Views My Own

Beberapa Alasan Kenapa Sebaiknya Jokowi Tidak Jadi MC Hip Hop

Udah deh pak, setia sama metal saja. Video viral presiden ngerap tempo hari membuat kami sadar, genre musik favorit betulan dipengaruhi jiwa seseorang.
Presiden Joko Widodo berpose saat jumpa pers setelah naik motor ke Pelabuhan Ratu. Antara Foto/Puspa Perwitasari/via REUTERS

Masyarakat Indonesia paham belaka, Presiden Joko Widodo sudah terlanjur identik sebagai “anak metal”. Mesin pencarian Google otomatis menampilkan hasil “Jokowi anak metal” (jika bukan anak PKI). Meskipun telah berkali-kali dituduh lawannya kalau ke-metal-an Jokowi ini bohongan dan pencitraan, gara-gara sempat salah sebut periode kejayaan Metalica.

Ketika dua hari lalu video presiden mencoba freestyle rap diiringi beatbox dari J-Flow, kami berani bertaruh, kalian pasti lebih yakin kalau Jokowi sebaiknya jadi anak metal aja… jangan hip hop! Kenapa tiba-tiba presiden tertarik ngerap ya? Jadi begini konteks di balik video itu. Jokowi sedang menghadiri pertemuan dengan para konten kreator Youtube di Istana Negara. Kira-kira beginilah freestyle Jokowi… mirip gaya grup parodi hip hop Warteg Boyz.

Iklan

Kalau dua video di atas belum cukup, nih saya cantumkan juga transkrip lirik rima-rima yang dihadirkan Jokowi:

Ini zaman digital
Era teknologi

… (lumayan lama di sini diam)
Selamat,
Selamat,
Berkarya.

Salam dari Jo-ko-wi.

Freestyle Jokowi langsung diserbu tepuk tangan riuh ramai orang-orang yang hadir di Istana Bogor. Sesenang itukah orang-orang lihat Jokowi nge-rap? Sabar jangan langsung mem-bully saya. Sebab, saya punya alasan kenapa Pak Jokowi lebih baik jadi anak metal saja. Dalam sesi freestyle itu, barangkali Pak Jokowi terinspirasi estetika Ka, rapper yang suaranya monoton saat melontarkan rima-rima maut, bahkan cenderung berbisik dan menyediakan ruang kosong di sela-sela ngerap. Bedanya, Ka menambal 'kekosongan' dari aspek beat dengan rima sinematik. Lirik "selamat berkarya" tentu saja kurang menggugah imajinasi, walaupun sangat mungkin membangkitkan motivasi bahwa siapapun bisa ngerap. Kalaupun benar tujuannya membangkitkan semangat dan motivasi, Pak Jokowi terbukti lebih efisien membakar massa dengan mengacungkan devil horn di konser metal. Sebab metal itu egalitarian. Sementara, jika harus pamer, alias melontarkan lirik-lirik braggadocio yang banyak dipakai anak-anak trap, kok ya enggak cocok. Pak Jokowi adalah pemimpin yang terkenal rendah hati. Masa tiba-tiba pamer macam begini: "banyak yang kena bius/muka gue emang kaya debt collector/Sekali lo lihat bakal nagih terus"

Iklan

Itu baru dari aspek estetika. Alasan lainnya, terjun ke kancah hip hop bakal membuat posisi Jokowi sebagai presiden agak rumit.

Soalnya begini, beberapa tahun belakangan hip hop di Indonesia semakin politis. Bahkan di track 'Anjing' yang seharusnya bernuansa senang-senang, anggota kolektif Zero One, yaitu Niska, masih saja sempat mengajak pendengar menolak reklamasi Teluk Benoa.

Artinya, salah satu tren hip-hop di Tanah Air adalah makin galak mengkritisi pemerintahan, ataupun memuat kritik sosial. Salah satu punggawa Homicide, grup hip hop almarhum yang superpolitis itu, bahkan pernah menulis di VICE kalau lima tahun terakhir kancah Hip Hop di Indonesia sangat menggairahkan berkat kesadaran sosial para pegiat kancahnya dari berbagai kota. Kan jadi serba salah dong, bila Pak Jokowi sampai ikut tren, lalu ngerap soal ketidakadilan pemerintah, atau konflik agraria dalam sengketa pembangunan jalan tol atau bandara di berbagai pelosok Indonesia. Pasti akan bentrok dengan janji kampanye Jokowi untuk menggenjot infrastruktur selama masa jabatannya.

Makanya, menurut saya sih menjelang 2019, sebaiknya Jokowi bermain aman saja. Meskipun elektabilitas masih tinggi, berhati-hati adalah solusi. Salah satunya, dengan tidak pindah jalur ke hip-hop.

Toh, setia di metal justru lebih cocok dengan hobi Pak Jokowi yang gemar touring mengendarai sepeda motor chopper. Kultur hip hop dan chopper ga cocok. Naik chopper sambil diiringi musik metal jauh lebih pas dong. Apalagi sederet nama besar di kancah metal dunia sudah cukup respek sama presiden RI. Jokowi sempat disebut “presiden heavy metal” oleh vokalis Lamb of God, Randy Blythe. Sewaktu Jokowi menang Pilpres 2014, frontman band grindcore Napalm Death, Mark “Barney” Greenway, sampai mengaku senang dengan kemenangan Jokowi (walaupun pada akhirnya Barney mengirim surat pada Jokowi, mengkritik kebijakan hukuman mati terhadap terpidana narkoba).

Intinya, langkah Jokowi mempertahankan eksistensi sebagai pecinta metal yang serius, justru lebih mulus dibanding harus memulai karir di kancah hip hop dari nol. Jadi, mohon dipertimbangkan lah, tetap setia di metal saja ya pak. Peace!