Sains

Secara Ilmiah, Manakah Cara-Cara Mati Terbaik? (Bukan Bunuh Diri Lho)

Emangnya ada mati tanpa rasa sakit dan bebas trauma? Katanya sih bisa....
6.7.17
Image of Ophelia by Sir John Everett Millais

Dr. Richard Smith pernah menulis di situs British Medical Journal bahwa meninggal akibat kanker merupakan cara yang terbaik untuk mati. Alasannya?

Anda mendapat kesempatan untuk pamit, merefleksikan hidup, meninggalkan pesan terakhir, mungkin mengunjungi tempat-tempat spesial untuk terakhir kalinya, mendengarkan lagu favorit, membaca puisi kesukaan, dan menyiapkan diri, sesuai kepercayaan masing-masing untuk bertemu sang pencipta.

Banyak orang di dunia, yang pernah menyaksikan seseorang meninggal akibat kanker langsung menyebut Smith seorang idiot. Kanker memakan tubuh seseorang dari dalam dan hanya menyisakan kulit anda. Masak kaya gini dibilang cara terbaik untuk mati?

Beberapa bulan yang lalu, kolega kami di Motherboard tengah membicarakan cara terbaik untuk meninggal. Ternyata jawabannya adalah apapun yang terjadi secara lambat dan mengharuskan anda menghabiskan hari-hari terakhir di atas ranjang rumah sakit. Lantas, cara terbaik untuk mati apa dong? Jelas dengan menanyakan pertanyaan ini, banyak orang akan menuduh saya mengeksploitasi kebiasaan googling mereka-mereka yang mengidap depresi parah.

Artikel ini, jangan salah ya, tidak mempromosikan bunuh diri lho. Saya ingin menegaskan bahwa bentuk-bentuk usaha bunuh diri seperti menggunakan karbon monoksida, atau menyuruh dokter memberikan resepobat cocktail, atau sekedar overdosis heroin bukan tidakan yang bijak, apalagi didukung redaksi VICE.

Saya justru berusaha menyelidiki banyak mitos dan realita seputar cara-cara meninggal baik yang kerap disebut orang. Berikut hasil penyelidikan.

Iklan

Skenario yang kita inginkan:

Peringatan: Video di atas mengandung konten dewasa. Jangan nonton bareng anak-anak.

Susah untuk mencari jawaban definitif apa maksud orang ketika mereka ngomongin cara "terbaik" untuk mati, tapi mari kita mulai membahas beberapa fantasi kematian yang populer. Ada fantasi tentang mati secara terhormat dalam sebuah perang—ini fantasi yang bego banget, sampe-sampe ada satu genre film khusus didekasikan untuk mengkritik pemikiran ini.

Ada juga fantasi tentang berhubungan seks sebelum mati—misalnya terkena serangan jantung ketika puncak orgasme datang, atau (sesuai video di atas), mati jatuh dari jurang karena lari dikejar gerombolan model-model telanjang.

Ini gak ngejawab pertanyaannya sih. Jatuh ke jurang jelas bukan jawabannya. Ya memang jatuh kepala duluan setelah meloncat keluar dari sebuah pesawat terbang rasanya akan menjamin kematian seketika, tapi jangan salah, jatuh bisa menyebabkan organ internal dan tulang retak dan patah, dan membuat pengalaman ini menjadi menyakitkan—dan kalau anda secara ajaib selamat, anda harus berhadapan dengan cedera yang berisiko membuat anda cacat.

Kematian yang disebabkan akibat aktivitas seks pun juga bisa menyakitkan. Kerusakan jantung atau paru-paru—embolo, aneurisma, AVM dan lain sebagainya—bisa terasa seperti "sakit kepala yang luar biasa," belum lagi gejala-gejala aneh seperti mual dan halusinasi. Mungkin anda juga sudah tau apabila serangan jantung rasanya seperti dada anda diduduki gajah.

Iklan

Nah, serangan jantung tiba-tiba, dimana jantung anda tiba-tiba ngehang kayak Windows 95 sebelum anda mati, merupakan calon kuat untuk cara mati terbaik ketika sedang berhubungan seks. Namun sebagai seorang penderita aritmia, saya harus menginformasikan bahwa merasakan jantung tiba-tiba berdetak tidak karuan itu pengalaman yang tidak menyenangkan. Rasanya seperti banyak kupu-kupu terbang di dalam dada dan ada benjolan di dalam tenggorokan. Saya tidak bisa merekomendasikan sensasi mengerikan ini ketika sedang berhubungan intim.

