FYI.

This story is over 5 years old.

Film

'Beauty and The Beast' Adalah Kisah Paling Kelam Dari Semua Cerita Disney

Karya populer Disney ini, walau dikemas secara musikal, sebetulnya mengambil ilham dari cerita rakyat yang topiknya problematis.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Kalau diperhatikan, cerita-cerita Disney sebetulnya menghilangkan sadisme dan peristiwa mengerikan dari sumber aslinya. Di Cinderella, dua kakak tiri tidak kehilangan jari kakinya; Little Mermaid dalam versi Disney juga tidak mati. Tafsir lebih ramah seperti itu tidak bisa dihindarkan—dongeng-dongeng memang berubah dan berkembang menyesuaikan karakter penonton baru. Setiap generasi memiliki pandangan berbeda soal apa yang dapat diterima anak muda. Karenanya, setelah kita kaji kembali, Beauty and the Beast versi Disney bisa dibilang salah satu versi tergelap dari dongeng yang pernah mereka angkat. Pada 1740, Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve menulis Beauty and the Beast dan mengemasnya sebagai alegori perjodohan: seorang perempuan cantik diserahkan kepada laki-laki kaya namun buruk rupa, yang menuntut si perempuan meninggalkan bapaknya untuk tinggal bersama si Buruk Rupa selama-lamanya (lengkap dengan mahar yang luar biasa mewah). Dihadapkan pada perpisahan dari keluarga serta wajah buruk si laki-laki, tidak heran bila si Cantik gemetar. Apa coba yang membuat kisah ini dongeng terasa manis, kenapa kita tidak menganggapnya sebagai cerita horor? Perhatikan satu kata kunci berikut: adanya persetujuan si Cantik. Untuk memahami betapa pentingnya unsur persetujuan, mari kita telaah lagi inti ceritanya. Beauty and the Beast, memiliki kesamaan dengan mitos Cupid dan Psyche. Intinya cerita laki-laki yang mabuk asmara, upaya pencarian cinta sejati, dan adanya elemen-elemen magis dalam cerita. Terlepas dari kesamaan-kesamaan yang ada, Beauty and the Beast memiliki cakupan yang lebih domestik, dari segi empati. Pengasingan seorang pedagang dari kota ke pedesaan adalah kisah kemalangan sehari-hari, tapi inti utama dongeng ini berlokasi di istana si Buruk Rupa, sementara satu-satunya tugas magis si Cantik adalah pulang tepat waktu setelah mengunjungi keluarganya. Artinya Beauty and the Beast menitikberatkan inti ceritanya pada gagasan pernikahan.

Iklan

Karenanya tidak salah bila bagian terkuat dari Beauty and the Beast bukan sihir, atau bahkan cinta, tapi persetujuan. Sebagian besar penceritaan ulang dongeng Villeneuve oleh Disney amat berhati-hati dalam mempertahankan semangat alegori utama tersebut. Si Buruk Rupa memastikan si Cantik paham betul apa yang akan dia hadapi. (Pada versi Sir Arthur Quiller-Couch tahun 1910, pembahasan topik ini lebih eksplisit: Si Buruk Rupa mewanti-wanti ayah si Cantik agar, "jujur kepada anak perempuanmu. Kamu mesti mendeskripsikan aku sejujur mungkin padanya. Biar dia bebas memilih apakah dia mau datang atau tidak…") Akhirnya, si Buruk Rupa bertanya pada si Cantik apakah dia datang secara sukarela. Adegan makan malam pertama mereka ditandai oleh si Buruk Rupa menghormati pilihan-pilihan si Cantik. Si Cantik mulanya kaget menyaksikan kekuasaan yang dia miliki sebagai calon istri Si Buruk Rupa. Bahkan ketika si Buruk Rupa meminta si Cantik menikahinya, dia melakukannya merasa tersanjung. Andrew Lang menggarisbawahi dinamika kekuasaan dongeng ini dalam Blue Fairy Book rilisan 1889:

"Oh! Aku mesti jawab apa?" ujar si Cantik, karena dia takut si Buruk Rupa marah jika dia menolaknya.
"Jawab 'ya' atau 'tidak' tanpa rasa takut," ujar si Buruk Rupa.
"Oh! Tidak," ujar si Cantik tergesa-gesa.
"Kamu menjawab tidak, jadi selamat malam," timpal si Buruk Rupa.
Si Cantik membalas, "Selamat malam," dan amat lega bahwa penolakan tersebut tidak membuatnya marah.

