Imlek

Memahami Alasan Kenapa Uang, 'Mobil', Hingga 'Rumah' Dibakar Saat Imlek

VICE bertanya pada anak muda Indonesia yang merayakan tahun baru Cina tentang makna beberapa tradisi dan kepercayaan leluhur, supaya kita memahami tradisi klasik Tionghoa ini.
16.2.18
Foto prosesi pembakaran uang untuk leluhur saat Imlek oleh Arzia Wargadiredja.

Imlek selama delapan belas tahun terakhir selalu dirayakan meriah di Indonesia. Kita makin terbiasa menyaksikan atraksi barongsai, bakar petasan, mengucapkan ‘gong xi fa choi’, atau melihat teman-teman Tionghoa berbagi angpau.

Penduduk Indonesia, khususnya dari etnis Tionghoa, akhirnya memiliki keleluasaan untuk merayakan tradisi leluhur. Kita tidak boleh lupa, selama lebih dari tiga dekade, semua bentuk budaya Tionghoa dilarang muncul ke ruang publik oleh Orde Baru. Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 adalah beleid yang rasis. Akibat Tragedi G30S, orang-orang Tionghoa di Tanah Air turut mengalami diskriminasi. Mereka dicurigai rezim tidak setia pada republik, dan punya kedekatan dengan Republik Rakyat China. Warga etnis Tionghoa diwajibkan melakukan “asimilasi” supaya menjadi warga Indonesia “seutuhnya.”

Iklan

Dalam inpres tersebut, disebutkan semua jenis budaya asli Tiongkok, baik itu perayaan Imlek, barongsai, ataupun aksara Cina harus diatur kemunculannya di ruang publik, atas dasar "dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental, dan moril yang kurang wajar terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses asimilasi."

Semua diskriminasi itu berakhir berkat Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 Indonesia. Presiden akrab disapa Gus Dur itu secara spontan mencabut larangan ini menyambut perwakilan Tionghoa di Istana Negara.

"Waktu itu, kami ngobrol sambil berjalan mengelilingi Istana. Gus Dur lalu bilang, oke, Imlek digelar dua kali, di Jakarta dan Surabaya untuk Cap Go Meh. Kaget juga saya,” kata Sekretaris Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Budi Tanuwibowo seperti dilaporkan Harian Kompas.

Ketika dijelaskan oleh Budi kalau ada hambatan Inpres, Gus Dur menjawab singkat. “Gampang, Inpres saya cabut.”

Dari berbagai jenis ekspresi kebudayaan saat Tahun Baru Cina yang sudah dikenal, semisal barongsai atau angpau, ada satu hal yang jarang sekali disorot. Yaitu kebiasaan membakar benda-benda dan uang kertas mainan untuk arwah leluhur. Banyak keluarga Tionghoa di Tanah Air yang terus merawat tradisi tersebut. Bahkan, obyek yang dibakar pun unik sekali. Mulai dari mobil sampai rumah—tentu saja semuanya sekadar replika kertas.

Untuk lebih memahami makna dari tradisi bakar-bakar tersebut, VICE menghubungi tiga millenials Tionghoa yang tumbuh besar dengan kebebasan merayakan Imlek di Indonesia. Kami meminta mereka menjabarkan makna Imlek, tradisi leluhur, serta alasan mereka senantiasa bahagia tiap datang Tahun Baru Cina.

Iklan

STEFANIE SETIAWAN

VICE: Halo Stefanie, ritual penting apa aja sih yang dilakukan keluargamu pas imlek?
Stefanie Setiawan: Kalau menjelang imlek, harus beli smua baru baju, pakaian dalam, seprai, potong rambut #lebay. Terus ada sembayang leluhur, itu ada meja abu sama kita kirimin apapun yang kita mau untuk leluhur lewat pembakaran, hehe.

Kamu beli semua baju, pakaian terus potong rambut itu apa alasannya?
Lagi lagi jawabannya supaya dapat rejeki/hoki baru. Buang sial.

Kalau ngirim barang sama leluhur lewat pembakaran, apa saja yang dikirim biasanya? Selain uang kertas ada lagi yang dibakar?
Biasanya aku kirim barang replika yang dijual di toko sembayang. Pernah [membakar] koper isi baju sepatu belt terus beli emas batang, beli mobil dan supirnya, kadang pas iseng kirim hape, alkohol, kopi, rokok, bisa kirim [replika] tv radio juga. Uang cina perak dan emas itu pasti, uang lembaran hell bank note juga pasti. Terus makanan yg di meja abu itu ikut dibakar, nasi + lauk sama arak putih. Itu artinya ngirim makanan yang disukain sama kakek.

