Terobosan ini, jika ditingkatkan, bisa menghasilkan sebuah proses penguraian plastik menjadi komponen-komponen aslinya dan kemudian dibentuk kembali menjadi plastik. Sehingga, kita tak perlu lagi membuat materinya lebih banyak.
Dengan lebih dari 1 juta botol plastik terjual setiap menitnya, plastik diperkirakan akan melebihi jumlah ikan di lautan pada 2050, sebuah ancaman lingkungan yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai “krisis planetaria.”
Profesor John McGeehan, yang mengepalai penelitian ini, percaya bahwa temuan-temuan ini bisa meredakan krisis tersebut.
“Saya rasa ada banyak kisah mengerikan soal plastik dan ini karena plastik adalah momok lingkungan,” ujarnya. “Tapi ini adalah kisah di mana kita bisa memiliki harapan.”
Penelitian ini berlandaskan penemuan tahun 2016 di sebuah tempat pembuangan sampah di Jepang, tempat bakteri berevolusi sehingga bisa memakan platik. Selama upaya tim ini untuk memahami bagaimana enzim tersebut berevolusi, mereka membuat perubahan secara yang secara tak sengaja mengubah enzim pemakan plastik tersebut menjadi 20 persen lebih cepat daripada sebelumnya.
VICE News mengunjungi pinggiran Portsmouth di Inggris Raya untuk menemui laki-laki di balik penemuan ini, dan mempelajari makna penemuan ini bagi dunia yang telah dilimbahi plastik.
