FYI.

This story is over 5 years old.

Pernikahan

Alasan Para Perempuan Membenci Momen Pesta Pernikahan Mereka

Resepsi pasti menjadi momen terindah dalam hidup perempuan? Plis deh.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly. 

"Hari pernikahanku adalah hari terbaik dalam hidupku," kata para pengantin di seluruh dunia.

Tapi, apa benar begitu? Hari terbaik dalam hidupmu? Yakin? Bukannya kebanyakan pengantin perempuan mengalami stres selama persiapan pernikahan dan pada hari-H terpaksa mengenakan korset kebaya yang bikin sulit berdiri, duduk, dan bahkan bernapas? Belum lagi keharusan menyalami banyak tamu yang tidak kamu kenal?

Iklan

Pesta pernikahan memiliki ranjau drama di mana-mana. Aku lebih suka pakai piyama sambil makan pizza dingin bersama suamiku, daripada harus mengadakan pesta pernikahan dengannya lagi. Ternyata, sentimen seperti itu tidak selangka yang kita kira.

Ibuku mengaku bahwa dia mencoba baju kebaya yang kutinggal di kamar lalu berpose untuk ayahku.

Sarah*

Sahabat baikku "lupa" datang dan dalam pidatonya ayahku hanya berujar: "Terima kasih atas kedatangannya." Lalu, foto-foto memalukan saat pesta bujang suamiku dikirim padaku "sebagai lelucon" pada saat resepsi. Saya tidak habis pikir kenapa bisa kita tetap menikah hingga bertahun-tahun kemudian.

Jolene

Aku benci banget hari pernikahanku soalnya aku yakin itu keputusan yang salah. Bahkan dalam mobil perjalanan ke gereja, yang sudah dipenuhi tujuh puluh tamu, aku menangis sesenggukan. Ini bukan air mata bahagia lho, jangan salah. Aku nangis begitu karena aku takut. Semua orang mengira aku nervous doang—suatu hal wajar. Aku sudah mencoba untuk menghentikan pernikahanku tapi engga ada yang ngewaro, kecuali calon suamiku yang malah mencoba bunuh diri.

Ketika pesta pernikahan hampir usai, aku masih saja nervous. Aku akhirnya kena panic attack di kamar mandi dan bapak mertuaku membantuku kabur dari pintu belakang. Habis itu aku naik mobil. Pada malam pernikahan kami, aku mengurung diri di kamar mandi sampai suamiku ketiduran. Kami bercerai sepuluh bulan kemudian.

Iklan

Amy

Pada pagi hari sebelum pesta, engga ada yang nemenin saya. Saya stres banget, dan setelah pakai baju saya mikir, "ini tai kucing." Lalu, di lantai dansa malamnya, pacarnya adikku melamar. Adikku memaksa DJ-nya untuk mengumumkan pertunangan dia dan memberi panggung agar dia bisa melakukan "first dance".

Saya jengkel bukan main, jadi saya minta DJ-nya untuk memutar lagu dari Manic Street Preachers. Tapi satu-satunya lagu yang dia punya cuma "If You Tolerate This" (btw, ini lagu tentang Perang Saudara Spanyol), jadi saya joget sendirian ketika lagu itu diputar. Gimana caranya joget dengan lagu itu? Ya, gitulah. Asal-asalan.

Suzanne

Menuju pernikahan, aku merasa seperti eek. Aku engga tahan menjadi pusat perhatian, jadi aku dan pasanganku menikah saat berlibur ke Itali dan baru mengabari keluarga kami sehari sebelum pernikahan.

Ya, jadinya ancur lah. Keluarga kita marah besar. Mereka kan tahunya kami hanya liburan. Aku langsung sadar kalau aku egois banget. Meski lokasi pernikahan kita indah banget (Malcesine di Lake Garda), foto-foto pernikahanku isinya aku dengan mata bengkak karena nangis melulu.

Pada hari pernikahanku, pacar ibuku masuk ke ruangan saat musik dimulai. Musik itu seharusnya mengiringiku. Aku marah besar.

Meg

Pada hari pernikahanku, pacar ibuku masuk ke ruangan saat musik dimulai. Musik itu seharusnya mengiringiku. Aku marah besar. Sepanjang malam, semua tamu ngomongin dia alih-alih aku dan pernikahanku. Lalu, ada badai yang merusak "pesta kawinan pantaiku." Jadi, alih-alih menegak cocktail beach hut, makan capit kepiting, berjalan kaki di pantai, dan BBQ, kita duduk saja seharian di aula.

