Sepakbola

Nelangsanya Nasib Ketika Dirimu Tak Becus Main Sepakbola

Aku merasa kesepian karena merasa berbeda dari teman-teman lain. Satu saja yang membuatku optimis, manusia pasti mati. Setidaknya, jenazah juga tidak becus main bola sepertiku.
29.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Aku punya memori jelek yang susah banget dilupakan: waktu itu aku masih kelas empat. Jadi umurku baru sembilan tahun tahun. Pertandingan sepakbola yang aku ikut hampir mencapai puncak. Ibu penjaga kantin sekolah sudah membunyikan bel tanda pertandingan tinggal 5 menit doang. Alhasil, semua tahu ini adalah menit-menit menentukan dalam pertandingan kami jalani. Entah karena alasan apa—aku sudah lupa, timku dapat hadian penalti. Karena alasan yang aku juga sudah lupa, aku yang ditunjuk jadi algojo. Jika kebanyakan anak lelaki bermimpi jadi pesepakbola profesional, maka sah-sah jadi kalau kita punya asumsi bahwa setelah karir sepakbola berakhir, mereka bakal masuk bagian manajemen klub yang mereka bela. Asumsi ini rupanya sudah jadi rahasia umum. Buktinya, beberapa saat sebelum aku menyepak bola di titik penalti, Kenny, Nima, Ashley dan semua anak lainnya yang ada di timku bergantian memberiku ceramah tentang cara menendang yang baik dan benar. Satu persatu mereka mengerumuni aku. Pundakku berkali-kali ditepuk seolah mereka. Berkali-kali juga mereka menunjuk tembok sekolah yang ujungnya mulai ditumbuhi lumut di depanku. Tembok itu tak kosong melompong. Ada Jasper—ya Jasper yang mirip raksasa dengan kepalanya yang segede gaban dan tangannya yang mirip tangan Hulk pakai sarung tangan kiper—yang meloncat-loncat pelan, pikirnya mungkin seperti kiper profesional. Kembali ke rekan-rekanku, mereka masih terus memenuhi kupingku dengan trick bikin gol dari titik penalti "Nendangnya pakai bagian pinggir kaki ya," "Jangan lihat ke arah kamu nendang," "Lari dulu, bikin gocekan dikit terus tentang lurus ke mukanya." Aku cuma diam. Mereka akhirnya memberikan sentuhan terakhir di pundakku, ngasih nasihat terakhir dan mulai menjauh untuk memberi aku ruang. Setelah itu mereka cuma nonton: badan mereka condong ke depan, lengan tangan mereka lurus di samping badan, telapak tangan mereka meremas paha dan mulut mereka mengunyah permen karet. Intinya tetap sama: nonton doang! Dalam suasana yang tiba-tiba hening, aku maju dan berusaha melakukan semua anjuran semua rekan timku. Artinya, aku harus berusaha melakukan 30 hal sekaligus dalam hitungan detik. Akhirnya aku menarik mundur kaki dan menendang ke depan. Sementara bola—si bola bangsat itu—cuma ndlosor menyusuri permukaan lapangan sekitar satu meter dari gawang. Si Raksasa Jasper itu bahkan tak harus berbuat apapun untuk mengamankan gawangnya. Dia cuma ngejedog doang di tengah gawang. Iya sih dia gerak. Tapi paling cuma seinci terus berhenti. Ngejedog lagi. Setelah itu, tawa meledak. Dan ini bukan tawa biasa. Pokoknya, ini macam tawa ngeselin yang bakal kamu kenang seumur hidup. Ya gimana enggak, aku diketawain satu sekolahan. Tak satupun temanku yang mau menatapku: mereka sedang asik-asiknya lari kesana-kemari, sambil ngakak merayakan bahagianya tak jadi "algojo penalti konyol macam aku." Bel kedua berbunyi dan semua orang beringsut ke kelas. Sementara aku? Jelas hancur jadi debu.

"Hanya karena sepakbola adalah sebuah bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata, bukan berarti ini bahasa yang bisa digunakan semua orang."

Aku enggak anti sepakbola. Banyak orang malah bangga enggak karena enggak "ngikutin sepakbola". Biasanya, manusia macam ini punya alasan sendiri—yang kalau dipikir-pikir dibuat-buat doang seperti "Ha! Aku mah goblok kalau main bola. Nendang aja enggak lurus. Lagian, enakan nonton Games of Thrones daripada nonton Liga Champions." Setelah berpikir keras, aku yakin aku berada di dalam 30 persen ranking terbawah pria dewasa. Tentu saja aku gak bego-bego amat. Aku bisa berlari dengan bola, asal gak ada yang berusaha menekelku, dan aku bisa memberikan operan lurus dengan baik. Inget ya tapi, total rekor jumlah jugglingku adalah empat kali. "Trik" terbaikku adalah mengepit bola di antara kaki dan meloncat. Aku bermain sepakbola seperti orang yang habis ngelinting ganja tiga jam kemudian diberikan celana olahraga yang ukurannya terlalu besar. Aku gak bego-bego amat, cuman pikiranku emang gak pernah fokus di lapangan. Banyak pemain sepakbola internasional sering mengatakan "sepakbola adalah bahasa universal", biasanya dilontarkan oleh pemain asing dalam wawancara pertama mereka dengan media Inggris ketika mereka baru dibeli klub Premier League. Padahal sudah jelas maksud mereka itu apa: Aku gak bisa berbahasa Inggris, tapi ini gak penting, karena aturan sepakbola tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata, jadi siapapun yang mengerti peraturan olahraga ini bisa berkomunikasi tanpa peduli bahasa. Ada sisi lain dari ungkapan ini. Hanya karena sepakbola adalah sebuah bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata, bukan berarti ini adalah bahasa yang bisa digunakan semua orang. Aku bisa mempelajari bahasa Mandari kalau mau. Tadi gak semua orang bisa mempelajari sepakbola. Tidak di umur segini. Percaya deh, aku udah nyoba. Sepakbola itu bukan bahasa universal, tapi lebih seperti bahasa Latin aneh yang tidak pernah aku pelajari.