Kalau khusus buat pembakaran hadiah untuk leluhur itu biasanya beli di mana yah? atau bikin sendiri?
Aku biasa beli di Kelapa Gading. Carinya gampang kok, soalnya masih banyak yang ngejalanin tradisi. Biasanya bisa dicari di Muara Karang, Glodok, dan Kelapa Gading. Imlek sering banget diidentikan sama hujan. Memang hubungannya apa sih? Apakah itu di Indonesia aja atau di seluruh dunia Imlek pasti identik dengan hujan?
Itu kepercayaan orang Tionghoa aja, bahwa apapun disertain hujan tandanya baik, banyak hoki. Mau imlek, nikahan atau acara apapun. Ditambah Imlek mostly jatuhnya Januari atau Februari, emang lagi musim hujan di Indonesia. Karena pas musimnya aja sih. Katanya kalau pas imlek enggak boleh nyapu rumah ya? Bener gak tuh?
Itu si kata leluhur mitosnya kalo nyapu pas imlek buang rejeki. Tapi ibuku sih nyapu-nyapu aja, kan mau ada tamu malu lantainya kotor. Kata ibu itu boleh percaya boleh enggak. Soal angpau nih, kamu sekarang udah ngasih angpau ke orang kah? Kalau udah, aku pengen tau nih rasa susahnya transisi dari yang awalnya dikasih angpau jadi orang yang skrg ngasih angpau ke orang lain?
Angpau itu yang ngasih kalau sudah menikah, yang belum menikah umurnya berapa pun tetep masih dikasih. Kebetulan aku belum menikah. Tapi ya enaknya kalau udah nikah terus punya anak pas sebelum imlek, ortunya ngasih ke ponakan dan anaknya juga dikasih dari omtante, balik modal. Wkwkwkwk.

Iklan

Daisy Santoso

VICE: Halo Daisy. Tradisi ngerayain Imlek di keluarga kamu kayak apa? Ada hal unik kah?
Daisy Santoso: Makan pas malam Imlek itu tradisi paling penting. Biasanya kami sekeluarga kumpul di rumah eyang. Ada makanan dan buah khusus yang biasanya kami masak dan sajikan. Ada abalon, potongan perut babi, rebung, dan timun laut. Habis makan biasanya nunggu sampai tengah malem buat berdoa mencari berkah. Besok paginya baru berkunjung ke sanak saudara. Imlek identik dengan hoki/rezeki, apa aja sih yang biasa dilakukan supaya hoki terus sepanjang tahun?
Kita cuma percaya buat berbuat baik aja. Orang Cina juga percaya kalau kita terus berbuat baik, kita enggak bakal kena karma jelek dan hidup bakal lebih baik. Dalam budaya Cina orang juga percaya banget sama zodiak dan tahun dia lahir. Hal itu bisa berpengaruh ke kepribadian seseorang. Jadi keberuntungan kamu biasanya ditentukan oleh shio.

Ada mitos-mitos yang dipercaya bikin rezeki seret. Kamu percaya itu?
Gue tumbuh dalam tradisi itu, dan kayaknya gue bakal tetep percaya sama mitos itu, walaupun cuma buat sehari. Kalau soal hujan seharian adalah sumber berkah, saya percaya saja, kalau memang untuk hal yang baik-baik saja.

Nah soal upacara pembakaran replika buat arwah leluhur, itu menarik banget sih. Keluargamu punya tradisi gitu juga? Apa benda paling aneh yang pernah dibakar?
Sebenarnya itu buat orang-orang yang percaya sama alam baka, yang disimbolkan dengan membakar kertas atau kimzua. Sebenarnya benda yang dibakar tergantung yang diminta. Suatu hari ayah gue didatangi kakek dalam mimpi, kakek gue minta rumah dan mobil. Jadi buat memenuhi permintaan kakek, ayah langsung bikin upacara membakar rumah dua lantai lengkap dengan perabotan, dua asisten rumah tangga, mobil dan supirnya, dan duit. Semua terbuat dari kertas.

Iklan

Hendri Gunawan

VICE: Halo Hendri. Kenapa ya orang Tionghoa kebanyakan menggunting rambut pada saat Imlek?
Hendri Gunawan: Itu buat membuang semua kejadian buruk sepanjang tahun sebelumnya. Tapi enggak semua orang melakukannya. Kalau saya sih percaya.

Apakah boleh membakar benda lain dalam upacara pembakaran persembahan buat arwah leluhur?
Biasa aja sih sebenarnya. Upacaranya cuma membakar kertas coklat. Sama bakar dupa besar selama tiga hari biar rezeki masuk ke rumah.

Biasanya beli di mana perlengkapan upacara tersebut?
Biasanya banyak di daerah pecinan kayak Muara Karang, Jakarta Utara. Ada toko khusus buat kebutuhan sembahyang.

Sebenarnya apakah wajib dilakukan setiap tahun? Atau dalam waktu tertentu saja?
Sebenarnya wajib sih. Karena ini kan sembahyang untuk leluhur.

Apa harapannya melakukan upacara pembakaran tersebut?
Untuk karma yang lebih baik. Juga karena enggak mau melihat keluarga yang sudah meninggal sengsara di neraka dan penuh kekurangan.