VICE ke Pyongyang, Menyaksikan Militer Korut Gagal Uji Coba Roket Pengangkut Bom Nuklir

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

PYONGYANG, Ibu Kota Korea Utara—saat kami tiba, kesibukan dan hiruk pikuk menyapu seluruh sudut kota.

Videos by VICE

Minggu Pagi, ketika orang-orang di seluruh dunia merayakan Paskah, Korea Utara ‘merayakan’ uji coba peluru kendali jarak menengah dari Kota Sinpo, kawasan Timur Laut berbatasan dengan perairan Jepang. Uji coba tersebut sebetulnya gagal. Misil itu “meledak nyaris seketika setelah diluncurkan” menurut keterangan Komando Militer Amerika Serikat untuk Kawasan Asia Pasifik. Rencana Korut menjajal persenjataan mereka sempat membuat seluruh dunia kalang kabut pekan lalu. Ketegangan muncul di Semenanjung Korea, sebab momen uji coba itu bertepatan dengan kedatangan rombongan kapal perang AS yang bersandar di Korea Selatan. 

Rezim penguasa Korut segera menyebut kedatangan militer AS sebagai provokasi. Sebaliknya, Washington D.C memperpanas suasana, dengan menyebut tak akan segan-segan “menyerang [Pyongyang] lebih dulu” seandainya Korut benar-benar melakukan uji coba nuklir yang bisa membahayakan negara-negara di sekitarnya. 

Ketegangan ini terjadi di tengah perayaan 105 tahun kelahiran Kim Il-sung, kakek penguasa Korut saat ini Kim Jong-un, sekaligus pendiri Korea Utara dan presiden seumur hidup yang jatuh Sabtu lalu. Bagi rakyat Negeri Tertutup itu, hari lahir bapak bangsa setara dengan perayaan kemerdekaan. Uji coba nuklir maupun peluru kendali militer Korut juga nyaris selalu dilakukan pada 15 April. 

VICE datang ke Lapangan Kemerdeakaan di pusat kota Pyongyang. Choe Ryong-hae, tangan kanan Kim Jong-un, sedang berpidato. Tak berapa lama setelah pidato usai, ribuan personel militer dan juga warga sipil berparade. Barisan ini berjalan rapi tanpa cela, disambut senyuman Kim Jong-un sang pemimpin tertinggi yang duduk di balkon panggung khusus.

Berdasarkan data resmi pemerintah Korut yang kami peroleh, parade tahun ini menampilkan debut pasukan khusus militer Angkatan Darat. Pasukan khusus itu mengenakan teropong malam. Penampilan mereka menandai ketidakpedulian Rezim Pyongyang pada sanksi internasional yang dijatuhkan tahun lalu. Sesuai mandat PBB, Korut sebetulnya tak boleh memiliki beberapa perlengkapan militer, termasuk teropong pemantau untuk malam hari.

Semua foto oleh tim VICE News.

Sesuai perkiraan, setelah parade ribuan manusia dalam atribut militer, hari besar Korut akhir pekan lalu diwarnai parade artileri berat. Termasuk deretan peluru kendali yang dimiliki Negeri Para Pertapa itu. Truk militer paling depan mengangkut rudal balistik lintas benua (ICBM) yang dijuluki Taepodong-2. Roket inilah yang diklaim Pyongyang bisa menjangkau daratan AS seandainya perang terjadi. Tidak jelas apakah roket yang dipamerkan akhir pekan lalu hanya prototipe atau sudah berfungsi normal. Roket ini bisa ditembakkan dari lokasi manapun serta memakai bahan bakar minyak. Militer AS masih mencari informasi tambahan apa jenis rudal yang gagal diluncurkan Minggu pagi kemarin. Pejabat Pentagon, kepada CNN, mengaku kesulitan merangkum data intelijen, mengingat roket yang ditembakkan meledak terlalu cepat.

Bertepatan dengan pawai nasional di Pyongyang, Wakil Presiden AS Mike Pence tiba di Seoul, Korea Selatan. Pence menemui beberapa petinggi Korsel. Pence menyebut peluncuran roket Korut, walapun gagal, sebagai “tindakan provokatif.”  

