Fotografer Angga Pratama Membahas Sensor, Konsep Seni, dan Perubahan Sosial Bali

FYI.

This story is over 5 years old.

Seni

Fotografer Angga Pratama Membahas Sensor, Konsep Seni, dan Perubahan Sosial Bali

Bali adalah surga bagi fotografer seperti Angga yang terobsesi melawan wacana pornoaksi versi negara.

Ada dua cara untuk menjelaskan "pornografi" di Indonesia: pornografi, yang artinya segala yang berbau porno dan pornoaksi yang merujuk hal-hal yang "kurang pantas dan tak bermoral". Apapun itu, karya Angga Pratama, seorang fotografer mukim di Bali, pernah dianggap sebagai bentuk pornografi dan pornoaksi sekaligus.

Angga berulang kali dianggap sebagai fotografer pria yang asal menjepret foto-foto perempuan setengah atau telanjang bulat. Ini jadi tren akhir-akhirnya, terutama ketika Instagram dipenuhi foto-foto telanjang unggahan mereka yang mendaku sebagai fotografer fashion yang tak memiliki barang fashion. Yang dilakukan Angga jauh lebih keren dari itu.

Iklan

Fotografer yang lahir di Bandung dan besar di Belanda menangkap citra Bali yang murni. Bali, yang bagi sebagai orang dianggap sebagai surga di Bumi, telah melewati banyak perubahan. Canggu, kawasan yang ditinggali Angga, dahulu adalah sebuah perkampungan santai di pinggir pantai. Kini, Canggu adalah salah satu kawasan di Bali yang giat melakukan pembangunan. Sawah kini berganti dengan vila mewah, restoran dengan harga selagit dan bar-bar yang penuh pengunjung. Canggu berubah dari sebuah desa pinggir pantai menjadi surga kaum hispter hasil gentrifikasi hanya dalam beberapa tahun.

Pesatnya derap pembangunan di Bali memaksa Angga berpikir. Dalam berbagai hal, Bali adalah surga terakhir bagi fotografer seperti dirinya. Norma-norma sosial yang lebh kendor dan budaya Hindu yang kuat memberinya keleluasaan mengekspresikan diri tanpa harus takut dituduh menyinggung norma-norma konservatif seperti yang terjadi di luar Bali. di sisi lain, ini yang dirasa Angga memerangkap dirinya. Tapi toh Angga masih bisa tidur dengan nyenyak. Perubahan—suka atau tidak—akan terus terjadi,

Renaldo Gabriel dari VICE Indonesia menemui Angga, membahas perubahan sosial di kawasan Canggu, kecintaannya tanpa batas terhadap film 35mm, dan bagaimana caranya terus berkarya tanpa membuat lembaga sensor naik pitam.

Semua foto oleh Angga Pratama

VICE Indonesia:  Bagaimana rasanya dijuluki sebagai Terry Richardson muda?
Angga Pratama: yang benar saja, apa alasannya? Karena aku memotret perempuan? Itu doang? [tertawa] Karya kita jauh berbeda kok. Orang mungkin mikir begitu karena obyek fotoku perempuan, jadil langsung disamaind dengan Terry Richardson. Enggak juga kali.

Iklan

Bagaimana kamu mengambarkan karya-karyamu?
Menurutku, karya-karyaku itu organi dan mentah. Sereal mungkin, tapi pada akhinya semua terdistorsi karena ketika kamu melihat gambar lewat sebuah foto, yang kamu lihat sudah terlebih dahuluu kena distorsi. Aku suka karyaku apa adanya—misalnya, aku mengambil foto sesuatu yang sudah terdistorsi—karena aku ingin citra-citra yang aku tangkap berbeda dari dunia nyata.

Ada alasan tetap menggunakan film 35mm?
Aku juga suka menggunakan (teknologi digital), tapi biasanya untuk video. Aku tidak menggunakannya untuk fotografi. Aku tidak suka foto-foto digital. Ini masalah selera saja sih. Ada yang suka BMW sementara yang lain suka Mercedes, kira-kira seperti itu. Beberapa orang suka yang digital, yang lain yang suka analog, Ini bukan perkara mana yang lebih bagus.

Apa kendala menggunakan film?
Aku merasa orang selalu membedakan film dan digital. Itu aku jauhi. Kalau fotonya bagus ya enggak penting-penting amat kalau itu analog atau digital.

