FYI.

This story is over 5 years old.

Berita

Teror Bom Mobil Terus Mengguncang Turki

Insiden di Kota Izmir ini berselang hanya beberapa hari dari penembakan klub malam di Istambul.
Sumber Foto: Associated Press

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Kurang dari sepekan setelah insiden penembakan klub malam di Kota Istambul menewaskan 39 orang, Turki kembali diguncang terorisme. Sebuah bom mobil meledak, disusul tembak menembak di gedung Pengadilan Kota Izmir, Kamis (6/1). Pejabat pemerintah Turki membenarkan dua insiden itu sebagai aksi teror. Pengejaran pelaku kini sedang dilakukan.

Serangan beruntun di Izmir menyebabkan satu petugas kepolisian dan pegawai pengadilan tewas. Belasan orang lain di lokasi kejadian mengalami luka-luka. Gubernur Izmir, Erol Ayyildiz, menyatakan tiga polisi terluka akibat penembakan kemarin. Sebelum memberondong tembakan, para pelaku terlebih dulu meledakkan bom mobil dengan pengendali jarak jauh. Mereka tiba-tiba melepas tembakan ketika mobilnya dihentikan oleh polisi, persis di gerbang pengadilan. Izmir adalah kota terbesar ketiga di Turki, merupakan kota pelabuhan besar di pinggir Laut Aegea.

Iklan

Dua pelaku tewas dalam tembak menembak dengan petugas keamanan. Satu pelaku lainnya berhasil melarikan diri. Pencarian besar-besaran kini sedang dilakukan aparat untuk memburunya. Ayyildiz menyatakan serangan ini kemungkinan besar didalangi kelompok separatis Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Kesimpulan ini didapat setelah aparat mempelajari metode serangan serta sasaran korban. PKK—yang dicap sebagai organisasi teroris oleh komunitas internasional—terkenal hanya akan menyerang aparat bersenjata Turki, tanpa melibatkan warga sipil. Kendati begitu, sampai sekarang belum ada kelompok mengaku bertanggung jawab atas insiden di Izmir.

Selama 18 bulan terakhir, Turki menjadi salah satu negara di dunia yang paling rutin mengalami terorisme. Pelakunya mayoritas dari dua kelompok: PKK dan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). PKK memerdekakan diri dari Turki pada 1984. Rata-rata simpatisan negara Kurdistan tinggal di wilayah selatan Turki. Sejak tahun itu pula, PKK melakukan serangan bersenjata menyasar aparat militer dan polisi Turki. Warga etnis Kurdi jumlahnya mencapai 1/5 populasi negeri bekas Kekaisaran Ottoman itu.

Bangsa Kurdi adalah etnis yang domisilinya tersebar di pelbagai negara Timur Tengah, mulai dari Turki, Suriah, Irak, hingga Iran. Sejak Kekaisaran Ottoman bubar, aspirasi bangsa Kurdi mempunyai Tanah Air sendiri tak pernah terwujud. Mereka selalu dicurigai dan dianggap separatis di masing-masing negara tempat mukimnya sekarang.

Iklan

PKK kembali melakukan aksi teror di seantero Turki, setelah perjanjian damai mereka dengan Ankara bubar jalan pada 2015.

Ketika PKK menjadi ancaman terutama di kawasan selatan, Turki menghadapi aksi teror lain yang digalang oleh ISIS. Konflik antara Turki dan ISIS dimulai sejak pertengahan 2015. Militan Khilafah menuding Turki sebagai antek Salibis, karena menyediakan pangkalan militer dan mengirim jet, membombardir markas mereka di utara Suriah. Keputusan Turki ikut menyerbu wilayah ISIS terhitung terlambat. Selama bertahun-tahun, aparat imigrasi Turki tidak banyak menghalangi arus orang asing yang ingin bergabung dengan ISIS lewat jalur darat ke Suriah. Pada 2014, Turki sempat dituding media massa internasional sengaja melindungi ISIS, bahkan "menyediakan" wilayah perbatasan mereka agar aman dipakai perekrut militan khilafah.

Sikap Presiden Recep Tayyip Erdogan pada ISIS—sebelumnya Turki selaku anggota NATO agak enggan terlibat ribut-ribut di Suriah—mulai berubah pada Juli 2015. Rangkaian pemboman di Diyarbakir dan Suruc saat itu didalangi ISIS. Sejak itu, Turki aktif membombardir markas ISIS dari udara, lalu terlibat dalam koalisi anti-ISIS pimpinan Amerika Serikat.

Berbeda dari PKK, serangan militan ISIS di Turki rata-rata menyasar tempat ramai yang penuh warga sipil. Mulai dari bandara, pesta pernikahan, serta perayaan tahun baru di klub malam. Sasaran utama militan ISIS adalah kelompok minoritas Kurdi dan Alevis.

Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, menyatakan aparat intelijen dan militer sebetulnya berhasil mencegah 339 rencana teror sepanjang 2016. Namun insiden yang lolos dari pengawasan tetap banyak. Dari ratusan plot ini, 313 diirancang PKK, 22 didalangi ISIS, dan empat lainnya hendak dilaksanakan oleh "kelompok kiri radikal."

Situasi dalam negeri Turki sempat limbung tahun lalu, akibat upaya kudeta yang berhasil digagalkan. Setelah kekuasaannya kembali aman, Presiden Erdogan melakukan serangan balik pada musuh-musuh politiknya. Dia menyerang pendukung ISIS dan PKK, serta membersihkan loyalis ulama karismatik Fethullah Gulen, yang dituding sebagai otak di balik upaya kudeta.

Sejak Agustus 2016, Turki memulai operasi militer diberi sandi "Tameng Eufrat". Operasi di perbatasan utara dan selatan ini menyasar dua target sekaligus, yakni membumihanguskan markas ISIS sekaligus memukul mundur kekuatan PKK.