“Pagi ini, provokasi kembali dilakukan oleh rezim Korea Utara. Peristiwa itu mengingatkan semua negara risiko yang harus dihadapi oleh rakyat Korea Selatan dalam mempertahankan kebebasannya. Peristiwa itu sekaligus mengingatkan AS untuk selalu waspada dengan ancaman pertahanan yang bisa muncul dari kawasan Semenanjung Korea,” kata Pence.

Penasehat Keamanan AS, H.R McMaster, saat tampil dalam siaran televisi berjanji akan segera merapatkan “tindakan terbaik” untuk menyikapi ancaman dari Korut. Beberapa detik setelah peluncuran rudal yang gagal, Presiden AS Donald Trump mencuit di Twitter. Dia menyebut “China siap bekerja sama dengan Amerika” untuk menangani situasi keamanan yang tidak stabil di Korut.

McMaster memberi keterangan tambahan mengenai makna dari cuitan Trump di media sosial. “Presiden memberi sinyal yang jelas bahwa AS tidak bisa menerima situasi Korsel selaku sekutu mereka di Semenanjung Korea, kini terancam oleh negara tetangganya yang terus memamerkan persenjataan nuklir,” ujarnya.

Awal pekan ini, setelah bertemu Presiden Cina Xi Jinping, Trump menyatakan negaranya siap melakukan kebijakan balasan pada Korut, seandainya Cina tidak bersedia membantu mereka ‘mendisiplinkan’ Pyongyang. Trump tidak merinci kebijakan seperti apa maksudnya, termasuk apakah ada peluang AS melakukan intervensi militer di Korea. Seandainya risiko terburuk adalah peperangan, maka Amerika masih mengalami kendala. Trump belum memilih Duta Besar baru untuk Korsel, Jepang, dan Cina. Jabatan Wakil Menlu untuk Asia Timur dan Pasifik juga masih lowong. Padahal dua sosok itulah yang nantinya akan memimpin garis depan, seandainya pecah perang di Semenanjung Korea.

NBC News mengutip sumber dari Pentagon, menyatakan persiapan “serangan preventif dengan senjata konvensional” ke Korut seandainya ada uji coba nuklir. Berita itu segera dibantah oleh pejabat Washington sebagai “omong kosong” belaka. Pejabat lain yang dikutip sebagai sumber anonim, meluruskan bila serangan ke Korut itu hanya terjadi jika AS diserang terlebih dulu.

Dalam kesempatan terpisah, Xi Jinping mengingatkan Korut dan AS agar tak saling memprovokasi. Dia menyatakan semua pihak sebaiknya menekankan tercapainya “kesepakatan damai”. Posisi Tiongkok saat ini dalam dilema. Presiden Jinping sempat menyebut tak ingin Korut mengacaukan stabilitas kawasan. Namun di sisi lain, ada perjanjian militer antar kedua negara, yang menyatakan Cina wajib memberi bantuan seandainya Korut diserang oleh negara lain. Artinya, jika AS menyerang Pyongyang, maka Beijing harus ikut serta. Risiko terburuk apabila skenario perang terjadi adalah Korut menyerang pangkalan militer Amerika yang terletak di Korsel atau Jepang.

Dari pengamatan tim VICE News di Pyongyang, situasi sepanjang akhir pekan lalu lebih mengarah ke sukacita. Media massa setempat tidak memberitakan adanya ancaman perang dengan AS. Suasana pawai dan pasar kaget mewarnai seluruh Ibu Kota Korut saat kami berkeliling selama 30 menit ditemani pejabat pemerintah setempat. Beberapa tenda kaki lima buka, menyediakan es krim, air mineral, serta mi instan.

Pejabat Pers Korut sempat meminta wartawan asing, termasuk VICE, untuk tidak menyinggung uji coba roket yang gagal. Topik lain yang dianggap tabu adalah semua pembahasan tentang sosok Kim Jong-un, sang pemimpin tertinggi Korut. Dari kesimpulan sementara, melihat antusiasme rakyat merayakan hari lahir Kim Il-sung, negara totaliter ini benar-benar abai pada ancaman geopolitik yang mengintai mereka seandainya pecah perang dengan AS. Atau, kemungkinan lainnya, Korut memang sangat percaya diri sanggup menghadapi negara manapun dengan segala provokasinya yang melibatkan senjata nuklir.

Keegan Hamilton turut berkontribusi dalam laporan ini.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.