Peradaban Manusia

Tes DNA Menunjukkan Suku Aborigin Adalah Kebudayaan Tertua di Dunia

Menurut sebuah penelitian yang dirilis majalah Nature, penduduk asli Australia sampai di benua kanguru sejak 58.000 tahun silam.
27.2.18
Foto via Flickr/Ian Cochrane

Sebuat riset yang dirilis pekan ini di majalah Nature telah memastikan suku Aborigin Australia adalah kebudayaan paling tua di dunia. "A genomic history of Aboriginal Australia"—demikian judul riset tersebut—adalah penelitian genom pertama di dunia yang menguak bagaimana nenek moyang suku aborigin Australia sampai ke benua itu 58.000 tahun silam.

Di bawah panduan Profesor Eske Willerslev dari University of Cambria, penelitian tersebut melibatkan tetua dari komunitas Aborigin di seluruh Australia. Tim yang dipimpin Willrslev berhasil mengurut genom 83 penduduk Aborigin Australa, serta 25 penduduk Papua dan warga dataran tinggi New Guinea. Peneliti mengumpulkan sampel ludah dari kelompok geografis dan linguistik yang tinggal terpisah-pisah guna mendapatkan DNA mereka. Sebelumnya, hanya ada tiga genom penduduk Aborigin yang berhasil diurutkan,

Iklan

Sebelum penelitian ini diterbitkan, beberapa ilmuan ramai berdebat apakah suku Aborigin yang kini mendiami Australia punya pertalian darah dengan suku kuno yang pertama mendiami benua itu. Riset ini—yang merupakan riset genom suku asli Australia paling komplit sampai saat ini—juga membantu memastikan bahwa nenek moyang manusia adalah sama berasal dari manusia purba yang dulu bermigrasi dari Afrika.

Migrasi itu terjadi saat nenek moyang suku Papua dan Aborigin meninggalkan benua Afrika dalam kelompok migran besar sekitar 72.000 tahun lalu. Lalu, 58.000 tahun silam, keduanya memisahkan diri dari kelompok utama. kemungkinan, nenek moyang suku Papua dan Aborigin adalah manusia pertama yang menyebrangi samudra. Mereka lantas sampai di “Sahul”—benua raksasa yang mencakup wilayah Tasmania, Australia dan New Guinea saat ini—dan mulai tinggal terpencar mulai 37.000 tahun. Sahul sendiri baru terbelah sekitar 8.000 tahun lalu.

“Benua Australia punya sejarah panjang penduduk manusia yang tanpa henti di luar Afrika. Temuan ini memunculkan beberapa pertanyaan tentang asal-usul nenek moyang manusia, hubungan suku asli Australia dengan populasi di luar benua kanguru, diferensiasi serta adaptasi manusia,” demikian kesimpulan penelitian tersebut. “Kami juga menemukan bahwa suku Aboriginal dan etnis Eurasia punya struktur genom serupa dan berasal dari satu nenek moyang di Afrika.”

Seperti yang ditunjukkan oleh riset tersebut, peradaban Aborigin telah tinggal di Australia sejak mereka bisa beradaptasi secara biologis dengan alam Australia. Dengan demikian, masing-masing suku yang tinggal di bagian berbeda dari Australia punya cara beradaptasi yang berbeda. Lantaran terisolasi secara geografis dari satu sama lain—ingat, Australia punya wilayah yang luas, keragaman genetik antara suku sangatlah besar. Suku Aborigin yang tinggal di kawasan gurun, misalnya, tahan temperatur gurun di bawah nol derajat celsius di malam hari tanpa meningkatkan tingkat metabolisme tubuhnya. Sebagai catatan, orang Eropa tak bisa melakukan ini.

Kini, dengan meningkatnya sentimen anti imigran di Austalia belakangan, rasanya ini waktu yang tepat untuk mengakui semua penduduk Australia—kecuali Aborigin—pada dasarnya adalah Imigran

Pantengin Kat di Twitter