Simak Koleksi Foto Hasil Jepretan Seorang Pembunuh Berantai

Pada 1979, Kepolisian Huntington Beach menemukan ratusan foto perempuan yang dijepret pembunuh berantai bernama Rodney Alcala. Banyak perempuan di foto tersebut yang belum teridentifikasi hingga sekarang.
9.4.18
Images courtesy Huntington Beach Police Department

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Pada 26 Juli 1979, detektif kasus pembunuhan dari Huntington Beach, California, menemukan ratusan foto perempuan tidak dikenal tersimpan dalam loker milik Rodney Alcala di Seattle. Saat itu, detektif sedang menyelidiki kasus pembunuhan seorang anak perempuan 12 tahun, Robin Samsoe, yang sempat didapati mengobrol dengan Alcala di bulan sebelumnya. Anting Robin juga ada di loker tersebut.

Alcala yang dijatuhkan hukuman mati pada 8 Mei 1980, tetapi berhasil mengajukan banding pada 1984, menuntut bahwa melibatkan dugaan masa lalu ke dalam kasusnya yang sekarang membuat kasus tidak sah. Persidangan berikutnya, pada 1986, juga dibatalkan karena hakim telah, “menghalangi pembela dari menunjukkan bahan bukti terhadap masalah-masalah yang ada dalam kasus ini.” Alcala divonis Maret 2010, dan lagi-lagi dijatuhkan hukuman mati.

Walaupun sulit terjerat hukum, Alcala adalah pembunuh kelas atas. Dalam tiga persidangannya antara 1980 dan 2010, dia terbukti telah membunuh tujuh perempuan, yang menurut detektif jumlah korbannya bisa bertambah. Dengan menggunakan teori ini, Huntington Beach Police Department (HBPD) secara terbuka merilis foto-foto jepretan Alcala di akhir persidangan terakhir. Mereka berharap ada yang mengenali salah satu perempuan tersebut, atau membuktikan kalau mereka hilang.

“Sejumlah perempuan, nyaris 30 orang, mengakui pernah di foto oleh Alcala,” lapor detektif HBPD, Patrick Ellis. “Koleksi fotografinya termasuk rekan kerja, teman sekelas, pacar, anggota keluarga, dan orang asing. Namun yang mengakui tidak mengenal baik dengannya tidak sampai 10 orang.” Terlepas sudah menurunnya panggilan sejak 2010, Ellis mengakui tidak ada satu pun perempuan yang dilaporkan menghilang. HBPD telah menghapus foto yang sudah teridentifikasi dari situsnya, menyisakan foto-foto perempuan yang belum teridentifikasi.

Mantan detektif Steven Mack juga turut menyelidiki kasus Alcala 2010 lalu. Dia yakin bahwa beberapa perempuan di foto tersebut sudah dibunuh. “Saya yakin masih ada banyak korban lain,” katanya. “Beberapa minggu lalu ada yang mengatakan 150 korban, tapi saya rasa tidak setinggi itu. Saya rasa bisa melebihi 10 orang.”"

Rodney Alcala lahir di San Antonio, Texas pada 1943, tapi pindah ke LA saat berusia 12. Setelah gagal dalam wajib militer (ia diberhentikan karena ada gangguan kejiwaan), dia kuliah seni rupa di UCLA dan lulus pada 1968, yaitu ketika dia melakukan kejahatan untuk pertama kalinya. Seorang pengendara motor menyaksikan dia menjebak anak perempuan 8 tahun untuk masuk ke dalam mobilnya. Saksi mengikutinya sampai ke apartemennya di Hollywood.

Saat polisi tiba, anak tersebut telah diperkosa, dipukuli dan keadaannya kritis, tapi Alcala kabur. Dia pindah ke New York dengan nama palsu dan berkuliah di NYU, di mana dia memasuki kelas film dan diajar oleh Roman Polanski, yang istrinya dibunuh oleh Charles Manson setahun berikutnya.

Adapun Polanski diduga telah memerkosa anak perempuan 13 tahun beberapa tahun setelahnya. Alcala belajar menggunakan kamera dari Polanski, dan memulai karirnya sebagai “fotografer fesyen.”

