Persahabatan

Inilah Alasan Lelaki di Seluruh Dunia Mulai Kehilangan Teman di Usia 20-an

Para lelaki menceritakan kisah mereka bersahabat dengan teman-teman cowok di usia 19 hingga 30, berujung pada pudarnya persahabatan mereka.
26.6.17
Illustration by Dan Evans

Cowok konon lebih suka melakukan apa-apa seorang diri. Memiliki ambisi pribadi besar di kantor, mencari pasangan seorang diri di Tinder, menamatkan Fallout 4 sendirian di kamar, atau sekedar makan makanan instant seorang diri di kos-kosan. Seiring kita bertambah usia dan kehidupan mulai melempar banyak tantangan, banyak lelaki mulai menyadari mungkin ada alasan banyak serigala bekerja berkelompok.

Iklan

Biarpun banyak dari kita tergolong sosial di zaman sekolah dan kuliah, ketika tekanan dari dunia kerja mulai mengetok pintu, banyak wajah-wajah akrab yang semakin terasa jauh, membuat kita sadar betapa sendiriannya kita di dunia ini.

November ini, sebuah polling YouGov yang dijalankan oleh Movember Foundation menemukan bahwa 12 persen lelaki di atas umur 18 tahun tidak memiliki satupun teman akrab yang bisa menjadi tempat curhat masalah kehidupan yang serius. Ini berarti sekitar 2.5 juta lelaki di Inggris. Lebih dari 25 persen lelaki mengaku ngobrol dengan teman kurang dari sekali dalam sebulan, dan 9 persen mengatakan tidak ingat kapan terakhir kali mengontak teman mereka.

Ini bisa menjadi masalah serius di masa depan. Penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa tidak memiliki banyak sahabat akrab dapat mempengaruhi kesehatan lelaki dalam jangka panjang, dan beresiko mengakibatkan depresi, kecemasan dan bahkan bunuh diri.

Sarah Coghlan, kepala Movember UK, mengatakan: "Banyak lelaki yang kami wawancari tidak menyadari betapa dangkalnya hubungan pertemanan mereka sampai mereka akhirnya menghadapi tantangan hidup yang berat, seperti kehilangan seseorang, isu dengan pacar/partner, menjadi seorang ayah, atau dipecat dari pekerjaan—di saat-saat seperti inilah teman baik sangat dibutuhkan."

Jadi apa yang sebetulnya terjadi dalam hubungan pertemanan seiring kita bertambah tua? Berikut kesaksian enam lelaki dalam fase kehidupan berbeda-beda, soal hubungan mereka dengan sohib kental yang belakangan ga dekat lagi.

Iklan

Matt, 19
"Gue sempet kuliah tahun pertama D3, tapi karena hubungan dengan pacar lagi ambruk, gue akhirnya keluar. Setelah itu gue kerja on and off. Pas hubungan dengan pacar lagi bermasalah, gue sempet curhat ke temen-temen SMA yang lebih akrab, dan bukan temen kuliah. Gue lumayan beruntung punya lingkaran sosial berisikan 7 atau 8 orang—kebanyakan cowok, tapi ada juga cewek. Kami semua satu SMA, dan beberapa gue kenal dari SD. Gue lumayan terbuka dengan mereka semua, jadi kita bisa ngomongin apa aja. Mereka juga sering curhat ke gue tentang hal-hal pribadi. Gue mendingan ngobrol sama temen dibanding keluarga karena mereka cenderung mengalami masalah serupa, jadi lebih mudah untuk mengerti. Gue ada juga temen dan kenalan dari kantor dan dunia olahraga, tapi temen-temen dari sekolah sudah teruji dan terpercaya. Kami sudah melalui banyak hal bersama."

Tom, 21
"Saya langsung mulai kerja setelah lulus SMA. Mungkin saya akan mempunyai lebih banyak teman kalo saya masuk kuliah, tapi berhubung banyak anak kuliah kerjanya mabuk-mabukan dan nyoba-nyoba substansi, saya males. Saya pasti akan terkucil karena gak suka gitu-gituan. Saya memiliki sekitar 6 atau 7 teman dekat dan tinggal bareng dengan beberapa teman baru. Saya bekerja empat atau lima hari seminggu, jadi kalau lagi nganggur saya berusaha nongkrong dengan teman-teman apabila sempat. Sembilan puluh persen teman saya doyan pergi ke gig hardcore punk, jadi saya biasanya ketemu mereka di dalam moshpit. Tiga tahun terakhir, saya banyak menemukan banyak teman baru. Ketika berumur 16 tahun, saya tidak punya teman sama sekali. Ini akhirnya berubah karena saya mulai semakin pede ngobrol dengan orang lain. Ketika remaja, saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain karena terlalu minder. Sekarang, saya memiliki dua teman baik untuk ngobrol tentang apa saja.Mereka membiarkan saya tinggal di rumahnya selama sebulan ketika saya masih kesulitan mencari tempat tinggal sendiri. Kala itu, saya banyak curhat hal-hal yang sangat pribadi. Mereka sudah seperti keluarga sendiri."

"Sebagian besar orang yang kukenal dan kuajak main ya teman kantor gitu. Bikin depresi nih."

