Film

George Romero Pelopor Film Zombie Wafat

Sutradara franchise film legendaris 'Night of the Living Dead' itu meninggal di usia 77.
18.7.17
Foto via Wiki Commons

Sutradara legendaris yang menggagas genre film zombie, George Romero, wafat 16 Juli lalu. Dia meninggal setelah berjuang melawan kanker paru-paru di usia 77. Romero dikenal sebagai master horor modern. Melalui film dalam seri Living Deads, Romero memberi cetak biru genre zombie seperti yang kita kenal saat ini.

Layaknya sineas kenamaan lainnya, Romero memulai karirnya sebagai sutradara komersial. Pekerjaan pertamanya sebagai seorang sutradara adalah menggarap segmen acara anak-anak Mr Rogers' Neighbourhood. Semasa hidup, Romero sering berkelakar bahwa film terseram yang pernah dia garap adalah episode serial anak-anak tersebut saat membahas operasi amandel.

Iklan

Sejarah membuktikan, nama Romero harum berkat zombie. Romero menggarap film klasik penting dalam karirnya, yakni Night of the Living Dead di Kota Pittsburgh dengan budget hanya sebesar US$114.000 (setara Rp1,5 miliar). Beredar pada 1968, film ini berhasil mengeruk penjualan tiket sebesar $30 juta (senilai Rp399 miliar) dan melahirkan genre film zombie modern. Romero bersama penulis skenario John Russo mengambil elemen terbaik dari film horor klasik lalu mengubahnya menjadi sebuah simbolisasi baru yang sesuai dengan ketakutan yang tengah mewabah akhir dekade 60-an. "Aku cuma mengambil zombie-zombie ini dari film "Exotica" dan memasang mereka sebagai tetangga," ujar Romero tentang monster yang membuka karir filmya. "Waktu itu aku cuma berpikir: enggak ada yang lebih menyeramkan dari tetangga kan?"

Night of the Living Dead muncul tepat ketika mimpi-mimpi khas Amerika Serikat mulai membusuk. Momentum sesudah Perang Dunia II dan harapan yang tumbuh dari gerakan generasi bunga yang cinta damai di 60-an menguap bersama demonstrasi mahasiswa, terbunuhnya Martin Luther King Jr dan Bobby Kennedy, serta awal-awal persiapan Perang Vietnam. Dengan konteks seperti ini, karya Romero mengambil peran sebagai sebuah karya satir spekulatif. Night of the Living Dead adalah sebuah film berdana cekak dengan skenario yang ditulis secara jitu, yang mengisahkan seorang profesional muda kulit hitam (diperankan oleh Duane Jones) berusaha melawan neurosis dan histeria kaum kulit putih di komunitasnya sembari memerangi sepasukan zombie. Adegan penutup film ini—ketika (maaf spoiler!) Jones jadi korban "salah tembak" regu polisi pembasmi zombie—masih menjadi salah satu scene ironis paling kuat dalam sejarah perfilman dunia.

Night of the Living Dead adalah sebuah karya monumental yang menahbiskan Romero sebagai Mr Zombie. Tiap episode dalam serial film panjang zombie menjadi semacam sindiran menohok bagi kehidupan kontemporer ala Negeri Paman Sam: perjuangan anti konsumerisme melawan masyarakat yang dibutakan oleh ketamakan, korporasi raksasa, hingga prasangka buruk terhadap mereka yang asing. Dawn of the Dead, dirilis tahun 1978 dan dikatakan sebagai film paling penting dalam franchise Living Dead, memuat karakter yang berjuang untuk menyelamatkan diri dalam sebuah bangunan mal yang kosong. Semenatra Day of the Dead, beredar 1985, merupakan penggambaran masam tentang sebuah kompleks militer yang getol berjudi dengan nyawa manusia.