Menggunakan film berarti merogoh kocek lebih dalam dan mengeluarkan lebih banyak uang. Itu sih tantangan terbesarnya karena film itu enggak murah, mencuci film juga bukan perkara murah karena aku ingin hasilnya hi-res. Jika kamu memotret dengan kamera digital, kamu bisa melihat hasilnya setelah mengambil gambar. Tapi, kalau menggunakan kamera analog, kamu enggak bisa melakukan itu. Yang perlu kamu lakukan adalah fokus pada apa yang ingin kamu foto. Ini alasan kenapa aku suka sekali memfoto dengan kamera analog.

Iklan

Apa sih yang jadi kekuatan karyamu?
Kekuatan karyaku bukan terletak pada film yang aku gunakan. Kekuatannya menurutku ada pada hasil akhirnya, enggak jadi soal kamu mengambil gambarnya dengan hape, kamera digital atau kamera analog. Yang paling penting tetap hasil akhirnya. Kalau hasil akhirnya okay, ya sudah. Aku selalu percaya bahwa kita harus percaya dengan hasil karya kita. Kalau kita saja bilang karya kita jelek, mau bagaimana kita meyakinkan orang bahwa karya kita keren? Tapi kalau kamu pikir karyamu bagus tapi orang lain bilang jelek, itu bukan masalah selama kamu percaya karyamu.

Banyak yang bilang karyamu terlalu berani dan kontroversial karena kamu sering motret orang telanjang, menurutmu bagaimana?
Mungkin ini kenapa aku memilih tinggal di Bali daripada Jakarta misalnya. Di sini, aku bisa lebih bebas bermain-main dengan nudity. Meskipun begitu, aku sebenarnya masih menyensor karyaku. Dulu, waktu aku masih menjadi fotografer di Belanda, aku bodo amat dengan semua itu. Di sini, memotret hal yang sifatnya personal adalah sebuah tabu. Tapi aku pernah melakukan pemotretan untuk majalah Jerman, Tissue. Lokasinya di Biasa gallery. Fotonya telanjang total. Karyaku jadi artikel besar bagi majalah itu dan menyinggung sedikit tentang seni di Indonesia. Ini bikin aku bangga karena kalau kamu ingat semua opini publik tentang Indonesia di luar sana, kebanyakan isinya seperti "Oh Indonesia ity negara muslim terbesar di dunia, konservatif abis pokoknya." memang kenyataan begitu kok. artikel itu menunjukkan bahwa Indonesia enggak segitu konservatifnya. Ini yang bikin seneng.

Iklan

Bagaimana kamu mengakali sensor?
Ikuti saja. Enggak usah dilawan. Enggak ada gunanya juga.

Bukannya kamu masih mencoba ngelawan sensor?
Dulu sih iya, sekarang enggak lagi. Aku cuma ngelakuin apa yang dianggap pantas di sini. Karyaku yang pertama kali dipublikasikan di Indonesia pas masih tinggal di Belanda. Ada majalah minta aku megang pemotretan. Aku masih ingat judulny 'Teenage Naughtiness'. Ya udah, aku kerjain dan terus kirim ke mereka. Majalah itu bilang mereka suka karyaku. Tapi, pas mau naik cetak, kalau enggak salah Editor-in-Chief-nyabilang foto-fotoku berlebihan buat konteks Indonesia. Akhirnya, mereka nyensor fotonya. Namaku masih muncul dalam majalah karena mereka cuma mencopot fotoku. Intinya sih, majalah itu masih ingin fotoku ada. Cuma kan karena ini Indonesia, mereka takut kena masalah. Aku sih bisa memahami meski sensor ini kadang bikin bete. Tapi, memang begitu keadaannya.

Menurutmu penyensoran ini penting apa sebaliknya?
Enggak sama sekali karena inikan masalahnya tentang foto. Ini sama saja kayak orang bilang "Gue muslim banget" tapi itu cuma sebuah kemunafikan karena mereka masih minum dan makan babi. Tapi, ketika ada karya yang nyenggol-nyenggol nudity, terus mereka kebakaran jenggot, kok bisa?

Apa kegiatan kamu selain motret buat klien?
Enggak ada. [tertawa]

Masa enggak ada sama sekali…
Beneran enggak ada. [Tertawa] karena kan dulu aku melakukan banyak hal, surfing tiap hari. Sekarang aku santai-santai dengan anjingku dan pergi ke pantai.

