natal

Kami Hadirkan Bagi Kalian Mixtape Natal Tanpa Satupun Lagu Rohani

Semoga masuk akal dan bisa diterima. Selamat natal btw :)
24.12.18
Ilustrasi mixtape Natal
Foto lampur natal dari Terri Bateman via Wikimedia Common, kaset dari akun flickr cassette

Yang tak diduga-duga itu ternyata datang juga menghampiri: gelombang konservatisme melanda keluarga besar. Saya dan sepupu-sepupu yang pada saat itu masih remaja piyik-piyik, kalau ke sekolah pakai celana pendek biru dan kemeja putih, mendadak ditanya-tanyai oleh oom dan tante: Film apa saja yang suka kalian tonton? Musik apa sih yang kalian dengerin? Mulai sekarang perlu lebih hati-hati, karena bisa-bisa yang di dalam apa-apa yang kalian tonton dan dengerin itu terkandung roh-roh setan.

Iklan

Naga-naganya, setelah mendengar pertanyaan dan pesan seperti itu, sebentar lagi generasi orang tua, oom, dan tante akan memancangkan sejumlah batasan: Inilah musik yang boleh kalian dengar. Ini yang harus dihindari. Ini film yang layak ditonton. Yang lain, sepertinya mengandung roh-roh iblis jadi sebaiknya dienyahkan saja dari perbendaharaan hiburan.

Tontonan yang sempat di-blacklist pada saat itu salah satunya serial Power Rangers yang tayang saban pekan. Ditengarai film itu secara implisit mengandung roh-roh setan. Apa sebab? Karena di original soundtrack mereka ada sepenggal lirik yang berbunyi: mighty morphine power rangeeerrr…”. Dasar pemikirannya kurang lebih begini: Power ranger = morphine = narkoba = setan. Jadi kesimpulannya Power Ranger = setan.

Yang namanya ABG, lagi banyak eksplor ke sana ke sini kan, tentunya setiap batasan dari generasi orang tua adalah ancaman. Tentu kami tak ingin kesenangan ikut tereak-tereak dan headbang di tiap reffrain lagu Rage Against the Machine dilarang. Kami tak ingin dilarang kegiatan nontonin konser dan dokumenter pendek tentang Slipknot dilarang. Tak ingin juga kegiatan karaokean bareng Korn di lagu Twist yang monumental itu direcoki - terutama bagian intro ketika si vokalis Jonathan Davis nyanyi rataerghummtakeurghmmrataeurhgmtaeurghm… Rataeurghmtakeurghmratarataeurghmmm… Kami tentu tak terima bagian intro yang epik itu dicap sebagai rapalan setan yang mengundang iblis semata-mata karena terdengar menyeramkan. Pada intinya kami tak ingin kebebasan itu direnggut.

Tapi sebagai bocah piyik, menghadapi para oom dan tante tentu tak bisa sefrontal itu. Siapa bisa menanggung beban kalau uang jajan mingguan dipotong? Jadi harus diterapkan strategi yang amat sangat halus. Caranya? Dengan meyakinkan para orang tua bahwa lagu-lagu sekuler sebenarnya tak sekuler-sekuler amat. Mereka hanya berkedok sekuler, tapi di balik semua itu, terkandung pesan-pesan yang sifatnya amat rohani, yang mengingatkan akan kebesaran Yang Maha Kuasa.

Apakah itu sebuah dosa? Apakah itu artinya menipu orang tua? Apakah kita serta-merta jadi anak durhaka dan dalam beberapa menit akan segera berubah jadi batu bagaikan Malin Kundang yang dilaknat alam dan Tuhan karena semena-mena pada ibunya?

Iklan

Tentu tidak, karena memang faktanya demikian. Banyak sekali lagu sekuler yang secara tersirat maupun tersurat bicara tentang persoalan rohani. Berikutnya tinggal bagaimana kita memilih dan memilah lagu untuk membuktikan hipotesis itu, lalu mempresentasikannya pada oom, tante, dan orang tua: ini lagu-lagu sebenarnya rohani lo, enggak ada setan-setannya, cuma memang harus diselami lebih jauh agar paham makna yang terkandung di dalamnya.

Saya berharap apa yang menimpa kami tak terjadi pada Anda-anda sekalian. Tapi seandainya itu terjadi, saya siapkan bagimu daftar lagu-lagu sekuler yang bisa juga dibilang rohani untuk dipresentasikan pada mereka-mereka generasi orang tua. Plus, berhubung sebentar lagi natal kan, jadi pas lah ya kita ngomongin yang rohani-rohani.