Penulis artikel ini berfoto pakai satu-satunya medali yang pernah dia menangkan. Menyedihkan.

Ini semua salahku tentu saja. Ketika masih kecil, aku tidak menghiraukan sepakbola selama delapan tahun, antara umur 9 dan 17. Aku sempat bermain untuk klub amatir mingguan sebelumnya, dimana ak pernah memenangkan medal "Most Improved Player", namun ketika abad 21 bergulir, aku kehilangan kesabaran dan berhenti bermain. Aku tidak pernah membiarkan skillku, tidak peduli betapa terbatasnya, untuk berkembang dan diingat oleh otot tubuh. Aku mengembangkan kosakata dasar dan sedikit struktur kalimat, sebelum akhirnya mengabaikan sepakbola sama sekali. Sekarang, bahasa sepakbolaku gak karuan deh. Kamu bisa melihat kakiku berusaha membentuk kata-kata—mereka tau seperti apa free kick yang baik—tapi yang mereka bisa lakukan hanyalah versi kacrutnya.

Aku sempat mencoba berlatih sepakbola lagi akhir-akhir ini. Tahun lalu, ketika kami menyadari pindah ke South East London, sekelompok teman-teman lama dari Bristol bergabung dengan sebuah liga mini—lima orang satu tim—di Peckham. Kami semua berumur 20an dan dari kami semua, aku yang terlihat paling sehat. Aku rajin jogging dan teman-teman serumah hobinya makan dua potong pizza tujuh inci untuk makan malam. Mestinya aku aman dong? Ternyata setelah memainkan pertandingan pertama, jawabannya tidak.

Iklan

Bukannya fisikku enggak kuat lho ya. Aku enggak kehabisan napas; lebih kayak aku stuck di video musik awal 2000an. Ada perasaan seperti ngebut-ngebutan, ada lampu-lampu melewatiku, dan berjalan melewatiku dengan pita-pita sementara aku terdiam menghadap kamera. Semuanya beroperasi dengan pikiran sendiri, saling mengirim sinyal penuh presisi tentang antisipasi. Mereka tak hanya tahu apa yang harus dilakukan saat memiliki bola, mereka juga tahu apa yang harus dilakukan saat tidak menggiring bola, mereka segera berlari ke arah X merah. Aku kebingungan. Supaya enggak kehilangan muka, aku menawarkan jadi kiper selama lima menit. Dalam dua menit pertama, aku kebobolan tiga kali. Beberapa menit selanjutnya, aku diganti.


Baca juga seri artikel sepakbola dengan perspektif unik dari VICE:

Skornya makin parah aja. Selama minggu-minggu berikutnya, kami merotasi pemain, sebuah pola muncul: ketika aku main, kami kalah; ketika aku enggak main, kami menang. Lebih parahnya lagi, semua temanku ngeh soal ini. Perlahan-lahan, lawakanku soal mau keluar ditanggapi dengan kesunyian menyepakati. "Kamu tetep main ke pub lah abis ini," katanya setelah permainan terakhirku di lapangan hijau.

Pada mulanya, aku iri dengan kemampuan mereka, tapi aku rasa bukan itu deh. Aku enggak mau jadi lebih baik dari mereka, aku cuma mau sejago mereka. Aku mau bisa gabung, bisa dianggep. Rasanya kayak nonton video lucu dan merasa datar sementara orang lain ngakak. Sebuah dunia penuh kenikmatan yang terjadi di depanku dan sekitarku, tapi aku terpisah. Aku di sana tapi enggak juga. Ini adalah sesuatu yang ada dalam semua orang—ketika sebuah obrolan berubah menjadi sesuatu yang tidak kita pahami sama sekali, ketika kita kesulitan mengatakan sesuatu yang lucu tentang berita di Twitter, ketika Richard Blackwood diminta untuk memarut lemon, dia beneran pengin tahu hal-hal paling mendasarnya. Kami enggak benci sama orang-orang yang bisa, kami hanya berharap kita bisa sejago itu. Seperti sebagian besar hal yang merusak masa kini, ini adalah permasalahan historis sebenarnya. Lebih dari apapun, aku harap aku punya waktu untuk berlatih. Coba dulu aku meluangkan waktu buat berlatih bola alih-alih baca mitologi aneh. Mungkin alasan payah main bola membuatku sangat sedih karena aku tahu aku enggak akan bisa lebih jago. Seperti orang pensiunan yang terjebak di toko Apple ngeliatin layar Macbook, terlambat. Aku enggak ngarep bisa dimengerti sih. Harapan terbaikku adalah menjadi tua. Makin renta diriku, maka semakin baik nasibku. Suatu hari kita semua akan menua dan semua orang akan berakhir di kursi roda. Saat itu, enggak ada lagi orang yang bisa pamer kehebatan main bola. Lalu setelah itu, suatu hari, semua temenku—dan juga aku—akan mati. Itulah gol penyeimbang sesungguhnya. Soalnya aku yakin semua manusia jadi ga becus main sepakbola saat sudah jadi mayat.