The VICE Guide to Right Now

Banyak Karyawan di Jepang Justru Kesal Dapat Libur Nasional 10 Hari

"Saya bingung mau ngapain saja selama liburan 10 hari," kata seorang pegawai kantoran di Tokyo.
Gavin Butler
Melbourne, AU
Karyawan di Jepang Justru Kesal Dapat Libur Nasional 10 Hari
Foto ilustrasi pekerja kantoran di Jepang via Shutterstock.

Jepang terkenal dengan penduduknya yang gila kerja. Jam kerja di Negeri Sakura ini tercatat sebagai salah satu yang terpanjang sedunia. Menurut analisis CNBC, hampir seperempat perusahaan Jepang mengharuskan karyawannya bekerja lebih dari 80 jam per bulan, belum termasuk lembur. Selain itu, survei pada 2017 yang dilakukan oleh Expedia Japan menemukan data bila para pekerja hanya menggunakan sekitar setengah dari jatah cuti tahunannya. Sebanyak 63 persen dari para pekerja dalam survei itu merasa bersalah apabila mengambil cuti kerja terlalu lama.

Iklan

Mungkin itulah alasannya mengapa penduduk Jepang justru pusing bukan kepalang setelah dikasih libur nasional mendadak selama 10 hari. Jepang sebenarnya memiliki periode “Golden Week” atau Minggu Emas setiap tahunnya. Minggu Emas adalah serangkaian hari libur resmi yang biasanya dimulai pada awal Mei.

Berhubung waktu libur tahun ini bertepatan dengan hari lengsernya Kaisar Jepang, maka tanggalnya dimajukan beberapa hari oleh pemerintah. The Guardian melaporkan masa liburan dijadwalkan dimulai dari 27 April dan berakhir awal Mei. Momen ini menjadi liburan terpanjang pertama bagi populasi yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Tampaknya para pekerja keras di Jepang tidak terlalu senang dengan kabar baik itu.

NDTV melaporkan temuan survei terbaru dari surat kabar Asahi Shumbun yang menunjukkan 45 persen orang Jepang “tidak menyukai” liburan panjang. Hanya 35 persen yang mengaku senang. Alasan mereka tidak gembira dapat libur panjang cukup beragam. Ada yang khawatir tidak mendapat penghasilan selama libur karena bekerja secara kontrak, ada juga orang tua yang takut tidak bisa menitipkan anak karena tempat penitipan tutup. Sementara yang lainnya beralasan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu luang.

"Sejujurnya, saya bingung mau melakukan apa selama liburan dadakan 10 hari nanti," ujar Seishu Sato, lelaki 31 tahun yang bekerja sebagai pegawai keuangan di Tokyo. "Tempat wisata pasti akan padat pengunjung, sedangkan ongkos pergi ke luar negeri pasti melonjak… Kayaknya saya bakalan pulang ke rumah orang tua saja nanti."

Suka tidak suka, para workaholic di Jepang sepertinya harus membiasakan diri agar mau berlibur, mengingat negara tersebut segera memberlakukan undang-undang mewajibkan pekerja untuk setidaknya mengambil lima hari cuti selama setahun. Kepada Nikkei Asian Review, Keizo Ishii selaku kepala Expedia Japan mengatakan pemerintah Jepang telah mengambil langkah tepat untuk mengatasi masalah budaya kerja berlebihan di negaranya. Budaya kerja itu mengakibatkan insiden karoshi atau meninggal karena terlalu banyak kerja. Masalahnya, liburan panjang yang akan datang pasti membuat sejumlah pekerja semakin tidak enak mengmbil cuti tambahan.

"Dengan undang-undang yang direvisi, para pekerja di Jepang sebenarnya bisa mengambil lebih banyak cuti. Akan tetapi, banyak dari mereka yang merasa bersalah memakai jatah cuti karena pemerintah memutuskan umemperpanjang Golden Week dari akhir April sampai awal Mei," tuturnya. "Sudah saatnya masyarakat Jepang bersama-sama mengakhiri perasaan bersalah itu."

Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia