Umat Manusia Diprediksi Tak Lama Lagi Akan Bertemu Alien
Observatorium Astronomi di Socorro, New Mexico. Hak Cipta gambar oleh NRAO/AUI.
alien

Umat Manusia Diprediksi Tak Lama Lagi Akan Bertemu Alien

Buku baru fisikawan Jim Al-Khalili mengulas potensi kehidupan ekstraterrestrial dari sudut pandang sains.
12.5.17

Fisika Murni biasanya bikin kepala kita berasap karena rumitnya gak ketulungan. "Tapi ilmu murni sebenarnya punya eksotisme tersendiri," ujar fisikawan kuantum Jim Al-Khalili. "Belakangan fisika murni berhasil menemukan peminatnya berkat acara sains populer dan dokumenter TV tentang Big Bang atau lubang htam," imbuhnya. Al-khalili memang mendalami cabang fisika yang membahas hal-hal macam ini. Dia baru saja meluncurkan buku menarik berjudul Aliens: The World's Leading Scientists on the Search for Extraterrestrial Life, yang membahas kemungkinan keberadaan kehidupan di luar Bumi.

Iklan

Al-khalili, ilmuwan kelahiran Irak yang kini tinggal di Inggris, membuka bukunya dengan sebuah anekdot: Fisikawan peraih Nobel Ernico Fermi dengan ngobrol ngalor ngidul, sembari bercanda, bersama beberapa rekannya di Los Alomos National Laboratory. Di tengah obrolan, sang fisikawan itu memunculkan pertanyaan unik. "Lah yang lainnya pada kemana?" Maksud Fermi, menurut Al Khalili, adalah jika alam semesta ini begitu luas dan memiliki banyak planet, maka sah-sah saja jika kita menduga bahwa Bumi bukan satu-satu planet yang dikarunai kehidupan, kecuali jika memang planet kesayangan ini adalah sebuah planet yang kepalang "spesial."

Aliens, yang diterbitkan oleh Picador, kemudian ditulis seperti apa yang kita bayangkan tentang percakapan Fermi dan koleganya di Los Alamos: ilmuwan beneran yang serius terlibat percakapan woles tentang pertanyaan yang selama ini banyak dibahas oleh mereka yang percaya teori-teori konspirasi tentang Area 51 dan penculikan oleh alien— apa bener ada kehidupan di luar bumi. Buku yang disusun Al-Khalili ini menawarkan esai berbasis temuan beragam penilitian yang ditulis oleh astronom, pakar genetika, ahli astrofisika dan ilmuwan syaraf. Esai-esai ini menawarkan pandangan-pandangan baru tentang pertanyaan-pertanyaan seputar keberadaan makhluk ekstraterestrial. Beberapa astrobiolog menimbang-nimbang faktor apa yang penting bagi munculnya kehidupan dan menerka planet atau satelit mana yang bisa menopang kehdupan. Sebaliknya, pakar ilmu syaraf Anil Seth malah membahas kecerdasaan "alien" yang ditemukan pada ubur-ubur. Sementara, kosmolog Martin Rees berspekulasi tentang kemungkinan manusia bersatu dengan kecerdasaan mesin supaya bisa menyusuri alam semesta yang luas dalam bentuk cyborg. Benang merahnya adalah semua pakar yang menulis dalam buku ini sama-sama berusaha menjawab pertanyaan: apakah kehidupan cuma bisa muncul di Bumi? Atau, apakah kehidupan bisa begitu saja muncul jika kondisinya memungkinkan? Semuanya adalah pertanyaan kuno yang, menurut penjelasan Al-Khalili, kini bisa jawab dengan berbagai jenis teknologi yang kini dikuasai manusia.