Iklan

Lang adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menafsirkan peristiwa lamaran pernikahan merupakan karakter dongeng bisa bersanggama (versi Jean-Marie Leprince de Beaumont rilisan 1756 adalah yang pertama melakukan tafsir seperti itu), tapi Villeneuve tidak terkecoh dengan topik yang disiratkan dongeng ini. Dalam cerita aslinya, si Buruk Rupa tanpa ragu meminta si Cantik tidur dengannya. Karenanya, kekuatan si Cantik terletak pada kemampuannya menghindari persetubuhan. Si Cantik tidak mengakui cintanya pada si Buruk Rupa sampai akhirnya dia direlakan pergi (dia kembali kepada si Buruk Rupa atas kemauannya sendiri). Belakangan keikhlasan si Buruk Rupa itulah yang melunakan hati si Cantik. Kisah ini tidak hanya menjadi peringatan bagi perempuan muda yang mencari cinta di luar batasan penampilan fisik tapi juga bagi laki-laki muda tentang bagaiamana semestinya menyikapi keputusan dan keinginan perempuan. Pakar dongeng, Jack Zipes, lewat buku Fairy Tales and the Art of Subversion menjabarkan setiap mandat sosial dongeng sebagai berikut: "simbol keindahan seorang perempuan terletak di kepatuhan, ketaatan, kesederhanaan, dan kesabarannya; sedangkan simbol kejantanan laki-laki ditemukan pada kontrol-diri, kesopanan, logika, dan keteguhannya." Disney menghapus bagian hubungan problematis dari dua karakter utama cerita Beauty and The Beast dan malah membuat kisahnya menjadi jauh lebih kelam. Dalam versi Disney, selain perkenalan si Cantik dan si Buruk Rupa yang tidak mulus, si Buruk Rupa malah menghukum si Cantik karena menolak makan malam bersama ("Kalau dia tidak mau makan denganku," ujarnya, "maka dia tidak perlu makan sama sekali!"). Dia mengancam Si Cantik secara fisik. Tempramen Si Buruk Rupa mesti dijinakan terlebih dahulu sebelum dia bisa mencintai dan dicintai—itulah persoalan utama karakter si Buruk Rupa versi Disney. Persoalannya bukan lagi soal penampilan. Dalam hal ini, versi Disney lebih mirip dengan horor Ceko tahun 1978, Panna a netvor (dalam cerita itu si Buruk Rupa mengekang hasratnya dan si Cantik naksir dengannya hanya karena merasa kesepian). Penceritaan ulang yang lebih gelap amat bernilai bagi dongeng-dongeng populer; Panna a netvor mengeksplor kemungkinan-kemungkinan yang tidak disertakan pada dongeng asli supaya terkesan lebih sopan dan bisa dinikmati anak-anak. Padahal, banyak tinjauan psikologi cerita Beauty and the Beast yang mengganggu kenyamanan banyak orang. Dalam Old-TIme Stories rilisan 1921, ilustrasi A.E. Johnson memberikan gambaran mengenai momen si Buruk Rupa mengizinkan si Cantik untuk pergi. Si Cantik membuang muka, dengan tangan terlipat, alis mengernyit. Si Buruk Rupa, tertunduk di kakinya seperti anak kecil dan memandang wajah si Cantik dengan tatapan marah. Karena berfokus pada karakter-karakternya, kisah ini menyiratkan bahwa hubungan asmara tidaklah sempurna.

