Skenario Kiamat

Panduan Menyelamatkan Diri Saat Bom Nuklir Jatuh di Kota Kalian

Peluang terjadinya peristiwa macam itu tidak bisa diasumsikan nol persen lho. Engga ada salahnya kan siap-siap. Pakar nuklir membantu kita membayangkan skenarionya.
5.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Bom nuklir menganggu pikiran banyak orang akhir-akhir ini karena ketegangan Amerika Serikat dengan Korea Utara semakin meningkat. Bagi lembaga pemerintah dan perencana strategi bencana, bom nuklir selalu dianggap sebagai skenario terburuk ketika perang terjadi. Namun skenario yang dipertimbangkan pemerintah tidak terkait langsung dengan rudal jarak jauh dan pembasmian masal ala Perang Dingin, melainkan kemungkinan peledakan bom nuklir oleh teroris—terutama, bom nuklir sebesar 10-kiloton (KT). Sebagai pembanding, bom nuklir sebesar itu hanya sedikit lebih kecil dari ukuran bom yang diledakkan pemerintah AS di Hiroshima. Kekuatannya setara 5.000 truk bom Oklahoma City (Bom nuklir Korut diperkirakan menyamai ukuran itu pula). Walaupun kamu ngikutin perkembangan ancaman teroris akhir-akhir ini, pengetahuan itu bukan apa-apa dibandingkan dengan persiapan yang telah dicantumkan pemerintah pada Ready.gov. Agensi pemerintah selalu memperbaiki tanggapan keamanan mereka terhadap ancaman nuklir—mengkordinasikan kewajiban agensi, dan bahkan mengadakan simulasi untuk mengetahui bagaimana jika bom nuklir meledak pada kota-kota seperti LA dan Washington DC. Baru-baru ini, dana pemerintah disalurkan untuk proyek pemodelan komputasional di George Mason University, untuk memprediksi bagaimana orang-orang akan bereaksi pada 30 hari pertama serangan nuklir di New York City. Jadi anggap saja, salah satu dari skenario terburuk versi pemerintah benar-benar terjadi, dan entah bagaimana bom nuklir 10 KT diledakkan tanpa peringatan apapun. Berikut adalah linimasa bagaimana mimpi buruk ini terjadi detik demi detik. Kami sekalian mengulas kesempatan manusia biasa di lokasi kejadian bertahan hidup. 15 Detik Pertama
Kalau kamu masih hidup, kamu mungkin berjarak 1,6 km dari lokasi ledakan bom: Sebuah nuklir 10 KT tidak akan meruntuhkan seluruh kota, tapi jelas akan menyebabkan kerusakan signifikan, terutama di sekitar area ledakan. Itu berarti, sekitar 75.000 hingga 100.000 orang sudah mati—mereka yang malang ini berjarak 1 km atau kurang dari lokasi ledakan, ujar Irwin Redlener, direktur National Center for Disaster Preparedness di Columbia University. Sebagian besar gedung akan runtuh juga, ujar Brooke Buddemeier, dokter di Lawrence Livermore National Laboratory. Bahkan dalam jarak 4.5 km—disebut zona "kerusakan ringan"—kaca-kaca akan pecah dengan kekuatan yang dapat melukai manusia, ujar Buddemeier, sementara bola api sepanas matahari meluncur 7.5 km ke atmosfer, menarik kotoran dan puing-puing dari bangunan yang roboh.

Iklan

1-15 Menit Pertama
Mayday. Kamu punya waktu 15 menit mencari tempat berlindung. Buddemeier menggarisbawahi hal paling penting: Jangan berjalan-jalan di luar ketika semua kotoran dan puing-puing, yang telah terpecah menjadi partikel radioaktif seukuran pasir dan garam, kembali berjatuhan ke tanah, menyebabkan keracunan radiasi bagi siapapun yang terpapar.
Keracunan radiasi tidak main-main. Coba ingat-ingat kejadian di Brazil 1987, ketika sumber radioterapi pada mesin teleterapi dicuri dari rumah sakit terbengkalai oleh dua laki-laki yang menyangka hal tersebut merupakan logam bernilai tinggi. Mereka membawanya pulang dan membongkarnya, sehingga terpapar radiasi, sebelum akhirnya menjualnya di pasar kaget, dan pembelinya membawa alat itu ke dalam rumahnya. Akhirnya empat orang tewas, 249 orang menerima eksposur radiasi signifikan, dan pemerintah Brazil meruntuhkan beberapa rumah atas alasan keamanan. Dan kasus tersebut hanya disebabkan oleh bagian kecil sebuah mesin teleterapi. Selain menyebabkan kematian jika terpapar dalam jumlah banyak dan waktu singkat, keracunan radiasi juga dapat menyebabkan kulit melepuh dan kerusakan pada sumsum tulang, lapisan paru-paru, dan saluran pencernaan, serta efek jangka panjang seperti leukemia.

Laboratorium Nasional Lawrence Livermore merancang bangunan bencana nuklir.

15-60 Menit Pertama
Kamu bersiap lari ke gedung perkantoran terdekat, namun pada detik-detik terakhir kamu melihat sepasang anak kecil yang ketakutan. Persetan radiasi, kamu merasa harus menolong mereka. Ya terserah kalau kamu merasa sekuat Luke Cage—masalahnya, partikel seukuran pasir dan garam sekarang sedang berjatuhan, nyangkut ke rambut, di mantel, di sepatu, sembari kamu berlari ke tempat perlindungan terdekat. Kini kamu berisiko keracunan radiasi. Bahayanya tergantung pada sedekat apa jarakmu dengan lokasi ledakan dan seberapa cepat setelah ledakan kamu terpapar. Menyoal radiasi setelah ledakan nuklir, "yang kita perlu khawatirkan adalah dampak akut," ujar Buddemeier, yang terjadi ketika seseorang terpapar radiasi dosis tinggi dalam waktu amat singkat, sampai-sampai kita bisa muntah. Saluran pencernaan sangat sensitif terhadap radiasi, jadi kalau kamu mulai muntah tak lama setelah ledakan, itu adalah tanda kamu telah terpapar pada radiasi dosisi tinggi (baca: berpotensi mematikan).

Terang saja, kamu butuh pertolongan medis. Sebagai pertolongan pertama, obat bernama Prussian blue dapat ditegak untuk membantu radiasi lewat lebih cepat dalam tubuh, ujar Redlener, tapi kamu mungkin akan kebingungan mencari obat itu dalam keadaan bencana. Sebagian besar orang tidak akan menemukan obat itu: Persediaan obat kami "sangat tidak cukup" untuk skenario bom nuklir dan tidak ada sistem untuk mendistribusikannya. Tindakan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mencari tempat berlindung untuk meminimalisir kerusakan dengan melepaskan pasir-pasir nuklir dari tubuh—itu setidaknya membantu mengurangi durasi terpapar nuklir. Pertama-tama: lepaskan pakaian dan membersihkan pasir-pasir nuklir dari rabut. Mungkin kita tidak bisa mandi, tapi kalau menemukan air, langsunglah bilas tubuh—tapi dengan lembut ya. Jangan menggosok terlalu keras, karena nanti justru bisa melukai kulit dan menekan pasir-pasir nuklir masuk ke dalam kulit.