Foto dari arsip pribadi Jim Al-Khalili

VICE: Apa yang membuatmu tetarik dengan pertanyaan dalam buku ini? Apa kamu termasuk orang yang memiliki ketertarikan menahun tentang alien?
Jim Al-Khalili: Buku ini bukan tentang alien doang kok, tapi lebih kepada tentang apa sih yang begitu spesial tentang kehidupan. Ada beberapa pertanyaan dalam sains yang sampai saat ini belum ada jawabannya. Ini yang biasanya kita sebut sebagai pertanyaan besar sains seperti ada sebelum Big Bang? Apa yang dimaksud kesadaran? Bagaimana kehidupan bisa muncul di Bumi? Pertanyaan ini kan menerabas batas disiplin ilmu—semua cabang ilmu pengetahuan pasti sangat tertarik membahasnya. Dulu saat masih muda, saya tertarik dengan alien seperti teman-teman lainnya. Saya pengggemar cerita sains fiksi. Bagi saya, pertanyaan yang paling penting adalah apa sih yang begitu spesial tentang kehidupan—bagaimana kehidupan pertama kali muncul di Bumi dan apa yang bikin planet begitu spesial. Buku ini sangat serius, padahal ketertarikan akan kehidupan di luar Bumi biasanya jadi bahan obrolan orang aneh atau penggemar teori konspirasi.
Ada yang pernah bilang kalau hampir separuh internet terobsesi membahas teori konspirasi yang ngomongin penculikan oleh alien dan UFO. menurutku sih, setengah internet adalah jumlah yang sangat besar. Tapi, begitulah topik ini memang banyak dibahas di luar sana, dari X-files atau film-film fiksi sains lainnya. Maka, jadi aneh ketika akhirnya ilmuwan benar-benar membahas serius tentang keberadaan kehidupan di luar Bumi. Justru inilah yang membuat buku saya jadi lebih segar. Buku ini menunjukkan bahwa banyak dari pertanyaan di luar sana yang bisa dibahas secara serius oleh para ilmuwan. Kalau kamu benar-benar ingin kemungkinan keberadaan mahluk asing berwana hijau di luar sana, buku ini memberikan pembahasan ilmiah serius tentang hal itu. Jadi, persoalan-persoalan di atas harusnya jadi suatu yang menarik beragam orang tapi disuguhkan dengan penjabaran khas orang dewasa.

Anda bilang ada pergeseran dalam komunitas sains, yang kini semakin serius mengulas keberadaan alien. Menurut anda kira-kira kapan tren ini mulai terjadi dan kenapa paradigma ilmuwan pada isu alien berubah?
Pergeseran ini dipicu perkembangan mutakhir di bidang astronomi dan eksplorasi ruang angkasa selama satu atau dua dekade terakhir. Kita sudah mulai mengirim wahana luar angkaasa ke Mars, ke satelit-satelit planet gas besar seperti Saturnus dan Jupiter, dan kita sudah mulai meneliti kawasan yang memiliki potensi menyanggap kehidupan. Di saat yang sama, beberap dekade ke belakang, kita sudah menemukan beberapa eksoplanet di luar tata surya kita. Astronomi sudah sedemikian maju hingga apa yang dulu enggak kepikiran kini bisa jadi kenyataan. Kini, kita tak hanya bisa menentukan letak bintang yang memiliki planet di sekitarnya, tapi kita juga bisa melihat apakah planet-planet itu punya atmosfer. Hanya dengan melihat cahaya dari bintang yang menembus lapisan atmosfer sebuah sebuah planet, kita bisa menyelidik molekul, elemen dan senyawa yang terkandung dalam atmosfer planet itu dan menentukan apakah kehidupan bisa muncul di sana. Jadi, kemajuan di bidang astromi dan eksplorasi luar angkasa ini bisa diartikan bahwa kita sekarang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Ini bikin saya yakin bahwa manusia akan menemukan kehidupan di luar Bumi selagi saya hidup. Wah, hebat juga ya.
Sepuluh tahun lalu, saya mungkin enggak kepikiran. Kini, semua hal menjadi terang. Salah satu kontributor buku ini, [profesor biokimia evolusioner] Nick Lane, membahas bangunan kehidupan. Apa yang kau butuhkan? Adakah yang magis? Molekul saban hari semakin rumit, dan pada akhirnya kita akan menemukan sesuatu yang dapat menyalin dirinya sendiri, dan itulah pelopor kehidupan. Sampai baru-baru ini kita berpikir ada langkah yang terlongkap—"lalu magis terjadi"—dan kamu mendapatkan biologi dari kimia! Namun tampaknya tidak ada langkah magis apapun. Kini saya menyadari bahwa konsensus di antara sebagian besar ilmuwan adalah, akan sangat mengejutkan jika kita tidak menemukan kehidupan lain, seumur hidup. Mungkin kehidupan itu tidak menarik-menarik amat—seperti makhluk dalam piring terbang—melainkan dalam bentuk kehidupan mikrobial. Namun, ya, bagi para ilmuwan hal tersebut cukup.

"Astronomi telah berkembang pesat, sehingga hal-hal yang tak terbayangkan satu dekade lampau kini menjadi kenyataan. Saya optimis dalam masa hidup saya yang singkat ini, besar kemungkinan ilmuwan akan berhasil menemukan kehidupan di planet lain."