Namun perlu diingat bahwa kematian akibat fantasi seksual biasanya melibatkan partner, yang artinya kematian anda akan menyebabkan orang lain menderita. Partner anda harus menyaksikan kematian anda, memindahkan mayat anda dalam keadaan telanjang dan mungkin harus menyentuh organ pribadi anda. Dalam skenario yang baik, ini bisa jadi cara meninggal terbaik, seperti ketika ayah Matthew McConaughey meninggal ketika sedang bersenggama dengan sang istri. Sang istri kemudian menyebutnya sebagai "cara terbaik untuk meninggal!" Tapi bisa juga ini justru berakhir seperti novel mengerikan Stephen King, Gerald's Game atau adegan dalam film Clerks.

Lihat-lihat penyebab kematian yang realistis aja yuk.

Hipotermia:
Hipotermia itu lebih dari sekedar menggigil dan kulit mati rasa. Ada yang bahkan mengatakan ketika mengidap hipotermia anda akan merasa melihat sosok makhluk besar menghampiri dan anda lebih memilih mati saja. Tapi ini kayaknya komen ngawur deh.

Iklan

Di buku terakhirnya, Last Breath: Cautionary Tales from the Limits of Human Endurance, Peter Stark menyajikan catatan dan rekoleksi jelas tentang seperti apa rasanya meninggal akibat kedinginan. Setelah berjam-jam kedinginan, tubuh anda akan mulai mati lampu, anda mulai berhalusinasi, atau bahkan merasa hangat. Saking hangatnya, anda akan mulai merobek baju.
Penyebabnya? Ketika suhu tubuh jatuh di bawah temperatur 33 derajat, amnesia akan mulai timbul. Anda tidak akan lagi sadar. Ketika suhu tubuh jatuh ke 31 derajat, anda bahkan akan mulai berhenti gemetaran. Ketika tubuh menghantam suhu 30 derajat, otak anda tidak akan bisa mengenali wajah ibu sendiri. Begitu tubuh mencapai suhu 29 derajat, anda akan mulai merobek pakaian sendiri dan mengubur diri dalam salju.

Dari titik itu, berasumsi anda berada di dalam cuaca dengan suhu minus, masih dibutuhkan berjam-jam sebelum tubuh anda turun ke bawah suhu 21 derajat. Apabila anda mengalami euforia di titik ini, berarti anda sudah jatuh gila. Yakin mau mati kayak gini?

Tenggelam:

Ada semacam kata bijak yang mengatakan bahwa tenggelam itu rasanya seperti dipeluk atau berada kembali di dalam kandungan Ibu. Ada beberapa kesaksian, salah satunya dari mendiang produser musik Michael Case Kissel yang mengaku mendengar suara malaikan berujar, "Gak ada lagi yang perlu ditakutan." Tapi rasanya pengalaman seperti ini tidak umum.

Tubuh anda secara natural akan melakukan segala cara untuk mencegah paru-paru penuh dengan air, seperti yang bisa anda saksikan dalam video diatas ketika Christopher Hitchens tengah disiksa menggunakan teknik waterboarding. Setelah beberapa detik saja saluran terisi air, Hitchens mulai mengalami kecemasan dan mimpi buruk. (Setelah itu dia menyimpulkan hal bodoh: waterboarding merupakan bentuk penyiksaan. Yaiyalah Njing.)

Iklan

Di buku The Perfect Storm, Sebastian Junger memberi kesaksian mendetail seperti apa rasanya tenggelam. Setelah kadar oksigen darah turun secara ekstrem, anda akan mulai kehilangan kesadaran dan mulai menghirup air. Sepuluh persen orang akan mengalami rasa kejang yang kuat dalam pangkal tenggorokan sehingga mereka meninggal akibat kekurangan nafas sebelum air bahkan mencapai paru-paru mereka. Sembilan puluh persen lainnya akan terus menghirup air seiring mereka mulai kehilangan kesadaran. Mungkin memang ada semacam sensasi damai ketika anda meninggal akibat kekurangan oksigen, tapi rasa sakit yang datang sebelum itu bak sedang disiksa.

