Harapan Hidup

Jepang Sebentar Lagi Kehilangan Status Negara Dengan Harapan Hidup Terpanjang

Negara yang akan menggantikan posisi Jepang ternyata sangat mengejutkan.
23.2.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Jika kamu hidup di negara dunia pertama dengan layanan kesehatan mantap dan kesenjangan sosial yang tipis, selamat yah!—ada kemungkinan besar kamu bisa hidup makmur menjelang usia 80, menurut sebuah penelitian di The Lancet. Sayangnya sisanya—kita-kita ini lah—tinggal di negara dunia ketiga. (Dan bagi kalian yang hidup di negara dunia pertama tapi Amerika Serikat, sori-sori aja kamu engga masuk kriteria itu.) Peneliti dari perkongsiang Britania Raya, Amerika Serikat, dan institusi-institusi kesehatan dunia baru-baru ini menggabungkan 21 model prediksi untuk menelaah tingkat harapan hidup di 35 negara industri pada tahun 2030. Semuanya diharapkan meningkat, beberapa mengungguli yang lainnya. Penelitian ini memperkirakan bahwa perempuan dan laki-laki di Korea Selatan akan unggul dalam urusan tingkat harapan hidup, mengalahkan juara tingkat harapan hidup sebelumnya, Jepang. Perempuan di Korsel diharapkan hidup hingga usia 90.8 tahun dan laki-laki hidup hingga usia 84.1 tahun di tahun 2030. Juara kedua tingkat harapan hidup perempuan adalah Perancis, yaitu usia 88.6, dan Jepang, yaitu usia 88.4. Juara kedua tingkat harapan hidup laki-laki adalah Australia dan Swiss. Pada kedua negara tersebut, laki-laki diharapkan dapat hidup hingga usia 84. Penelitian tersebut percaya bahwa "perkembangan inklusif berbasi luas pada status ekonomi dan modal sosial (termasuk pendidikan)" dengan kehidupan panjang di Korsel dan Jepang. Kedua negara ini juga memiliki tingkat "disparitas" lebih rendah dalam hal akses terhadap layanan kesehatan untuk kondisi kronis, dibandingkan negara-negara Barat. Di antara seluruh negara yang diteliti, Korsel akan mengalami peningkatan tertinggi dalam hal jangka hidup perempuan selama 17 tahun mendatang dan tertinggi kedua bagi laki-laki (yang tertinggi adalah Hungaria). Jangka hidup rata-rata akan melonjak sebesar sekitar enam tahun bagi perempuan dan laki-laki. Banyak negara yang diteliti mengalami penurunan dalam hal perilaku berpotensi fatal atau ancaman publik. Australia, Kanada, dan Selandia Baru telah menurunkan tingkat perokok dan kecelakaan lalu lintas. Switzerland dan Perancis telah menurunkan indeks massa tubuh perempuan. Kanada dan Australia telah menurunkan tingkat tensi darah. Tren-tren tersebut diharapkan mengurangi angka kematian warga usia muda. Menyoal AS, laporan tersebut memiliki kritikan tajam soal disparitas sosial dan ketidakcakapan dalam sistem layanan kesehatannya. Pada 2030, tingkat harapan hidup di AS adalah 83.3 tahun untuk perempuan dan 79.5 tahun untuk laki-laki, yang merupakan peningkatan kecil dari 2010 (81.2 tahun untuk perempuan dan 76.5 tahun untuk laki-laki). AS berada di urutan 28 dari 35 negara yang diteliti. Peringkat tersebut untuk prediksi tingkat harapan hidup perempuan maupun laki-laki. Ranking AS akan semakin merosot akibat disparitas akses layanan kesehatan berkualitas, dengan tingkatan moralitas tinggi di antara warga miskin dan populasi terbengkalai. "AS memiliki tingkat kematian anak dan ibu paling tinggi, juga tingkat pembunuhan tertinggi, dan indeks massa tubuh tertinggi di antara negara-negara berpenghasilan tinggi," ujar laporannya, "dan merupakan negara berpenghasilan tinggi pertama yang mengalami stagnasi bahkan kemunduran dalam tinggi badan, yang sering diasosiasikan dengan umur panjang." Negara ini unik di antara 35 negara lainnya dalam penelitian, karena alpanya layanan kesehatan menyeluruh dan tingkat kebutuhan layanan kesehatan yang tidak terpenuhi karena masalah finansial. Akan ada ganjaran bagi negara-negara yang memiliki generasi para Betty White dan para Mel Brooks kongkow-kongkow bareng di usia 80an. Pensiun dan dana jaminan sosial akan ditekankan. Pensiun mungkin perlu ditunda atau bahkan diubah menjadi pekerjaan paruh waktu.

Teknologi dan ruang-ruang publik mesti beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar populasi dengan keterbatasan sensorik dan motorik. Menurut penelitian tersebut, sistem layanan kesehatan juga perlu "berusaha lebih keras dari sekadar meningkatkan jumlah rumah sakit dan staf" dan mengadopsi contoh-contoh perawatan yang terintegrasi dengan tempat tinggal dan komunitas.