Waktu itu aku sedang hamil 13 minggu, jadi aku engga bisa minum alkohol buat menenangkan diri. Hingga hari ini, aku engga bisa ngomongin hari pernikahanku dengan keluargaku, atau melihat foto-fotonya.

Iklan

Rosa

Sebelum aku berangkat ke gereja, ibuku mengaku telah mencoba baju kebayaku dan berpose untuk ayahku.

Kado-kado pernikahan kami dicuri orang pada saat resepsi, dan pidato best man malah tentang kawinan dia; dia engga menyebut aku atau suamiku sama sekali. Ibu mertuaku mengenakan pakaian hingga sepatu berwarna hitam dan bilang ke para tamu alsan dia begitu karena dia kehilangan anak satu-satunya.

Salah satu tamu engga hadir ke acara akad, tapi datang ke resepsi sambil keringetan dan cuma pakai celana pendek dengan alasan sebelumnya menonton final Wimbledon wanita. Fotografer kita batal datang di menit-menit terakhir. Ayahku merahasiakannya agar aku tidak panik, dan menggantinya dengan seorang fotografer yang sehari-harinya beekrja sebagai fotografer mayat untuk kamar mayat rumah sakit.

Tapi untungnya, aku terlihat cantik di foto-foto itu.

Katie

Suamiku orang Amerika, jadi orangtuanya memutuskan menyelenggarakan pesta kawinan kedua di Amerika, karena mereka engga mau datang ke pesta pertama. Ibu mertuaku akhirnya memesan gereja kawinan murahan dan membelikanku baju pengantin dengan berlian palsu.

Dia bilang ke suamiku, "Aku engga peduli istrimu maunya apa. Ini adalah hari penting Mami!" Dia engga menganggapku ada hari itu, engga ngomong sepatah katapun denganku. Pada acara makan malam, dia mengatur supaya suamiku memberi bunga mawar merah kepada dia alih-alih aku saat lagu romantis diputar. (Suamiku ngasih satu tangkai ke ibunya, dan sisanya untukku.)

Iklan

Dia sempat kekeuh bahwa first dance harus antara dia dan ibunya dan dengan lagu yang dia suka. Akhirnya kompromi kita adalah memutar lagu "Suspicious Mind" oleh Elvis. Lalu keluarganya mengoper foto suamiku (bukan kita) dan semua orang menandatanganinya dengan pesan dan doa untuk suamiku alih-alih aku. Kami kabur secepat mungkin, main gokart, dan mencari bar margarita.

Kita baru saja merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-15.

Rachel

Tunanganku asal Afrika Selatan dan kami menikah di Durban. Aku hanya punya dua permintaan: jangan menikah di country club, dan harus pakai DJ. Bapaknya menyewa country club untuk pesta pernikahan, dan menyewa band. Ketika makan malam di teras, seorang pemain golf latihan tepat di depan kita. Teman kami menegur dia dan bilang, "Permisi, kamu gila ya?" tapi orang itu terus berlatih karena "sebentar lagi gua ada tanding golf. Santai lah, gua udah pro kali. Jadi pukulan gua engga akan kena lu-lu pada."

Dan pada malam sebelum pernikahannya, tunanganku ngetep di pesta bujangnya. Jadi pas kawinan dia tulalit banget. Dia baru normal dua minggu setelahnya.

Sadie

Aku belum nonton DVD kawinan kita soalnya memalukan. Akadnya sih manis-manis aja, tapi resepsinya amburadul. Ayahku (yang ternyata sama sekali engga mengenalku) ngasih pidato aneh dan sepanjang acara aku watir ibuku berulah—dia alkoholik.

Temanku (sekarang sudah bukan teman) bolak-balik ke lemari alkohol. Dia ternyata mampir ke pengaturan sound system dan merusak playlist kami. Lalu karena sedikit mabuk, aku ngomong ngawur saat menyampaikan pidato. Aku bilang pesta ini tribut untuk tanteku. Tapi di ujungnya aku bilang, "Dia belum mati sih tapinya."

Saat sarapan sehari setelah pesta pernikahan, ada teman yang baru datang karena dia bilang sebelumnya nonton pertandingan sepakbola Skotlandia versus Azerbaijan yang berujung penalti.

*Nama-nama narasumber telah diubah