Dipenggal:

Dengan banyaknya jurnalis yang dipenggal kepalanya oleh anggota ISIS, ini jelas bukan waktu yang pas untuk mendukung dekapitasi sebagai cara baik untuk meninggal. Tentu saja anda tidak perlu menonton video pemenggalan ini, tapi kalau sudah terlanjur, anda tentunya mengerti bahwa korban sudah pasti menderita ketika kepalanya dipenggal.

Namun memang ada semacam elemen kejelasan yang final ketika kepala anda dipenggal menggunakan alat elegan semacam guillotine. Ahli medis dan penulis Shiya Ribowsky pernah mengatakan ke History Channel bahwa dia "tidak tahu cara meninggal yang lebih cepat dan tanpa rasa sakit dibanding pemenggalan kepala." Pisau hanya akan menyentuh leher anda 1/100 detik dan setelah itu anda meninggal. Prediksi angka kegagalan pemenggalan kepala menggunakan Guillotine di era Revolusi Perancis memang berubah-ubah, tapi paling tidak ada satu yang gagal, menurut esai di the Quarterly Review tahun 1843, dari sekian ribu pemenggalan yang sukses.

Iklan

Lagian emangnya elo bakal sadar setelah kepala dipenggal? Kalau ngomongin prosesi pemancungan di lapangan, mungkin anda hanya akan sadar selama 5 hingga 7 detik setelah bunyi pemotongan terdengar. Sebuah catatan tentang seorang penjahat yang dipancung di 1905 menjelaskan bahwa kepala yang telah dipenggal masih bisa bergerak selama beberapa detik, tapi memang ini tidak ada hubungannya dengan kesadaran. Namun percayalah apapun kasusnya, kekurangan darah dan penurunan tekanan darah akan membuat anda kehilangan kesadaran seketika dan sudah pasti anda meninggal dunia.

Tetap saja belum pernah ada satu orangpun di negara-negara Barat yang dieksekusi menggunakan guillotine sejak 1977 (kalau di Timur Tengah pakai pedang dan algojo). Kemungkinan besar tren ini masih berlanjut. Perlu diingat, pemenggalan kepala model begini kadang-kadang masih terjadi. Mereka mengerikan dan tentu saja bisa membuat orang yang menemukan mayat anda mengalami trauma.

Mati Saat Tidur:
Meninggal saat tidur sebenarnya bukan fenomena yang alami. Ketika ini terjadi terhadap anak muda, rasanya tragis dan mengerikan. Bahkan ketika berada di bawah pengaruh obat yang kuat, pasien kanker pun biasanya masih berusaha mempertahankan kesadaran, atau paling tidak mengalami respirasi agonal ketika mereka meninggal. Lagian serangan mendadak seperti serangan jantung mungkin akan langsung membangunkan seseorang. Meninggal dalam tidur mestinya tidak sering terjadi.

Iklan

Jadi aneh bagaimana banyak obituari menulis si A atau B "meninggal dengan damai dalam tidurnya." Tentunya bukan saya saja yang merasa ini hal aneh. Elizabeth Simpsin dari Virginian-Pilot merasa ini istilah yang aneh dan melakukan penyelidikan. Artikel hasilnya sangat layak dibaca.

Berikut beberapa poin yang dia temukan tentang meninggal dengan damai dalam tidur:

  • Istilah ini biasanya eufemisme untuk bunuh diri
  • Apnea tidur biasanya berperan, terutama bagi kaum manula
  • Kondisi seperti stroke atau aneurisme akut bisa menyebabkan orang meninggal dalam tidur

Setidaknya pelajaran paling menarik yang dia dapat adalah bagaimana kegagalan jantung mungkin menjadi penyebab utama kematian mendadak ketika seseorang sedang tidur.

Anda bisa melihat berdasarkan contoh Richard Smith, si maniak kanker, bahwa tidak semua ahli akan memiliki pendapat yang sama soal ini, tapi mungkin saya harus memilih kegagalan jantung ketika sedang tidur. Saya paham benar soal sensasi gugup ketika detak jantung anda mulai keluar dari ritme. Rasanya memang aneh, tapi apabila kegagalan jantung rasanya seperti ini—dan banyak kesaksian yang mengatakan bahwa ini terjadi tanpa rasa sakit—rasanya saya tidak akan bangun apabila terkena kegagalan jantung. Apabila di tengah malam nanti, saya terkena gagal jantung, dan tidak pernah bangkit, rasanya ini cara mati terbaik.

Kayaknya mati begini paling mending atau ya pake guillotine.

Follow Mike Pearl di Twitter.