Rahasia Penerbangan

Pilot Meyakinkan Penumpang Tidak Perlu Khawatir Saat Guncangan Pesawat Terjadi

Beneran, turbulensi di udara itu bukan masalah besar untuk keselamatan penerbangan. "Pilot menghindari goncangan karena kondisi bikin penumpang stres, padahal sih buat kami biasa.”
6.4.18
Illustration by Carla Uriarte

Gara-gara beberapa tahun lalu pesawat Malaysia Airlines MH370 menghilang tiba-tiba di udara, AirAsia jatuh ke laut, disusul berikutnya kopilot Germanwings bernama Andreas Lubitz sengaja menabrakan pesawat dengan kode 9525 ke Pegunungan Alpen Perancis—saya tidak lagi merasa aman naik pesawat terbang. Dari semua masalah penerbangan, goncangan pesawat di udara adalah yang terburuk. Ada rasa tidak berdaya ketika pesawat mulai bergetar, terutama ketika kita tidak tahu alasannya. Maka demi ketenangan saya naik pesawat, saya meminta beberapa pilot menjelaskan penyebab pesawat kadang mengalami goncangan, baik ketika melewati awan atau di langit cerah biasa.

Iklan

“Goncangan selama terbang setulnya tidak perlu ditakuti,” ujar Keith Tonkin, mantan pilot militer dan direktur grup konsultan Aviation Projects. “Pesawat modern didesain untuk menahan tenaga jauh lebih kuat dibanding sekedar goncangan. Pesawat tidak akan hancur hanya karena itu.” Dia menambahkan pesawat militer malah secara rutin terbang masuk ke dalam topan demi membaca meteorologi, dan sekedar membuktikan betapa kokohnya pesawat tersebut.

Selain masalah konstruksi, saya ingin tahu apabila goncangan bisa menghentak sebuah pesawat keluar dari langit. Saya mengingatkan Tonkin insiden November 2001. Kala itu Penerbangan nomor 587 dari maskapai American Airlines jatuh setelah berangkat dari Badara JFK di New York, menewaskan seluruh 260 penumpang, ditambah lima korban tewas lainnya ada di darat. Penyebabnya? Pesawat tersebut lepas landas di belakang pesawat lain, lantas terkena dampak goncangannya.

Tapi Tonkin meyakinkan saya bahwa dalam insiden tersebut, Penerbangan 587 lepas landas terlalu cepat. Dia menambahkan bahwa faktor kesalahan manusia adalah sebagian besar alasan pesawat mengalami kecelakaan, sementara goncangan metereologis hanya merupakan gangguan, bukan bahaya. “Kami menghindari goncangan karena itu membuat penumpang stres,” ujarnya, “tapi bagi pilot, ini sama sekali bukan masalah.”

Ada tiga kategori goncangan: termis, mekanik dan memotong. Sesungguhnya, ketiga jenis goncangan ini adalah versi kecil dari aktivitas air mengalir. Udara hangat akan naik, sama seperti air bergejolak dari dalam. Ini disebut goncangan termis, dan kalau kamu pernah naik pesawat melewati awan-awan siang hari saat lepas landas, kamu mungkin sudah pernah mengalami goncangan termis.

Iklan

Yang kedua adalah goncangan mekanik, yang terjadi ketika struktur fisik seperti pegunungan atau gedung menganggu arus angin, sama seperti bagaimana batu besar menghasilkan efek riak di sungai yang mengalir. Ini berbahaya, namun mudah diprediksi dan pilot tinggal menghindari terbang di dekat struktur tinggi ketika berada dalam ketinggian rendah.

Contohnya ini:

Tipe terakhir adalah goncangan memotong, yang intinya menjelaskan perbatasan antara dua kantung udara yang bergerak ke arah berlawanan. Ini mengerikan karena kamu tidak bisa memprediksi seberapa parah goncangannya, contohnya ketika pilot masuk keluar dari jet stream (aliran angin kencang di bagian atas atmosfer).

