Radikalisasi Anak Muda

Video Baru VICE: Pengakuan Lelaki yang Semasa Remaja Terlibat Terorisme

Mohammed Khalid adalah orang termuda yang divonis membantu terorisme oleh pemerintah AS. Setelah keluar dari penjara, dia berusaha meyakinkan publik kalau sudah sepenuhnya bertobat.
13.3.19

Ketika Mohammed Khalid memperkenalkan diri kepada rekan-rekannya, dia menghindari percakapan tentang masa lalunya—terutama fakta bila dia pernah berpartisipasi dalam aksi terorisme internasional.

"Menyinggungnya dalam pembicaraan sangat saya hindari," katanya. "Pengakuan itu bisa membuat orang langsung takut."

Tiap berkenalan dengan orang baru, dia akan mulai pembicaraan dengan menjelaskan kalau dulu dia menempuh kuliah bidang ilmu komputer, dan berharap dapat bekerja di bidang keamanan siber.

Iklan

Mohammed Khalid baru berusia 17 tahun ketika ia ditahan pada 2011. Jaksa Amerika Serikat membuktikan keterlibatannya dalam konspirasi terorisme internasional. Dia menjadi orang termuda yang pernah dihukum atas kasus terorisme di AS.

Saat itu, Khalid berupaya merekrut orang dan mengumpulkan dana untuk membantu perempuan asal AS yang memiliki nama panggilan “Jihad Jane”. Jane dan Khalid berencana membunuh seorang kartunis asal Swedia karena dianggap menghina Nabi Muhammad. Khalid akhirnya ddidakwa bersekongkol memberi dukungan materi kepada terorisme. Hakim menjatuhkan hukuman penjara lima tahun.

Khalid mengaku sempat merasa terisolasi dari masyarakat dan mencari keluarga baru. Ia mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di internet. Di dunia maya, dia bertemu beberapa ekstremis. Kisah hidupnya adalah proses radikalisasi yang banyak dialami pelaku teror lain. Akhirnya, kata Khalid, interaksi bersama ekstremis membuatnya tidak sanggup berpikir secara realistis.

"Saya menjadi ekstremis karena dirawat secara emosional oleh orang-orang yang berkata ‘oke, beginilah cara dunia bekerja'. Saya tidak mengetahui kebenaran," ujar Khalid. "Saya mempercayai semua yang saya lihat di internet sebagai hal yang nyata."

Awalnya, dia tidak berusaha mencari konten ekstremis, tapi mulai menjelajahi forum-forum agama secara lebih dalam dan akhirnya menelusuri konten semacam itu lewat YouTube. Dengan memposting videonya sendiri dan percakapannya di bagian komentar, ia bertemu ekstremis dari maupun luar AS, yang membawanya masuk ke komunitas dan cara berpikir mereka. Radikalisasi online membuatnya percaya bahwa kaum muslim dizalimi oleh kekuatan internasional. Satu-satunya cara melawan balik hanya lewat kekerasan serta aksi teror.

Iklan

"Dunia hitam dan putih benar-benar menarik saya kala itu," ucap Khalid. "Ada grup online yang melawan Islam, dan satu grupnya lagi terdiri dari umat Islam yang mendukung Islam."

Khalid dibebaskan dari penjara pada Mei 2017. Ia merupakan satu dari jumlah kian banyak mantan ekstremis yang dibebaskan dia AS, dan berharap dapat membuktikan masih bisa diterima masyarakat.

"Saya memahami cap yang kini diasosiasikan dengan saya," ujar Khalid, kini 25 tahun, kepada VICE News. "Saya bukan orang yang sama seperti saat pertama kali ditahan. Menjadi orang yang pernah terdakwa terorisme bukan berarti tidak ada harapan dan kamu bukan manusia."

Sejak serangan teror 11 September 2001 yang sangat mematikan, pemerintah AS telah mempidanakan lebih dari 800 individu atas kejahatan terorisme, menurut data The Intercept. Pada akhir tahun lalu, 470 napi teror di Negeri Paman Sam telah dibebaskan.

Sebelum ditahan, Khalid sebetulnya sedang mempersiapkan diri kuliah di Johns Hopkins University. Dia sudah diterima kampus bergengsi itu. Harapannya kandas akibat terlibat plot pembunuhan. Sekarang ia tinggal bersama keluarganya dan belajar ilmu komputer di University of Maryland. Seperti beberapa “mantan teroris” lainnya, ia ikut berkontribusi untuk riset kontraterorisme. Pada 2018 membagi kisahnya dalam sebuah laporan untuk Quilliam, sebuah wadah pemikir online.

Ia juga membicarakan pengalamannya di berbagai panel dan konferensi di berbagai kota AS. Khalid berharap seminar-seminar yang dia isi bisa membantu orang yang berada di situasi yang mirip dengannya supaya tak tertarik terorisme. Upayanya berceramah di banyak tempat sekaligus upaya meyakinkan orang bahwa ia telah bertobat.

"Pasti selalu ada keraguan dari orang lain, apakah saya benar-benar berubah," katanya. "Itulah hal yang selalu coba saya atasi setiap hari dengan membuat perubahan dengan membagi kisah saya."

Simak pengakuan lengkap Khalid di tautan video awal artikel ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News