“Dia beruntung bisa bekerja sama dengan perempuan,” kata Mack. “Sebagai laki-laki biasa, mungkin mereka tidak akan berani mendekati perempuan cantik karena takut diabaikan. Tapi dia berbeda. Dia tidak takut sama sekali. Dia bisa membujuk mereka berpose untuknya, dan dia selalu berhasil.”


Tonton dokumenter VICE soal kasus pembunuhan anak petinggi Korut menyeret gadis asal Banten:


Dengan cara inilah dia sukses mengumpulkan foto-foto perempuan tersebut, termasuk foto pramugari New York 23 tahun bernama Cornelia Crilley yang dicekik sampai mati pada 1971. Fotografi menjadi modus operandinya, yang menyebabkan tiga kasus pembunuhan pada 1977: Ellen J. Hover berusia 23 dan Jill Barcomb berusia 18, yang dua-duanya berasal dari New York, dan perawat asal Malibu 27 tahun bernama Georgia Wixted. Pada 1978, ia muncul di acara tv ABC. The Dating Game , di mana dia berhasil mengalahkan dua kontestan lain untuk berkencan dengan perempuan bernama Cheryl Bradshaw. Untungnya, hubungan mereka gagal karena Bradshaw merasa Alcala yang sebenarnya “menyeramkan.” Dia memberi tahu CNN pada 2010, “Dia terlalu pendiam, tapi suka menyela atau memaksakan pendapatnya. Dia orangnya menyebalkan, kasar dan sangat mengintimidasi. Saya benar-benar enggak suka dengannya... Dia laki-laki terseram yang pernah kukenal.”

Setelahnya, dia juga membunuh Charlotte Lamb yang berusia 32, lalu Jill Parenteau yang berusia 21 pada 1979, dua perempuan tersebut tinggal di LA. Pada 20 Juni 1979, Robin Samsoe menghilang saat ingin les balet dan polisi menjarah apartemen Alcala di mana mereka menemukan struk loker penyimpanannya di Seattle. Alcala telah dipenjara di San Quentin State Prison sejak saat itu.

“Kasus ini sangat personal bagi saya,” kenang Mack yang sudah pensiun sekarang. “Dulu saya petugas patroli di Huntington Beach ketika Robin diculik. Dan saya sering memikirkan korban-korban yang ada di foto. Ellen Hoover dari New York dan perempuan-perempuan dari Los Angeles, dan Robin dari Huntington Beach. Kasus ini membuat saya menjaga lebih ketat anak-anak saya. Saya tidak mengizinkan mereka melakukan ini-itu. Saya bahkan tidak membolehkan mereka pergi ke pantai sendirian.”

Perempuan lain yang diduga menjadi korban Alcala termasuk Pamela Jean Lambson berusia 19 dari San Francisco. Dia menghilang pada 1977 setelah memberi tahu temannya kalau ia ada janji dengan seorang fotografer. Polisi mengatakan mereka tidak memiliki DNA untuk melanjutkan kasus ini, tapi kesaksian saksi sangat mirip dengan Alcala. Kepolisian di Seattle juga yakin bahwa dia adalah pelaku pembunuhan dua remaja perempuan pada 1977 dan 1978, tapi mereka tidak memiliki bukti untuk tuduhan tersebut.

Kemampuan Alcala kabur dari hukuman sering dikaitkan dengan IQ-nya yang jauh di atas rata-rata, yang dilaporkan mencapai 135. Namun, menurut Mack dia hanya beruntung.

“Saya sempat berbicara dengannya sekali. Menurut orang, dia punya IQ tinggi, tapi saya rasa dia tidak sepintar itu. Dia menulis buku You the Jury, dan saya mencoba membacanya. Tapi buku itu sangat tidak jelas. Penuh dengan omong kosong. Dia masih waras, tapi dorongan seksualnya yang tinggi membuat dia melakukan tindakan tersebut,” katanya.

Apabila kamu mengenali salah satu perempuan di artikel ini, kamu bisa menghubungi detektif Patrick Ellis di pellis@hbpd.org.

Jangan lupa follow Julian Morgans di Twitter.