Iklan

Romero adalah nabi yang mengabarkan kebusukan Amerika melalui alegori. Sebagian besar syuting film Romero dilakukan di Pittsburg, kawasan yang paling tepat untuk menggambarkan membusuknya "American Dream". Pada akhirnya, lewat franchise Living Deads, Romero unjuk kemampuan sebagai maestro film horor sekaligus menempeleng muka korporasi raksasa buta yang tak mau peduli pada masyarakat (dan film-film gubahannya).

Kendati Night of the Living Dead sukses besar , Romero kewalahan mendanai proyek-proyek filmnya setelah itu. Image Ten—perusahaan produksi film milik Romero—bekerja dari sudut pandang orang luar. Akibatnya, film-film besutan Romero punya ciri khas: juara secara artistik tapi jeblok di box office. Dua film karya Romero yang beredar tahun 1973, Season of the Witch dan The Crazies sempat mengalami kendala saat mencari distributor kendati jelas-jelas memamerkan sentuhan brilian khas Romereo.

Romero tetap menjadi ikon cult karena keukeuh menolak mengadopsi selera industri film di zamannya. Sebagai pencipta genre paling menguntungkan dalam sejarah sinema, semestinya Romero bisa bikin film Zombie yang tak politis-politis amat sampai pensiun dan menumpuk kekayaan dari sistem yang selama ini dia cerca.

Sebaliknya, perjalanan karir Romero penuh eksperimen berani yang konsisten. Martin adalah salah satunya. Film yang dilepas pada 1978 merupakan intepretasi pascamodern atas cerita cinta vampir hasil kolaborasi dengan maestro film gore, Tom Savini. Sayang, karya kesayangan Romero ini dinilai terlalu sadis hingga disita dan dilarang beredar di Inggris.

Iklan

Film-film Romero lain di luar pakem zombie adalah Knightriders—sebuah tentang olah raga jousting di atas sepeda motor— dan kolaborasi briliannya dengan Stephen King, Creep Show. Bruiser yang beredar di bioskop tahun 2000 menandai kembalinya Romero ke kancah perfilman setelah menghilang tujuh tahun lamanya setelah membesut The Dark Half di tahun 1993. Bruiser seperti film Romero lainnya membawa kengerian yang khas sutrada film kelahiran Bronx ini.

Pengaruh Romero melampui karya-karya dan medium yang dia gunakan. Pengaruh Romero sangat kentara dalam film besutan John Carpenter, Sam Raimi, Quentin Tarantino, Guillermo Del Toro, Jonathan Demme (Romero muncul sebagai kameo dalam Silence of the Lambs), Eli Roth, Zac Snyder (yang bekerja sama dengan Romero saat menggarap remake Dawn of the Dead remake) dan banyak sutradara lainnya. Romero menciptakan sturktur dan ritme salah satu genre paling populer dalam sejarah film. Lebih dari itu, pengaruh Romero juga merembes di luar film horor—bebas bergentayangan dan hinggap dalam budaya populer yang kini kita kenal.

Romero bangga mendapati pengaruhnya menyebar ke segala penjuru. Dia bekerja sama dengan pembuat komik dan videograme yang menggarap genre zombie, karena dia menghargai rasa hormat mereka pada dirinya. Meski demikian, dia pernah mencecar The Walking Dead, serial TV populer yang berutang banyak pada karya-karya Romero, sebagai "opera sabun yang kadang-kadang ada zombienya."

Terlepas dari nama besar yang disandangnya, Romero terkenal sebagai pribadi yang dari sononya rendah hati. "Tiap orang bertanya pada Stephen King tentang perasaannya ketika melihat buku-bukunya dirusak adaptasi Hollywood. King enteng menjawab 'Buku-buku saya enggak rusak kok, wong masih tetap utuh di rak buku di belakang saya.' Aku juga merasakan hal serupa. Karyaku akan tetap jadi karyaku. Kadang ada yang jeblok, atau tak sesukses yang lainnya. Tapi tetap saja, semua itu adalah karyaku."

Romero mengembuskan napas terakhir dikelilingi sanak keluarganya, sambil diiringi score film-film western besutan John Ford keluaran 1952—benar-benar cara berpulang seorang pecinta film sejati.

Follow Patrick di Twitter