Konflik Suriah

Assad Gunakan Senjata Kimia ke Warga Sipil, AS Menggempur Suriah

50 rudal tomahawk ditembakkan militer AS ke gudang senjata dan pangkalan udara Suriah. "[Senjata Kimia di Idlib] menewaskan anak-anak dan bayi. Kami ingin tindakan barbar itu dihentikan," kata Presiden Trump.
7.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Amerika Serikat menggempur Suriah dari udara, dua hari setelah muncul laporan adanya serangan senjata kimia pada warga sipil di Kota Idlib. Setidaknya 50 peluru kendali Tomahawk ditembakkan ke lokasi-lokasi yang diduga menjadi gudang senjata militer Suriah sepanjang Kamis (6/4) malam waktu setempat. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan serangan rudal ini dalam jumpa pers. Dia mengerahkan militer untuk melakukan intervensi langsung di Suriah karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sudah melampaui batas dengan menyerang warganya sendiri menggunakan gas sarin. Insiden serangan senjata kimia di Idlib menewaskan 80 warga sipil, termasuk 30 anak-anak.

Iklan

Rudal-rudal AS itu ditembakkan dari dua kapal perang yang berjaga di Laut Mediterania. Laporan lain menyebut militer Negeri Paman Sam menembakkan hingga 60 peluru kendali. Sasaran utama gempuran ini adalah pangkalan udara militer Suriah yang berbasis di Kota Homs. Sumber di lapangan menyatakan rudal AS menghancurkan beberapa pesawat tempur Suriah, serta merusak landasan pacu. NBC melaporkan pejabat Pentagon mengklaim tidak ada bangunan berisi warga sipil ataupun tentara Suriah jadi target serangan rudal ini. Belum ada informasi, adakah korban jiwa akibat tembakan rudal AS. Tentara Rusia, yang berjaga di Suriah untuk melindungi sekutunya, sudah diminta mengamankan diri oleh AS yang memberi peringatan beberapa jam sebelum serangan.

"Semua negara beradab harus ikut serta dalam upaya menghentikan barbarisme [di Suriah]," kata Trump saat menggelar jumpa pers beberapa jam lalu di kediaman pribadinya Mar-a-Lago Country Club. "Kita harus menghentikan pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah."

"Amerika Serikat meyakini keamanan negara kami akan terancam, jika ada satu negara di muka bumi diizinkan menggunakan senjata kimia dalam peperangan. Sudah menjadi kepetingan AS untuk menghentikan praktik kejahatan perang seperti itu," kata Trump.

Dalam pidatonya, Trump menyebut gambar-gambar penderitaan anak-anak dan bayi di Idlib menggerakkan hatinya. Rekaman para korban serangan gas sarin itu membuatnya semakin mantab memerintahkan militer AS membombardir pangkalan udara Suriah. "Semua anak-anak anugerah Tuhan tidak sepatutnya mengalami kekejian semacam itu," imbuhnya.

Iklan

Rusia sempat berusaha membela Assad, sekutu utama mereka di Timur Tengah, setelah informasi serangan kimia di Idlib menyebar lewat jejaring sosial. Mereka mengklaim rudal jet tempur Suriah menyasar gudang senjata pemberontak, tapi ternyata di dalamnya ada stok bahan kimia yang kemudian berdampak pada warga sipil. Pernyataan Dubes Rusia dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB itu segera dikecam oleh negara-negara Barat lainnya.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, bergegas menolak pembelaan Rusia. "Bukti-bukti yang saya dapatkan memastikan bila serangan Idlib yang mengerikan itu didalangi oleh Rezim Assad… mereka menggunakan senjata pemusnah massal terhadap rakyatnya sendiri," ujarnya. Salah satu pejabat tinggi Amerika Serikat, seperti dikutip kantor berita Reuters, menyebut pembelaan Rusia "tidak sesuai kenyataan."

Setelah memutuskan memborbardir Suriah, musuh-musuh Trump berbalik memuji sang presiden AS itu. Salah satunya Senator John McCain yang kritis mengecam perilaku Trump selama kampanye. Melalui pernyataan tertulis, McCain menilai metode Trump lebih tepat dalam menangani isu Suriah daripada Presiden Barack Obama. "Berbeda dari pemerintahan sebelumnya, Presiden Trump lebih sigap menangani situasi keamanan dan kemanusiaan yang terus memburuk di Suriah. Untuk kali ini, dia patut mendapat dukungan rakyat Amerika," tulis pernyataan tersebut.

Tak terkecuali politikus dari Partai Demokrat, selaku oposisi Trump. Mereka memuji keputusan Trump menggempur pangkalan udara serta gudang senjata tentara loyalis Assad. "Serangan militer ini mengirim sinyal kuat ke seluruh dunia, jika AS akan selalu berusaha menghormati norma-norma internasional yang telah tegas menyatakan larangan penggunaan senjata kimia dalam situasi apapun," kata Ben Cardin, anggota Komite Senat untuk Urusan Luar Negeri dari Partai Demokrat.

Sekalipun begitu, Cardin yang kali ini mendukung kebijakan Trump, meminta Pentagon memperhitungkan lagi rencana operasi militer susulan di Suriah. "Jika pemerintahan Trump ingin melakukan operasi militer jangka panjang, maka semua itu harus segera dibahas bersama Kongres," ujarnya.

Rival Trump, Hillary Clinton yang kalah dalam pemilu presiden November lalu, turut mendukung serangan udara ke gudang-gudang senjata Assad. Dia menyatakan AS bertanggung jawab memastikan sang diktator Suriah itu tidak bisa lagi menggunakan senjata kimia ke sasaran warga sipil. "Kita semua harus melucuti semua kemampuan rezim Assad membombardir warga sipil dan menyerang mereka menggunakan gas sarin."

jet tempur diduga milik militer Suriah menembakkan gas sarin ke Kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Suriah, Selasa (4/4) pagi waktu setempat. Penggunaan gas racun syaraf buatan NAZI itu ke wilayah warga sipil bisa masuk kategori kejahatan perang. Lembaga pemantau HAM, Amnesty International, memastikan keaslian 25 videoyang merekam detik-detik saat dan setelah pemboman mengandung gas sarin itu terjadi. Hasan Haj Ali, juru bicara kelompok pemberontak di Idlib, mengatakan bom-bom dari jet tempur Suriah menghantam tanah disertai sebaran gas. "Tidak ada pasukan pemberontak yang memiliki senjata secanggih itu."