Stefan, 24
"Saya lulus dengan gelar S2 Juni lalu. Jujur, hanya ada 2 orang yang benar-benar cocok dengan saya di kampus. Yang lainnya adalah bagian dari kelompok minum-minum bareng, tapi gak cocok buat ngobrolin masalah kehidupan yang serius. Semenjak saya mulai bekerja tahun ini, kebanyakan orang yang saya temui adalah rekan kantor, dan ini agak menyedihkan. Mereka semua baik, tapi kesamaan yang kami miliki hanyalah tempat bekerja. Ada sekitar 3 teman yang saya temui secara reguler, dan beberapa teman ngobrol WhatsApp yang tidak pernah saya temui langsung. Seiring bertambah umur, saya mulai berhenti sok ramah terhadap orang-orang yang tidak cocok dengan saya. Dulu zaman sekolah saya sering berusaha menjadi bagian dari banyak kelompok pertemanan, tapi sekarang saya hanya nongkrong dengan 3 orang dari kampung halaman, atau terpaksa nongkrong dengan rekan-rekan kerja yang sudah mempunyai anak. Tapi ini bagus kok—saya sudah menemukan beberapa orang yang akan menjadi teman akrab dalam jangka waktu yang lama daripada harus mempertahankan hubungan dengan orang-orang yang saya tidak suka. Kalau saya ada masalah serius, saya akan bawa ke pacar—kecuali masalahnya tentang dia. Saya punya seorang teman lama yang saya kenal semenjak 3 tahun dan saya temui beberapa kali setahun setiap dia datang ke London. Dia mungkin satu-satunya teman yang saya percayai dengan curhatan-curhatan pribadi.

Ben, 26
"Saya masih punya tiga atau empat teman dari kuliah, tapi dulu saya sosok yang berbeda. Dulu saya masih serba negatif. Sekarang saya tidak berteman dengan banyak teman dari era tersebut karena teman-teman dari era tersebut tidak cocok dengan saya yang sekarang. Saya sudah tidak mau melakukan hal-hal bodoh yang kami biasa lakukan. Teman-teman terdekat saya adalah teman dari SMA, tapi saya jarang bertemu mereka—agak paradoks ya. Saya biasanya bertemu mereka sekitar 5 minggu dalam setahun, di acara bachelor party atau pernikahan. Mereka adalah pendukung utama saya. Banyak dari mereka telah melalui masa-masa berat dan setelah membahas masalah-masalah berat hidup, tidak ada lagi yang tidak bisa kami bahas. Tapi memang sulit untuk mencari waktu untuk nongkrong. Semuanya terasa rutin. Kalau saya lagi nganggur, saya berusaha berolahraga. Gak ada waktu lagi untuk melakukan hal lain. Kadang-kadang di malam hari pun saya harus melakukan conference call, dan ini sudah tidak aneh. Jadi sulit untuk mempunyai waktu atau energi untuk merencanakan nongkrong dengan teman. Sedih rasanya.

"Sobat terdekatku juga sama-sama orang yang bermasalah secara emosional. Mati dah gue."

Colin, 28
"Saya memiliki sahabat inti dari tahun pertama kuliah yang masih berhubungan, biarpun beberapa sudah pindah ke luar negeri. Teman dekat saya dari kampus ngejar cewek ke Selandia Baru, tapi saya masih ngobrol dengan dia setiap hari. Cuman yang awkward, dalam lingkaran pertemanan saya, ada mantan pacar. Kalau saya berusaha mengenalkan cewek baru ke dalam lingkaran, nanti tidak lama kemudian saya dapat banyak text jahat bertubi-tubi. Tapi selain itu, saya berusaha bertemu mereka sesering mungkin. Di kampus, kebanyakan waktu nganggur dihabiskan dengan basian mabuk akibat minum alkohol murah. Setelah lulus, dalam dua tahun pertama saya sering kesulitan melawan rasa kangen akan momen-momen seperti ini. Tapi sekarang saya udah gpp. Kalau saya ada masalah serius, ada beberapa orang yang bisa dijadikan teman ngobrol. Salah satu teman terdekat saya agak bermasalah secara emosional, jadi saya tidak ngobrolin hal-hal yang kelewat pribadi dengan dia. Tapi di lain sisi, dia orangnya kocak banget, jadi saya senang nongkrong dengan dia untuk kabur dari masalah."

Michael, 30
"Saya gak sempet kuliah, dan langsung bekerja di lingkungan dengan banyak orang seumuran. Hingga sekarang saya masih berhubungan dengan mereka. Di pertengahan 20-an, saya selalu keluar nongkrong bareng teman di akhir pekan—ketemu setiap saat. Di titik itu, rasanya rasa senang tidak akan pernah habis. Tapi di ujung umur kepala dua, semuanya mulai berubah. Orang mulai hidup lebih individualistis dan membangun karir dan masa depan masing-masing. Tidak ada lagi yang mempunyai waktu untuk bersenang-senang. Mungkin memang ini karena umur yang bertambah, dan saya mengerti itu. Saya hanya masih bertemu segelintir teman dekat saja. Kalau saya mau curhat serius, saya biasanya ngobrol dengan pacar. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bertemu teman-teman lama, tapi sekarang entah saya yang sibuk, atau mereka yang sibuk. Sulit untuk menemukan waktu yang pas."