Pertanyaan terbesar buku ini adalah "benarkah kehidupan di Bumi istimewa dan unik dalam semesta?" Ada banyak pandangan yang saling membantah. Di mana posisi Anda dalam spekulasi tersebut?
Ada spektrum luas berisi opini-opini para ilmuwan cerdas. Jadi saya berada di tengah-tengah karena saya tercerahkan oleh dua sisi tersebut. Pandangan naif saya adalah kita hanya tahu kehidupan hanya terjadi di satu tempat: bumi. Kita mulai melihat bahwa kondisi bumi tidak unik. Mungkin ini metafor buruk, tapi banyak bintang telah berjajar untuk hal itu—kita mesti berada pada jarak pas dengan matahari, kita mesti memiliki atmosfer, kita mesti memiliki bulan yang mempengaruhi ombak, kita mesti memiliki planet besar seperti Jupiter yang menyerap puing-puing supaya tidak menimpa kita. Namun ada banyak sekali tata surya; ada banyak sekali exoplanet, di galaksi kita saja ada jutaan, dan milyaran bumi-bumi lainnya memiliki kondisi cocok untuk kehidupan. Jadi dari sudut pandang itu, kita enggak unik-unik amat. Namun itu bukan berarti kita tahu bagaimana kehidupan bermula, hanya karena kondisi-kondisi tersebut ada. Kita tahu bahwa kehidupan di bumi bermula setelah bumi mendingin, yaitu 4 milyar tahun lalu. Saat itu, bumi hanyalah bola api yang panas. Kondisinya tidak kondusif untuk apapun. Nah, setelah kondisinya membaik, kehidupan pun muncul. Namun kehidupan multiselular, kehidupan yang dapat berevolusi menjadi organisme kompleks, beberapa di antaranya dapat mengembangkan akal dan kesadaran dan peradaban—yang merupakan langkah sulitnya. Sesulit apa, kita belum tahu. Bisakah anda membahas sedikit peran radio, televisi, dan satelit komunikasi masa kini, yang mempengaruhi upaya pencarian alien. Mengapa semua orang berasumsi bahwa alien menggunakan sinyal komunikasi yang sama seperti manusia?
Kita mulai dengan asumsi bahwa hukum fisika dan kekuatan alam adalah sama di seluruh jagad raya. Kita tahu empat dari kekayaan ini. Dua di antaranya aktif dalam atom, yaitu kekuatan nuklir. Dan sisanya adalah kekuatan gravitasi dan elektromagnetik. Gravitasi terbatas pada teknologi, namun elektromagnetik sama saja di manapun. Cahaya juga termasuk kekuatan elektromagnetik, begitu juga gelombrang radio. Ini berarti kita bisa memanfaatkannya sebagai mengirimkan informasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi kita bisa menarik asumsi jika kehidupan apapun yang tumbuh di luar sana, bahkan jika tidak terbentuk dari karbon—bahkan jauh berbeda yang dari yang pernah bayangkan—kami berpikir bahwa mereka juga akan menggunakan kekuatan elektromagnetik. Jadi, kita bisa menggunakannya sebagai cara komunikasi yang bersifat universal. Makanya, kalau manusia memutuskan untuk mengumumkan keberadaaanya ke seluruh alam semestam, kemungkinan besar bentuk kehidupan lain di luar sana akan melakukan hal yang sama. Ini alasan kenapa seluruh program SETI dirancang untuk mendengarkan sinyal elektromagnetik yang kami pikir tidak tercipta secara alami. Tentu saja, kita baru mengumumkan keberadaan kita sekitar 100 tahun atau lebih, ketika kita pertama kali menemukan radio. Jadi, sinyal elektromagnetik kita baru menyebar sampai jarak 100 tahuan cahaya. Alam semesta kan luar biasa besar—ada miliaran bintang di galaksi Bima Sakti saja—tapi kalau cuma 100 tahun cahaya, kita belum menemukan banyak bintang. Para alien sebaliknya mungkin sudah mengumumkan keberadaan mereka jutaan tahun lalu. Jadi, kalau pada akhirnya, kita bisa menerima sinyal seperti ini, kita harus ingat bahwa sinyal itu sudah menempuh jarang yang teramat jauh—jadi jangan terlalu ngarep kita bakal bisa membalas sinyal itu dengan bilang "Hi, kami di sini" apalagi mengontak makhluk pembuat sinyal itu. Tapi, bahwa kita tahu ada kehidupan di luar sana saja adalah sebuah pencapaian luar biasa. Rachel Riederer adalah Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Guernica. Follow Riederer di Twitter. Aliens: The World's Leading Scientists on the Search for Extraterrestrial Life sudah tersedia di toko buku dan bisa dipesan secara online di Picador.