Iklan

Kenapa kamu berhenti melakukan semua itu?
Ini gara-gara aku makin sibuk. Aku pernah tinggal di Canggu. Dulu sih tempatnya enak dan tenang, beda banget dengan seminyak. Sekarang, Canggu enggak jauh berbeda dengan seminyak. Aku jadi bimbang. Di satu sisi, jelas kalau pembangunan bikin perekonomian penduduk Canggu membaik. Di sisi lain, Canggu jadi penuh turis dan ekspatriat. Gila lah pokoknya. Villa dan Restoran bermunculan di mana-mana. Tiap kali aku nyetir di Canggu, aku pasti nemu banguna baru. Aku tinggal 10 menit dari Canggu. Tapi, Canggu sudah rusak.(tertawa)

Kenapa?
Karena sudah bukan Canggu lagi. Begitulah keadaannya. Dulu Canggu adalah tempat yang nyantai, enggak banyak orang, sawah di mana-mana.  Canggu sudah engga kayak gitu lagi.

Yang paling beda apanya sih?
Bukan cuma Canggunya saja yang berubah; aku juga sepertinya sudah berubah karena waktu pertama kali datang aku benar-benar terpikat dengan semua hal. Kerja di Indonesia adalah impianku. Tapi setelah beberapa lama jadi…[mendesah].

Dan ini ada efeknya sama pekerjaanmu?
Ya, Aku jadi jarang kerja. [tertawa] Eh tapi, beneran, inspirasiku makin kering. Semua berubah, aku, pulau ini, dan juga scene-nya,

Self portrait Angga Pratama

Ada banyak subkultur bermunculan di scene Bali, apa pendapatmu sebagai seorang fotografer yang mendokumentasikan ini?
Sekarang? Enggak tahu deh. Aku jarang nongkrong. Yang jelas, scene-nya makin ramai dan besar. Masih menarik kok. Kamu bisa bertemu orang baru setiap saat. Scene Bali masih progresif dan sangat community oriented. Isinya tetap beberapa grup tertentu, anak-anak keturunan Indo, anak punk dan hipster.

Iklan

Kamu sepertinya, seperti kamu bilang tadi, kehilangan semangat?
Ya itu. Aku berusaha mengatasinya. Aku terus bereksperimen. Kalau kamu ingin mencoba hal yang baru, kamu harus melakukannya sendiri. Kamu harus terus mencoba membuat sesuatu yang baru. Tapi, kamu enggak fokus pada perubahan, ini akan terjadi perlahan-lahan. Jadi bukan kaya "Ah, aku harus ganti gaya." enggak seperti itu.

Kapan terakhir kali kamu merasa terinspirasi?
Gara-gara lukisan. Kayaknya sih di salah satu tempat spa murah. Tempat itu punya lukisan seorang gadis Bali dari zaman dulu. Lukisannya indah sekali. Itu dia masalahnya: aku tak bisa menjelaskannya. Memang begini perasaanku tentang seni, aku kesusahan menjelaskan "kenapa ini keren"?I

Menurutmu, lukisan tadi mengobjetifikasi perempuan?
Engga terlalu sih. Lukisan ini cuma menunjukkan bokong dan buah dada. Aku sebenarnya engga terlalu suka tone vulgar seperti itu.

Pernah kena masalah gara-gara karya fotomu?
Paling dapat komentar miring. Kalau masalah besar sih engga. Aku pernah melakukan pemotretan untuk sebuah masalah. Temanya tentang perempuan dalam prostitusi dan umur mereka yang makin belia. Lalu, aku bikin foto seorang perempuan cantik bersama lelaki kacrut enggak ketulungan hendak masuk sebuah kamar. Foto ini akhirnya disalahpahami. Beberapa komentar mengatakan "apa-apaan sih kamu, ini enggak bener." sayang, pembuat komentar lupa membaca artikelnya. Yang pasti mereka cuma marah gara-gara fotonya belaka. Jadi mereka lihat foto dan menyangka aku mengglamorisasi prostitusi. Padahal, yang aku lakukan sebaliknya.

Kesalahpahaman apa yang kerap kamu temui tentang karyamu?
Aku sering disangka cuma memotret perempuan telanjang. Ini salah besar. Aku memotret apa saja.

Apa yang berubah dari karyamu sampai saat ini?
Yang aku potret dulu dan sekarang agak sedikit berbeda. Gear dan teknik yang aku pakai sama saja, jadi estetikanya tetap sama saja. Aku dulu cuma menggunakan film, tapi sepertinya enggak lagi. Biar karyaku saja yang bicara sendiri.

Foto untuk Yak Magazine

Foto untuk KuBan