Mengakali Kesepian di Dunia Kerja Freelance

Mampukah teknologi mengubah hidup pekerja lepas menjadi lebih aman dan tak kesepian?
1.5.18
Kiat Mengakali Kesepian di Dunia Kerja Freelance
Kolase foto oleh Adam Mignanelli.

Artikel ini sebelumnya tayang di VICE magazine. Klik DI SINI untuk berlangganan.


Kehidupan freelancer terlihat sepi, padahal tiap harinya mereka harus menghadapi pekerjaan yang sangat padat. Sekilas yang terlihat memang cuma orang itu, laptopnya, dan kedai kop tempat dia bekerja. Tanpa orang tahu, si freelancer harus bersaing mencari nafkah melawan kerumunan orang asing lainnya berebut orderan dari bos entah di mana.

Beberapa dari freelancer tadi bahkan mungkin bekerja di kedai kopi yang sama, mengirim email kepada bos yang sama, masing-masing dari kalian dibuat berkompetisi. Terselubungnya kesepian itu membuat seorang pekerja lepas begitu mudah sengsara.

Namun hidup sebagai pekerja lepas tidak harus sesuram itu. Simak kisah rumput tetangga yang kayaknya agak lebih hijau, di Wellington, ibu kota Selandia Baru. Di sana hidup Enspiral, legenda di antara para freelancer yang tercerahkan di seluruh dunia. Enspiral seakan hidup alam semesta paralel di mana freelancer tidak lagi kesepian dan tak berdaya.

Sepanjang kurun 2003 hingga 2010, Enspiral hanyalah nama domain yang digunakan oleh Joshua Vial, seorang pengembang perangkat lunak asal Australia yang tinggal di Wellington, untuk bisnis konsultasi pribadinya.

Pada 2010, ia berusaha menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pekerjaan berbayar dan lebih banyak lagi pada proyek-proyek sukarelawan, dan ia mengubah Enspiral menjadi alat untuk membantu orang lain melakukan hal yang sama—berbagi kesempatan mencari orderan baru dan membebaskan jam kerja untuk hasil pekerjaan yang baik.

Perusahaannya menjadi mirip koperasi, dimiliki bersama oleh anggotanya, yang sekarang ada sekitar 40 orang. Enspiral juga mencakup sekitar 250 “kontributor” yang merupakan peserta dalam jaringan, dan 15 perusahaan kecil yang disebut “usaha.” Banyak anggotanya adalah teknisi sejenis, tetapi orang-orang dari profesi apa pun dapat, pada prinsipnya, bergabung. Vial mengundurkan diri dari dewannya awal tahun ini. Dia sekarang, kurang lebih, hanya seorang anggota.

Saat ini, Enspiral berfungsi sebagai serat penghubung yang secara finansial ramping, tetapi penting secara anekdot, di kalangan pekerja independen dan perusahaan kecil ini. Anggota Enspiral masih meneruskan pekerjaan untuk membantu menstabilkan naik turunnya freelancing, tetapi sekarang mereka juga mendanai eksperimen bisnis satu sama lain dan saling membantu jika ada yang tidak beres.

Mereka mengadakan retret dua kali setahun. Mereka tidak terlalu bergantung pada strategi Robin Hood, yang mengambil kontrak dari perusahaan dan menggunakan uangnya untuk menyokong pekerjaan sukarela, dengan menciptakan pekerjaan dan perusahaan mereka sendiri dengan pekerjaan yang baik. Usaha afiliasi Enspiral, misalnya, termasuk ActionStation, alat pengorganisasian online; Scoop, sumber berita alternatif; dan Chalkle, platform pendidikan.

Saya menghabiskan pagi bersama Vial di ruang konferensi di Enspiral Dev Academy, kamp pelatihan pengembang web yang dia resmikan pada tahun 2014. Dia memberi saya tur jaringan di laptopnya. Enspiralites bekerja di beberapa ruang kerja bersama di seluruh kota—dan, semakin, di luar Wellington—tetapi ruang yang paling menyatukan mereka adalah sekelompok alat daring.

Beberapa di antaranya adalah platform komersial seperti GitHub dan Slack; yang paling penting, harus dibangun dari nol. My.enspiral.com adalah rumah bagi alat pembukuan, dan di Cobudget.co, para kontributor dan anggota mengalokasikan dana untuk proyek-proyek mereka dan tujuan yang pantas. Terinspirasi oleh gerakan Occupy, Loomio.org berfungsi sebagai platform pengambilan keputusan jaringan, dan sekarang aktivis-aktivis, sekolah-sekolah, pemerintahan, dan perusahaan dari seluruh dunia menggunakannya.

Ketika Vial menunjukkan berbagai alat dan tugas, saya mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mereka mencegah aktor yang buruk. Bagaimana jika seseorang ingin membuat keputusan tentang Cobudget untuk mendapatkan uang untuk proyeknya? Bagaimana jika proyek itu palsu? Dia menjawab dengan mengangkat bahu kecil.

“Ini jaringan dengan kepercayaan tinggi,” katanya. “Kami tidak mencoba mengoptimalkan situasi-situasi dengan kepercayaan rendah.”

Berjalan singkat dari Dev Academy, di tempat yang paling dekat dengan kantor utama Enspiral, saya bertemu Alanna Krause, seorang migran dari California yang menemukan Enspiral pada awal peralihannya menjadi kolektif. Dia sekarang, antara lain, adalah “pimpinan tanpa bos” di Loomio dan anggota dewan Enspiral. Dia dan beberapa rekan kerjanya menyampaikan litani cara jaringan yang berbeda dari ruang kerja bersama lainnya.

“Laptop seseorang dicuri, kami membelikan mereka laptop yang baru,” kata Krause kepada saya. “Rumah seseorang terbakar, kami membayar sewa mereka. Organisasi seseorang harus berhemat, yang lain akan mempekerjakan orang-orang itu.” Mereka juga membayarkan sesi terapi satu sama lain, bila diperlukan. Dan hasil dari jaring pengaman ini, menurutnya, adalah “inovasi aktual.” Ketika kamu tahu seseorang menjagamu, lebih mudah untuk mengambil risiko.

“Kepemilikan bersama adalah faktor lain yang membangun kepercayaan,” tambah Hannah Salmon, seorang seniman yang merupakan bagian dari kelas perdana Dev Academy dan menulis kode untuk Loomio. Sama seperti anggota Enspiral, yang dimiliki bersama, Loomio adalah koperasi yang dimiliki para pekerja. Dia menyandarkan tubuhnya pada Ben Knight—rekannya, pendiri Loomio, dan drummer di band punk mereka, Unsanitary Napkin.

Di antara Enspiralites, saya melihat budaya kantor yang luar biasa menyayangi, dan bukti ini ditemukan baik dari pasangan monogami maupun kecenderungan lebih poliamori. Tampaknya, setidaknya sebagian besar dari kesepian konvensional para freelancer, bersama dengan beberapa benteng yang selalu memisahkan kehidupan dan pekerjaan. Saya diyakinkan bahwa persetujuan sifatnya wajib dalam segala hal, yang mana bertentangan dari kebijakan HRD di seluruh dunia.

Mungkin masalah belum bermunculan—atau mungkin keajaiban eksperimen enspiral ada hubungannya dengan kepercayaan dan kepemilikan bersama, yang menggantikan dinamika hierarki yang selama ini membuat relasi kantor-kantor konvensional sangat beracun. Mungkin, ketika kesetaraan adalah premis utama pekerjaanmu, maka dunia kerja tidak perlu dipisahkan dari kehidupan pribadi, ataupun ambisi dan kebutuhan diri kita yang sebenarnya.