana karena rambutnya gondrong (bertahun-tahun kemudian dia selalu menggunduli kepalanya). Parma bahkan berhasil merekrut gelandang bertahan mumpuni, dalam sosok Lilian Thuram. Pada 1998, Thuram menjadi motor timnas Prancis merebut Piala Dunia.

Ketiga nama itu pada pergantian abad akhirnya dibajak oleh Juventus. Tifosi Parma tentu saja kecewa melihat pemain andalan mereka hijrah ke klub rival di Turin. Namun di sisi lain, fans masih optimis mengingat rekam jejak Parma merekrut atau menghasilkan pemain muda pilih tanding. Satu hal yang mereka tidak pernah tahu, di balik progress luar biasa klub, neraca keuangan Parma sebetulnya defisit parah.

Bek legendaris Italia, Fabio Cannavaro (kanan) memulai karir di Parma. Foto oleh PA Images.

Sebelum dibajak Juventus, titik prestasi tertinggi Parma sepanjang sejarah adalah musim 1999. Trio Buffon, Cannavaro, dan Thuram berhasil membawa klub menjuarai Piala UEFA dan Coppa Italia di tahun yang sama. Parma meraih reputasi global setelah mendatangkan duet pemain Argentina berbahaya dalam sosok striker Hernan Crespo dan gelandang Juan Sebastian Veron di awal Abad 21. Kesuksesan di atas lapangan selama satu dekade, rupanya membuat ego Calisto Tanzi tak terbendung. Dia mulai tak disiplin mengelola keuangan. Tanzi mengizinkan klub membelanjakan banyak uang, namun dia alpa memikirkan aspek pemasukan dan skema pembayaran utang. Parmalat memang masih sangat sehat, Tanzi juga dipuja warga Kota Parma sebagai pahlawan, namun bayang-bayang kejatuhan mulai merayap mendekatinya.

Prestasi terakhir yang bisa diraih Parma adalah akhir musim 2002/2003. Parma, saat itu diperkuat oleh pemain kelas dua seperti Alain Boghossian, Stephen Appiah, dan Hakan Sukur berhasil mempecundangi Juventus di Final Coppa Italia. Tifosi Parma berbahagia, menyaksikan Thuram dan Buffon hanya dikalungi medali runner up. Sebuah balas dendam yang manis, setelah rasa sakit hati membuncah melihat pemain yang dibesarkan klub menyeberang ke Juventus yang melambangkan semua konservatisme Italia. Sayang, itulah saat terakhir tifosi Parma bisa memandang bangga pada klubnya. Setahun setelah final Coppa Italia itu, Tanzi menggelar jumpa pers mengejutkan, mengumumkan kebangkrutan klub akibat kondisi keuangan Parmalat yang kesulitan membayar utang-utang kepada kreditur eksternal.

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, kejatuhan Parma adalah perlambang merosotnya Liga Italia secara umum. Tak hanya Parma sebetulnya klub yang berlebihan membelanjakan uang tanpa perhitungan jeli, berujung pada krisis keuangan yang membuat mereka sulit keluar dari kubangan paceklik prestasi. Milan, Sampdoria, Lazio, dan Fiorentina akan menyusul sekian tahun kemudian. Padahal nama-nama itu, termasuk Parma, sempat dinobatkan media sebagai jajaran 'il magnifico sette' (The Magnificent Seven), para kandidat kampiun Serie A selain Juventus dan punya peluang menjuarai kompetisi Eropa. Di Indonesia, Parma bahkan memiliki fansclub resmi yang loyal dengan jumlah anggota terbesar sedunia setelah Kota Parma sendiri. Para fans tetap setia, kendati klub sempat dijual dengan harga 1 Euro (setara Rp14 ribu saja) saat kebangkrutan kesekian kalinya terjadi pada 2015 lalu.

Empat tahun terakhir, seiring membaiknya kondisi Serie A, Parma mulai berbenah dari jurang terdalam Serie D. Angin perubahan berembus di Stadion Ennio Tardini. Dua musim lalu, Parma akhirnya sukses lepas dari kasta terbawah liga sepakbola semi amatir. Musim lalu, I Crociati berhasil mengalahkan Alessandria dalam playoff Serie C, sehingga berhak tampil di Serie B untuk musim 2017/2018. Sejauh ini, manajemen klub belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan menarik investor berkocek tebal. Artinya, masih jauh bagi tifosi Parma untuk berharap perfoma klub bisa menyamai prestasi era 90-an. Namun peluang itu masih ada. Parma pernah meraih kejayaan yang sulit dinalar akal sehat, yang bisa menjadi motivasi bagi para pemain dan offisial klub untuk berkaca pada kondisi sekarang. Tak ada alasan untuk berhenti percaya pada keajaiban.