FYI.

This story is over 5 years old.

Sepakbola

Haruskah Sundulan Kepala Dilarang Dalam Sepakbola?

Penelitian baru menegaskan aktivitas rutin menyundul bola berbahaya bagi kesehatan atlet.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Di Liga American Football alias NFL pemain diwajibkan mengenakan helm pengaman kepala. Nyatanya masih banyak atlet mengalami gegar otak akibat tubrukan keras. Tapi bagaimana dengan football yang satunya, yang sejati, alias sepakbola? Olahraga yang dimainkan oleh 265 juta orang di seluruh dunia ini terkadang mengharuskan pemainnya menyundul bola menggunakan kepala mereka. Apakah aktivitas ini aman?

Iklan

Biarpun sekilas terlihat aman-aman saja, penelitian yang belum lama ini dipublikasikan menyebut ada risiko mengancam para atlet. Para peneliti dari Albert Einstein College of Medicine menemukan data bila atlet yang sering menyundul bola berisiko mengalami gejala gegar otak lebih cepat dibanding manusia lainnya.

Dalam penelitian yang dirilis di jurnal Neurology tersebut, peneliti membandingkan efek dari sundulan sengaja seperti dalam sepakbola, dengan efek sundulan yang tidak disengaja, seperti tabrakan kepala antar pemain ketika berusaha menyundul bola di udara dan tabrakan kepala dengan tiang gawang. Penelitian ini dilakukan dengan cara meminta 222 atlet sepakbola dewasa mengisi kuesioner online mengenai kategori sundulan-sundulan tersebut, serta gejala yang mereka rasakan selama dua minggu. Peneliti lantas menghitung hasil jawaban responden.

Hasilnya? Para atlit sepakbola ini rata-rata menyundul bola sebanyak 41 kali dalam 2 minggu dan sekitar satu dari lima pemain—18 persen—melaporkan gejala gegar otak akut seperti rasa sakit dan kepala yang ngawang. Tujuh persen dari mereka bahkan sempat pingsan.

Sejauh ini gejala paling parah terjadi pada para atlet lebih disebabkan sundulan tidak disengaja. Namun para peneliti menemukan hubungan antara para penyundul bola sengaja dengan gejala gegar otak yang datang belakangan, terutama setelah mereka gantung sepatu.

Sejauh ini menyundul bola dianggap sebagai aspek teknis olahraga itu yang tidak berbahaya. Penelitian tahun 2015 yang dirilis di Journal of the American Medical Association sudah mewanti-wanti bahaya jika atlet sepakbola terlalu sering menyundul bola. Jurnal itu sampai membahas apakah sundulan kepala harus dilarang atau tidak. Artikel JAMA tersebut menyimpulkan biarpun 30 persen dari kasus gegar otak diakibatkan oleh seringnya pemain menyundul bola, fakta ini tetap tidak cukup kuat untuk membenarkan adanya pelarangan sundulan kepala.

Iklan

Perlu diingat bahwa penelitian tersebut tidak mengukur seberapa keras sundulan yang dilakukan dan lebih berfokus ke hantaman keras yang terlihat dari pinggir lapangan. "Penemuan utama [dari penelitian baru ini] adalah bagaimana sundulan kepala sumber utama dari banyak gejala-gejala gegar otak," jelas kepala penelitian Michael Lipton.

Hasil penelitian ini konsisten dengan riset Lipton sebelumnya. Di tahun 2013, dia menjadi salah satu penggagas survei yang menemukan bahwa 30 persen atlit sepakbola yang menyundul bola lebih dari 1.000 kali berisiko lebih tinggi terpengaruh sumsum otaknya—jaringan penghubung otak yang mengontrol bagaimana manusia mempelajari gerakan motorik baru.

Perlu diingat juga bahwa penelitian terakhir ini tidak meneliti atlit mana yang benar-benar mengalami gegar otak—hanya yang menunjukkan gejala gegar otak. Dan ini, menurut Lipton, membatasi validitas penelitian tersebut dalam membuktikan hubungan antara frekuensi menyundul bola dengan gegar otak.

"Atlet sepakbola harus sadar bahwa gejala gegar otak ada hubungannya dengan frekuensi menyundul bola yang tinggi," tulis Lipton.

Lipton juga menyarankan apabila pemain mengalami benturan keras—yang mengakibatkan rasa pusing, disorientasi, mual, hingga sakit kepala berkepanjangan—jangan segan-segan segera minta diganti pemain cadangan.