Film

‘Cloud Atlas’ Jelek Banget, tapi Kamu Perlu Menontonnya Sekali Seumur Hidup

Ternyata film durasi tiga jam ciptaan Wachowski bersaudara ini jauh lebih menarik setelah ditonton lagi.
21.3.18
Poster film dari arsip Warner Bros. Pictures

Apabila pembuatan film Jupiter Ascending mencapai $200 juta (hampir Rp3 triliun), maka biaya produksi film Wachowski bersaudara belum ada apa-apanya. Film Cloud Atlas yang dirilis pada 2012 merupakan proyek yang sangat berisiko, bahkan menurut standar sutradara Matrix; film kategori dewasa berdurasi tiga jam yang menggunakan latar waktu di masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan merupakan adaptasi novel pemenang Booker Prize, yang menceritakan reinkarnasi manusia. Pemberi modal seperti Warner Bros. tentunya berharap mendapatkan keuntungan dari film ini, tapi kenyataannya tidak seindah itu.

Iklan

Seharusnya film antologi yang memiliki enam cerita berbeda dalam waktu bersamaan ini mampu membuat kita terhanyut dalam sekian menit mulai dari pulau Pasifik di 1849, San Francisco di 1973, sampai Hawaii yang tidak berpenghuni di 2311. Sayangnya, film Cloud Atlas sangat sulit dipahami sampai-sampai mereka membutuhkan trailer berdurasi enam menit untuk menjelaskan jalan ceritanya kepada penonton. Yang tidak diduga adalah respons dari kritikus yang saat itu tidak yakin apakah film ini sukses atau gagal. Bahkan masih belum ada kepastian sampai sekarang.

Butuh tiga pembuat film untuk mewujudkan kisah ini: Wachowski bersaudara, Lana dan Lilly, bersama dengan sutradara Perfume, Tom Tykwer (yang juga bertanggung jawab dalam menciptakan theme music film yang megah). Produksi Cloud Atlas pun memakan waktu yang tidak sedikit. Film ini adalah konsep arthouse yang dilakukan dengan kemampuan blockbuster, sebuah eksperimen dalam genre yang berubah dari film komedi menjadi thriller politik hingga science fiction dystopian.

Begitu seterusnya selama 171 menit film berlangsung. Ini adalah salah satu film termahal yang pernah dibuat, tetapi merupakan campuran berbagai ide yang sangat tanggung digabungkan. Film ini juga menggunakan aktor dan aktris yang sama untuk karakter yang berbeda di setiap ceritanya.

Karena film ini menceritakan keterkaitan kehidupan satu sama lain di periode waktu yang berbeda, Cloud Atlas memiliki aktor yang memerankan lebih dari satu tokoh, seperti tokoh penjahat atau peramal, di masa yang berbeda. Beberapa memerankannya dengan sangat baik. Tom Hanks terbukti tidak mampu membedakan penjahat asal Irlandia dan pengusaha hotel asal Skotlandia, sedangkan pemeran tokoh antagonis Hugh Grant sukses memerankan berbagai tokoh yang diberikan Wachowski bersaudara: budak asal Amerika, pensiunan, kepala suku kanibal pasca-apokaliptik, dan pengusaha asal Korea di abad ke-22.

Ben Whishaw memainkan peran ibu rumah tangga paruh baya. Susan Sarandon berperan sebagai fisikawan pria asal India. Halle Berry berperan sebagai emigrant kulit putih keturunan Jerman-Yahudi. Baru kali ini ada aktor dan aktris yang berani memainkan tokoh yang sangat berbeda dari dirinya ini. Cloud Atlas benar-benar membuang akal sehat kita dan memiliki aktor dan aktris yang memainkan tokoh berbeda jenis kelamin dan ras. Film ini dirilis enam tahun lalu, dan menjadi film yang paling sulit dipahami.

Tidak ada satu orang pun yang mau menonton film dengan pemeran yang berganti ras di setiap ceritanya, tetapi menonton Cloud Atlas di 2018 yang penuh konflik ini pastinya menghibur, karena film ini menunjukkan bahwa semua manusia itu sama tidak peduli apa yang membedakan mereka di tampak luarnya. Apa saya serius menyuruh kalian menonton film yang sangat dihujat ini? Ya. Meskipun film ini sangat buruk, tetapi tema kesetaraan yang dijunjung tinggi membuat kita tetap waras di tengah supremasi kulit putih dan diskriminasi terhadap perempuan belakangan ini.

Cloud Atlas memang bukan film yang menceritakan tentang ras atau gender. Film ini juga dikemas secara padat. Roger Ebert, yang memberi peringkat tinggi untuk film ini, mengatakan bahwa film ini menceritakan segala aspek kehidupan. Kritikus lain menyebut Cloud Atlas sebagai “film yang tidak realistis.” Tidak ada yang benar dan salah dalam dua pendapat ini, karena Cloud Atlas bisa diartikan berbeda oleh siapa pun yang menontonnya. Film ini bagaikan blockbuster Schrödinger. Ada sisi bagus dan buruknya. Film termahal yang sangat tidak biasa dan diciptakan untuk menciptakan perbincangan semua yang sudah menonton.

Tidak peduli apa yang kalian pikirkan tentang film ini, masih ada yang menghibur dari Cloud Atlas. Tidak peduli kalian mencintai atau membencinya, film ini sudah terlanjur dibuat. Dan, tidak ada film lain yang bisa menyandingi keabsurdan Cloud Atlas.


Jangan lupa follow Brogan Morris di Twitter .