Jet stream sama seperti jalan tol udara, merupakan kumpulan udara yang menyembur di atmosfir atas. Untuk meminimalisasi konsumsi bahan bakar, pilot sering meloncat masuk ke dalam stream ini untuk mengikuti ekor aliran angin. Mungkin kamu sedang setengah tertidur ketika lampu tanda sabuk pengaman dibunyikan, menginformasikan penumpang bahwa pilot hendak masuk atau keluar dari jet stream. Biasanya di titik ini, pilot sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, karena pesawat lain pasti sudah mencatat tingkat goncangan di zona transisi tersebut.

Goncangan direkam dan dibagikan ke berbagai maskapai pesawat berdasarkan sistem rating. Goncangan ringan didefinisikan sebagai gerakan sebesar 0.3-0.6 meter, dan membuat baki minuman bergetar. Goncangan sedang akan membuat pramugari mengencangkan sabuk pengaman mereka. Goncangan besar akan membuat object berterbangan, termasuk penumpangnya, biarpun kebanyakan pilot hanya mengalami goncangan besar beberapa kali sepanjang karirnya. Namun goncangan ekstrem-lah yang dihindari semua orang.

Iklan

Ketika ini terjadi, sebuah pesawat bisa naik atau turun 30 meter dalam hitungan detik, dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman pernah terbunuh karena terhempas ke dinding-dinding pesawat. Sesuai laporan Federal Aviation Administration AS, “Sejak 1980 hingga 2008, pesawat komersial di AS mengalami 234 kecelakaan goncangan, menghasilkan 298 cedera serius dan tiga kematian.”

Ron Bartsch adalah presiden AvLaw Consulting, sekaligus mantan direktur keselamatan maskapai Qantas. Dia mengatakan goncangan ekstrem sangat jarang terjadi, biarpun dia pernah mengalaminya sekali. “Saya ingat sedang menerbangkan pesawat kecil menuju Sydney melewati Pegunungan Biru Australia,” ujarnya. “Ada badai dan goncangan mekanik di atas gunung dan saya sedang terbang lumayan rendah, sekitar 10.000 kaki.” Dia ingat menabrak tembok udara yang membuat pesawatnya naik ke atas, di mana oksigen lebih tipis. “Pesawatnya tidak tertekan dan saya takut akan jatuh pingsan. Hidung pesawat menukik ke bawah sepanjang waktu, tapi meloncat dari ketinggian 10.000 kaki ke 12.000 kaki. Momen-momen seperti itulah yang membuatmu layak dibayar mahal sebagai pilot.”

Ini adalah alasan kenapa pilot penerbangan komersial akan melakukan apapun demi menghindari goncangan. Sebuah pesawat komersil tidak akan mendekati gunung dalam ketinggian 10.000 kaki dan memilih terbang memutari badai daripadai melewatinya. Ini bukan karena pesawat tidak bisa menghadapi kondisi macam itu, tapi karena kebanyakan penumpang tidak akan mengerti apa yang terjadi. Bagi Keith dan Ron, menabrak guncangan itu seperti mobil yang melewati lubang aspal. Memang tidak diinginkan, tapi tidak menimbulkan masalah apapun.

“Sepertinya banyak pesawat jatuh tahun lalu,” ujar Ron Bartsch, menanggapi ketakutan saya untuk terbang. “Tapi itu lebih perihal persepsi dibanding realita. 2013 adalah tahun teraman untuk terbang, dan 2014 juga tidak beda jauh.” Dia juga mengatakan bahwa angka kecelakaan pesawat tahun lalu belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak ada yang terjadi akibat guncangan. Dia kemudian menyuruh saya melihat beberapa statistik.

Tiga miliar orang yang naik pesawat terbang di 2014, hanya 692 orang yang meninggal akibat kecelakaan penerbangan komersial. Lantas apa artinya angka tersebut? Kamu punya kesempatan lebih besar menang lotere dibanding meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Follow Julian di Twitter.