Anggota Sekte

Sneakers Favorit Anggota Sekte Bunuh Diri Massal Kini Jadi Buruan kolektor

Gara-gara aksi gila pengikut sekte Heaven's Gate 20 tahun lalu, sepatu Nike semenjana itu meraih popularitas di masa kini.
16.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Dua puluh tahun lalu, tepatnya pada tanggal 24 dan 25 Maret 1997, anggota sekte Gerbang Surga (Heaven's Gate) menyewa sebuah rumah di daerah suburban San Diego dan sepakat melakoni ritual bunuh diri masal agar bisa menumpang UFO yang lewat bersama komet Hale-Bopp. Salah satu aspek yang aneh dari sebuah peristiwa yang kepalang aneh ini adalah semua jasad pelaku bunuh diri massal itu semuanya mengenakan sneaker berwarna hitam putih yang nampak baru.

Iklan

Beberapa minggu setelah peristiwa itu terjadi, berbagia siaran berita menyiarkan sebuah rekaman video dari dalam TKP.  rekaman itu menunjukkan jasad anggota sekte Gerbang Surga, hampir seluruh tubuh mereka ditutup kain berwarna abu-abu. Sepatu mereka—yang tak ditutupi kain—terlihat mencolok.

Sepatu yang dikenakan anggota sekte adalah jenis sepatu murah yang diproduksi oleh Nike. Nama produknya: Decades. Dalam sebuah artikel yang dilansir oleh website Sole Collector, Mark dan Sarah King, mantan anggota sekte Gerbang Surga yang masih mengelola website sekte Gerbang Surga sampai hari ini,  bersaksi bahwa Marshall Applewhite—sang pendiri sekte Gerbang Surga—punya alasan sederhana ketika memutuskan membeli Decades: sang pemimpin sekte itu berpikir barangkali beliau "akan dapat penawaran yang lebih okay" jika membeli dalam partai besar.

Cupilkan dari YouTube channel History TV

Setelah tragedi itu banyak diberitakan, Nike mengambil langkah yang umumnya diambil oleh perusahaan besar ketika menghadapi "bencana kehumasan": menghentikan produksi Decades. Sampai saat ini, Nike hanya mengeluarkan satu pernyataan terkait peristiwa bunuh diri massal tersebut. Dalam sebuah penyataan yang dikutip oleh Adweek, Nike menyebut peristiwa itu sebagai "sebuah tragedi" sebelum menambah sedikit embel-embel "yang tak ada sangkut pautnya dengan Nike."

Meski memang pada akhirnya Nike disalahkan atas kejadian ritual aneh sekte Gerbang Surga itu (ya iyalah), tindakan Nike menarik Decade dari pasar dan menghentikan produksinya secara tak langsung membuat sebuah sneaker  semenjana menjadi salah satu item paling dicari dalam komunitas penggola Sneaker.

Iklan

Sayangnya, sampai artikel ini diterbitkan, Nike tak menjawab permintaan saya untuk berkomentar.

Saya lantas menemuai Toni Jankun, seorang pengecer pakaian vintage yang mengaku sudah terjun dalam dunia jual beli sneaker bahkan sebelum istilah "sneakerhead" populer, untuk bicara tentang kisahnya memburu sneaker-sneaker ikonik. Jankun mengaku bahwa dia tak tahu menahu tentang sneaker Nike yang dikenakan oleh anggota sekte Gerbang Surga sampai dirinya melihat sebuah film dokumenter tentang sekte Gerbang Surga di layar TV.

"Dalam dokumenternya, nama sepatunya tak disebut-sebut," ujar Jankun. "Yang disebutkan itu adalah sepatu Nike berwarna hitam dengan coretan lambang Nike berwarna putih dan alas yang juga berwarna putih."

Detail seminim ini toh sudah merupakan modal yang cukup bagi Jankun untuk mulai berburu. Tak lama setelah menonton dokumenter itu, Jankun menemukan sepasang Decades ketika sedang menjelajahi sebuah pasar loak di Chicago.

Malang, sepatu yang Jankun temukan ternyata berukuran anak-anak. Meski demikian, insting pedagang Jankun segera bekerja. Sneaker tersebut disikat dengan harga $10 (setara Rp134 ribu) untuk kemudian dijual lagi dengan harga $150 (setara Rp2 juta). Seiring tahun berlalu, harga jual ulang sneaker langka memang meroket. Sepasang Decadsz orginal dihargai $6.600 (setara Rp88 juta) di ebay. (Jankun awalnya yakin sekali tak ada orang bakal mau merogoh koceknya dalam-dalam cuma buat membeli sepatu macam ini).

Iklan

Foto oleh David B

Akhirnya, Jankun menemukan sepasang snekar Decades yang benar-benar pas dengan ukuran kakinya. Tapi, Jankun dasarnya memang seorang pemburu. Baginya, proses perburuan sebuah sneaker jauh lebih mengasikkan dari memiliki sneakernya sendiri. Decades yang pas dengan kakinya itu kembali dilego juga pada gelaran Sneakerness, konvensi penggemar sneaker tahunan yang digelar di Swiss.

Walaupun Decades punya sejarah yang menyeramkan, Jankun tak pernah mengamali sesuatu yang ganjil, baik ketika mengenakan atau menjual Decades. "Engga ada yang aneh atau misterius gitu kok." ujarnya. "Aku cuma merasa memakai sebuah serpihan sejarah."

Kolektor sepatu vintage David B, yang dikenal sebagai  "Lemon" dalam komnitas pecinta sneaker, masih memiliki sepasang sneaker Decades. Sneaker legendaris itu dia dapatkan dari eBay hanya dengan harga $55 (sekitar Rp670 ribu) saja. Tentu, ini harga sebelum kegilaan akan sepatu vintage belum populer seperti sekarang.

"Sepatu itu aku gunakan kapan saja aku suka sepanjang tahun. Rasanya seperti aku mengenakan sesuatu yang tua tapi tak bakal cepat rusak," ujar Lemon. "Aku suka siluet sepatu ini dan Decades selalu kelihatan bersih."

Lemon mengaku sampai saat ini dia belum menjumpai orang yang sadar bahwa sepatu yang dikenakannya sama dengan sepatu yang membungkus kaki jasad anggota sekte Gerbang Surga. Lemon yakin "hanya kolektor sneaker Nike vintage yang bakal menyadarinya."

Ada satu hal yang membedakan Lemon dari Jankun:  Lemon selalu dibayangi masa lalu Decades yang kelam. "Aku selalu teringat peristiwa itu tiap kali melepas sneaker ini," ujarnya.

Lemon dan kawanannya menjuluki Decades sebagai "sepatunya kakek-kakek."

Lepas dari latar belakangnya yang kelam, Decades tentu tak akan jadi sepatu yang begitu berharga dan banyak diburu seandainya 39 anggota sekte Gerang Surga tak mengenakannya saat bunuh diri 20 tahun lalu.  Saya kembali menghubungi pasangan King, dua orang anggota sekte Gerbang Surga yang tersisa, untuk meminta pendapat mereka tentang tenarnya sneaker yang dipakai kawan-kawan mereka.

Jawaban mereka singkat saja. "Kami engga peduli-peduli amat kok."