Lucunya versi Disney tidak mau memuat aspek negatif cerita ini, walau menambah bobot kelam dalam bentuk berbeda. Disney menutupi bagian cerita penuh ancaman melalui lagu-lagu. Tentu saja, lirik lagu tidak bisa dianggap mengeksplorasi subteks yang terkandung dalam teks aslinya. Ini bukanlah adaptasi pertama Beauty and the Beast yang menunjukkan sifat-sifat kasar si Buruk Rupa; kisah yang berpusat pada dinamika kekuasaan di hubungan dapat bergeser antara dua karakter utama. Versi Disney meminta si Cantik memaafkan perilaku kekerasan, dan mengabaikan muatan dari persetujuan dalam hubungan lelaki-perempuan, serta menghapuskan kewajiban-kewajiban si Buruk Rupa terhadap pasangannya. Akibat pola penceritaan Disney, Beauty and the Beast menjadi sekadar upaya seorang perempuan "menjinakkan" laki-laki dan memandang di luar batasan fisik seseorang. ( Beauty and the Beast versi CW diperbarui dalam cetakan 1987, Si Buruk Rupa dalam versi tersebut bukanlah pahlawan cerdas yang mudah marah. Justru Si Cantik terperangkap dalam istana sadomasokis milik si Buruk Rupa). Beauty and the Beast versi live-action yang baru saja rilis seharusnya menyadari bahwa versi animasi 1991 memaksa si Cantik menjinakkan insting kasar si Buruk Rupa alih-alih menunjukkan soal cinta yang melampaui penampilan fisik. Belle kali ini memiliki wewenang penuh—bukan hanya dalam menolak makan malam tapi juga mempermalukan si Buruk Rupa karena menuntut ditemani—sehingga memaksanya kabur dari Istana. Yang tidak berubah dari film adaptasi terbaru ini adalah perilaku si Buruk Rupa. Kini dia mengizinkan perpisahan sebentar dari Belle, namun tuntutannya dan perilaku kasarnya masih ada. (Bahkan, versi live action menghapus bagian awal jika Si Buruk Rupa masih punya hati nurani. Dalam versi 2017, malah Lumiere yang membebaskan si Cantik dari tahanan, bukannya si Buruk Rupa karena merasa bersalah telah menyekap perempuan itu.) Flm baru Beauty and the Beast juga menunjukkan beberapa adegan baru di mana si Buruk Rupa "yang jinak" menemani Belle. Namun adegan pertamanya masih melompat langsung ke perkara yang problematis dari versi-versi sebelumnya: seorang pangeran tampan memandangi perempuan-perempuan cantik dan dengan kasar menolak pengemis yang ingin menumpang sejenak. Film live action Beauty and the Beast masih menunjukkan bahwa permasalahan si Buruk Rupa bukanlah rupa yang buruk tapi perilaku kasar. (Hal ini disengaja. Dalam pembuatan Beyond Beauty: The Untold Stories, pengarah skenario Roger Allers mengakui mengapa beberapa perubahan dibuat: "Intinya kisah tentang seorang perempuan yang terus-menerus makan bersama dan dilamar dan menolak—rada membosankan kan?")

Beauty and the Beast telah meninggalkan jejak penting dalam budaya populer. (Di antaranya, hal tersebut telah mengarah pada asumsi umum bahwa perempuan-perempuan cantik bisa mencintai laki-laki buruk rupa.) Disney memberi pemaknaan baru dengan harapan bisa lebih diterima generasi muda sekarang, namun hasilnya justru kemunduran besar dalam semangat memberi makna baru bagi hubungan lelaki dan perempuan. Disney membuat alegori perjodohan di mana persetujuan si Cantik menjadi kisah mengenai seorang perempuan yang ditahan oleh laki-laki yang kemudian cukup melunak dan tidak lagi menghukumnya karena menantang si laki-laki. Pergantian "penawan yang melunak" menjadi "laki-laki kasmaran" sering terjadi di budaya populer.

Wacana-wacana yang disinggung dalam artikel ini mungkin akan lebih mengesankan ketika dibahas melalui telaah teks serius. Film Beauty and the Beast yang menggunakan pembingkaian versi 1991 memberi kita bermacam-macam masalah: relasi kuasa timpang dalam hubungan lelaki-perempuan. Jika Disney cerdas, seharusnya pembaruan cara pandang dilakukan agar film remake versi 2017 bisa menggeser bayang-bayang persoalan cerita dari animasi awal.  Upaya semacam itu akan menjadikannya sebuah film yang berusaha berdialog dengan tafsir-tafsir terdahulunya. Disney tidak melakukannya sama sekali. Alih-alih, kita kembali menyaksikan ancaman-ancaman kekerasan yang sama dan sebuah lagu soal betapa besar rindu si Buruk Rupa pada si Cantik.