POD – Lagu yang Mana Aja

Band POD alias Payable on Death ini bisa banget dipakai buat pintu masuk membuat orang tua kita percaya bahwa ada juga band-band rock yang jauh di lubuk hatinya adalah rohaniwan atau rohaniwati. Kenapa? Pertama, mereka memang memproklamasikan bahwa lagu-lagu mereka rohani, dan itu tampak betul dalam lirik lagu-lagu POD. Kedua, karena vokalisnya gimbal, sangar, dan bertato. Hal ini bisa segera mematahkan anggapan bahwa mereka yang tampak gahar pasti jahat dan mengandung roh-roh iblis.

KORN – Got The Life

Nah ini bukti kuat kedua kalau orang-orang tampang serem, gimbal, tatoan, dan pakai stand mic berbentuk perempuan bugil (yang ini tak perlu ditekankan) lagunya ternyata rohani. Tapi kasih unjuk lagu yang ini ya, jangan yang A.D.I.D.A.S. nanti malah gagal misinya. Boleh juga kasih denger bagian reffrain pas si vokalisnya banyak memanggil Tuhan. Emang, kalau kita googling, ada beberapa versi lirik. Ada yang positif, (yang reff-nya God paged me…) ada yang negatif (yang lirikna God hates me…). Sekali lagi, untuk kepentingan misi, pilihlah yang positif. Mana yang benar? Walahuallam. Pilihlah yang sesuai keinginanmu dan percayalah akan itu.

Lamb of God – Now You’ve Got Something to Die For

Nah ini juga seharusnya sepotong kue ( piece of cake). Dari namanya aja udah rohani ngets, Lamb of God, domba Allah. Apalagi yang perlu kita jelaskan? Lewat lagu ini kita bisa buktikan bahwa lagu rohani bisa juga disampaikan dengan distorsi tebal, double pedal yang enggak berenti-berenti, plus nyanyi yang terus-terus gogorowokan. Tunjukkanlah lagu Now You’ve Got Something to Die For, lalu jelaskan bahwa lagu ini bercerita tentang seseorang yang mendapat hidayah kemudian tahu persis tujuan hidupnya apa. Jangan dengarkan atau baca lirik sisanya. Lagian enggak jelas juga wong tereak-tereak. Dengan cara begitu, lagu ini pun bisa dengan mudah diplintir jadi lagu rohani.

Bad Religion – Christmas Album

Ini apalagi, sealbum isinya lagu natal semua. Tak perlu panjang lebar menjelaskan, album ini dengan sendirinya sudah bicara bahwasannya Bad Religion itu turut merayakan natal. Jangan terperdaya oleh nama band-nya, apalagi logonya, itu hanya keren-kerenan saja. Jadi apa yang dimaksud dengan nama Bad Religion? Ya entahlah, belagak pilon aja.

Testament – Practice What you Preach

Ini mirip-mirip dengan Lamb of God, namanya sama-sama relijius. Testament membuktikan lewat speed metal, kabar kebaikan bisa disiarkan lebih luas. Tengok saja lagu Practice What You Preach yang meminta kita jangan jadi orang Farisi yang hanya bisa berceloteh tentang kebaikan tapi dalam kehidupan sehari-hari jauh panggang dari api. Lewat lagu itu, Testament meminta kita untuk menjalani apa yang kita imani, apa yang dikhotbahkan. Amin.

Metallica – Nothing Else Matters

Pada akhirnya inilah impian yang paripurna, bahwa Nothing Else Matters Metallica digunakan sebagai lagu puji-pujian. Saya percaya ini sepenuhnya tak salah. Bait pertama lagu itu, ketika James Hetfield menyanyikan So Close No Matter How Far niscaya mengingatkan kita pada roh kudus yang pada hari kebangkitan ditempatkan oleh Tuhan di hati kita. Juga mengingatkan pada cerita domba yang tersesat, menyatakan bahwa sejauh apapun kita dari jalan yang benar, Ia tetap ada di dalam hati. Begitu dekat tak peduli seberapapun jauh.

Dengan lagu-lagu ini niscaya misi mu berhasil, meyakinkan para orang tua bahwa tak lagu-lagu yang suka kamu dengarkan itu mengandung daripadanya roh-roh jahat yang mengusik kedamaian hati dan hidup. Lebih dari itu, jika kita simak lebih dalam dan seksama, sesungguhnya merekapun juga bicara tentang persoalan kerohanian. Jika lagu-lagu itu masih tak ampuh juga, bolehlah kita meminjam perumpamaan yang disampaikan Cak Nun: Tak perlu mengharamkan lagu. Kalau kamu lupa Tuhan karena lagu, yang salah itu kamu, bukan lagunya. Karena pada dasarnya semua lagu itu halal, bergantung kita yang memaknai dan mengartikannya. Apapun lagunya, apapun jenis musiknya, tak masalah Selama kita senantiasa mengingat Tuhan. Demikian. Selamat natal. Damai besertamu!