Kasus Penistaan Agama

Di Hadapan Hakim, Ahok Bandingkan Dirinya Dengan Karakter Nemo

Lanjutan sidang penistaan agama yang menjerat Gubernur DKI itu berbelok membahas film kondang buatan Pixar. Apakah Ahok bersiap menjadi kritikus film setelah tak lagi menjabat?
25.4.17

Kita selalu mencari pesan-pesan tersembunyi dari fim animasi. Benar begitu kan? Eh engga ya? Tapi bener kok, film-film Disney sering dianggap mengandung pesan-pesan tersembunyi mengenai seks. Dalam kasus Pixar, studio animasi itu bahkan sering tak ragu bersikap politis lewat karya mereka. Barangkali, kita perlu mengakuinya sekarang. Film-film animasi Amerika buatan Studio Pixar sebenarnya menyimpan bejibun tendensi-tendensi politik tertentu. Perhatikan saja Wall-E, sudah jelas itu film bermuatan politik liberal yang menyerang konsep-konsep kapitalisme, keserakahan manusia, sekaligus menyindir para penolak ide perubahan iklim di pemerintahan yang bertanggung jawab atas kerusakan Bumi. Lalu Cars. Banyak pesan-pesan yang secara implisit ingin bilang industri minyak merusak lingkungan. Up bisa kita tafsirkan sebagai kritik atas penjajahan dan eksploitasi lingkungan.

Iklan

Intinya, ada banyak pesan-pesan politik dari film-film buatan Pixar. Termasuk Finding Nemo. Hmm, tunggu dulu. Nemo? Nemo si ikan badut yang terbawa ke Sydney dari Samudra Pasifik? Film imut dan mengharukan itu? Apaan nih bray pesan politiknya? Kalian hanya kurang jeli. Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah hitung cepat pilkada saja bisa menangkap pesan politik tersebut. Ahok, begitu sebutan akrab sang petahana, tak ragu berbagi pengetahuannya soal pesan politik dari Nemo ketika membacakan pleidoi sidang kasus penistaan agama yang menjeratnya hari ini. Harus diakui, pleidoi tersebut salah satu yang paling unik pernah digunakan oleh terdakwa manapun dalam sejarah persidangan Indonesia.

Di hadapan majelis hakim, Ahok berkukuh kata-katanya soal manipulasi tafsir Al Maidah ayat 51 adalah sekadar upaya menyampaikan kebenaran, walaupun bertentangan dengan keyakinan opini mayoritas. Politikus 50 tahun ini membacakan naskah pleidoi yang ditulisnya sendiri. Dalam pembelaannya, Ahok menyitir pengalaman menonton 'Finding Nemo' bersama anak-anak TK di Balai Kota beberapa bulan lalu.

Selesai menonton Nemo, anak-anak TK itu bertanya mengapa Ahok tampak ingin memusuhi banyak orang selama memimpin Jakarta. Dia memerintahkan penggusuran yang tidak populer, membuat birokrasi semakin transparan, serta sering melontarkan komentar kontroversial di mata lawan-lawan politiknya. Di hadapan anak TK itu, dia mengaku hanya ingin melakukan tindakan yang benar selama menjabat sebagai Gubernur DKI.

Iklan

Kata-katanya mengkritik politisasi agama kemudian dia sangkutkan dengan salah satu adegan klimaks film produksi 2003 itu. Tepatnya saat Nemo dan ayahnya mencoba menyelamatkan ratusan ikan yang terjebak jaring nelayan. Nemo berusaha mengajak ikan-ikan berenang ke arah bawah supaya bebas dari jaring, tapi sarannya diabaikan.

"Nemo yang tahu, Nemo minta berenang berlawanan arah, kira-kira orang nurut engga? Engga nurut awalnya," kata Ahok dalam sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian seperti dikutip Kompas.com.

Nemo lantas mengorbankan diri, memimpin dan mendorong ikan-ikan menarik jaring ke dasar lautan. Ketika mereka berhasil bebas, Nemo justru terkapar pingsan. "Begitu terlepas, ada nggak ikan yang berterima kasih ke Nemo yang terkapar pingsan? Tidak ada," kata Ahok. "Jadi inilah yang harus kita lakukan, sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang berbeda arah, kita harus tetap teguh. Semua tidak jujur, engga apa-apa, asal kita sendiri jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita tidak peduli karena Tuhan yang menghitung untuk kita, bukan orang."

Sejauh ini Ahok hampir pasti tidak akan masuk penjara akibat kata-katanya mengomentari ayat Al Quran tahun lalu. Jaksa hanya menuntutnya memakai pasal 156 KUHP yang mengatur kata-kata menimbulkan sikap permusuhan, bukan pasal penodaan agama. Jaksa menuntutnya dengan hukuman satu tahun penjara yang tak perlu dijalani asal dia tak melanggar hukum lagi selama masa percobaan dalam kurun dua tahun. Sidang vonis Ahok akan berlangsung 9 Mei mendatang.

Karena sekarang Ahok sudah dipastikan tak akan menjabat lagi sebagai gubernur DKI, dan mengaku hanya ingin jalan-jalan bersama keluarga, kalau boleh usul sebaiknya dia menjajal karir baru: jadi kritikus film. Eh seriusan ini. Ahok sudah berulang kali datang ke bioskop menonton film-film Indonesia terkini. Semua jenis film dia tonton. Mulai dari biopic macam Kartini, film komedi romantis nge-pop macam Bidah Cinta, sampai karya arthouse Istirahatlah Kata-Kata. Melihat kejeliannya menangkap pesan-pesan politik tersirat, bahkan dari film yang ringan Finding Nemo, artinya mata Ahok punya kejelian saat membaca sinema. Menjadi kritikus film justru langkah yang sangat-sangat logis baginya.

Jadi, kapan menulis ulasan film Pak Ahok? Mungkin sebagai permulaan, anda bisa mengirim naskahnya ke Cinema Poetica.