Sepakbola

Giliran Anak Buah 'Lord Edy' Terlibat Pengaturan Skor, Kenapa Kita Tak Lelah Mendukung PSSI?

Anggota Komite Eksekutif PSSI Hidayat mundur sebelum diberi sanksi karena upayanya mengatur laga Madura FC vs PSS Sleman. Capek bos, korupsi terlanjur mendarah daging di lembaga ini.
7.12.18
Suporter sepakbola Indonesia
Suporter sepakbola Indonesia di Stadion GBK. Foto oleh Reuters.

Belum kelar polemik Lord Edy Rahmayadi yang enggan mundur dari tampuk kepemimpinan PSSI dan ucapan “wartawan harus baik”, kini badan sepakbola nasional tersebut kembali digerogoti skandal pengaturan skor. Pekan ini komisi disiplin PSSI memberikan sanksi terhadap anggota komite eksekutif PSSI Hidayat karena berupaya mengatur skor pertandingan antara Madura FC dan PSS Sleman dalam Liga 2.

Belakangan Hidayat mengundurkan diri dua hari sebelum diberikan sanksi. Skandal tersebut muncul saat Hidayat mencoba menyuap manajemen Madura FC agar mengalah terhadap PSS Sleman. Atas hal tersebut Hidayat dilarang aktif dalam kegiatan sepakbola selama tiga tahun dan didenda Rp150 juta.

Beberapa lembaga sepakbola independen juga mencium percobaan suap untuk mengatur skor di beberapa pertandingan Liga 2. Akhir November lalu dalam pertandingan Aceh United vs PSMP Mojokerto Putra yang berakhir 3-2 sempat bergulir isu match-fixing. Tak berapa lama kemudian Manajer Sriwijaya FC Ucok Hidayat juga melaporkan adanya dugaan suap yang dilakukan mafia sepakbola terhadap pemainnya yang asal Korea Selatan Yu Hyun Koo. Dari kabar yang berembus, Yu Hyun Koo mengaku pernah ditawari Rp400 juta dari seseorang yang diduga mafia bola saat melawan Bhayangkara FC.

Wakil ketua PSSI Joko Driyono, dikutip awak media, berjanji pihaknya akan serius memperbaiki sistem dalam tubuh PSSI. Saat ini, kata Joko, PSSI terus melakukan langkah tegas agar tidak ada lagi mafia skor pertandingan.

Iklan

"Sebenarnya untuk mengatasi kasus tersebut cukup sederhana. Kita perlu memperkuat peran komisi disiplin PSSI," kata Joko. "Peran komisi disiplin akan diperlukan untuk mengatasi isu-isu penting," seperti dikutip Jakarta Post.

Persoalan korupsi dan mafia pertandingan tampaknya terus menjadi masalah kronis PSSI. Itu belum termasuk tragedi kematian suporter yang setiap tahun selalu terjadi. Awal tahun ini, mantan pemain PSS Sleman asal Belanda, Kristian Adelmund, sempat blak-blakan kepada VICE membahas korupsi yang menggurita di tubuh PSSI.

"Meski keadaan semakin baik saat ini, korupsi tetap menjadi masalah utama sepakbola Indonesia. Sebagai contoh, saya pernah melihat bos lawan membawa pistol ke ruang ganti wasit. Anda tak perlu heran dengan hal itu di Indonesia," tuturnya kepada VICE. Sayangnya Adelmund tidak merinci lebih lanjut lagi apakah praktik tersebut melibatkan uang atau tidak.

Soal korupsi dan mismanajemen bukan barang baru. Pada saat Liga Indonesia 1998, sebanyak 15 wasit PSSI divonis bersalah mengatur skor pertandingan. Pada 2011, Indonesia Corruption Watch (ICW) memaparkan dugaan penggelapan yang dilakukan petinggi PSSI sebesar Rp720 miliar dari APBN. Itu bukan yang terakhir kali terjadi, pada 2015, Komunitas Suporter Antikorupsi (KoruPSSI) melaporkan PSSI kepada KPK atas dugaan skandal korupsi APBN 2014. Sayangnya KPK tidak menindaklanjuti kedua tuduhan terakhir tersebut.

Iklan

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris jenderal PSSI Ratu Tisha berusaha meyakinkan publik bahwa PSSI selalu berinovasi menjamin pertandingan sehat dan transparan. Salah satu caranya, PSSI bekerjasama dengan Genius Sports—sebuah lembaga asal London yang menyediakan manajemen data pertandingan.

"September 2017, kami sudah bekerja sama dengan Genius Sports. Itu sudah berjalan sejak tahun ini. Dari sana kami akan mendapat peringatan untuk laga mana yang perlu mendapat perhatian," kata Tisha dikutip media.

PSSI, kata Tisha, juga melakukan investigasi secara internal terkait ada tidaknya suatu pelanggaran. Selain itu fungsi komisi disiplin juga telah diperkuat dengan pemberian sanksi bagi pelanggar.

"Kami sejujurnya tidak bisa sendirian memerangi match-fixing karena kami butuh dukungan dari pemerintah, stakeholder, serta masyarakat," ujarnya.

Sementara itu Akmal Marhal selaku koordinator Save Our Soccer—lembaga independen yang fokus pada pembenahan tata kelola sepakbola—mengatakan sanksi terhadap suap dan match-fixing harus dilakukan meski pelaku mundur. Menurutnya selama ini PSSI terkesan menutup mata dan tidak serius untuk terus memerangi mafia sepakbola.

"Ini sudah menjadi rahasia umum," kata Akmal kepada VICE Indonesia. "Pengurus PSSI bahkan masyarakat sepakbola sudah tahu permasalahan ini. Sayangnya, tak ada tindakan dan aksi nyata dari pihak PSSI, Kemenpora, dan penegak hukum."

Menurut Akmal, kasus suap Hidayat bisa menjadi awal untuk konsisten melawan praktik pengaturan skor. Hidayat, kata Akmal, bisa menjadi whistleblower mengungkap praktik mafia sepakbola yang telah menjadi kanker dalam tubuh organisasi PSSI. Kalau memang kankernya sudah stadium 4, pecinta sepakbola di Tanah Air barangkali hanya bisa merelakan saja PSSI mengembuskan napas terakhir. Tidak ada alasan bagi pecinta sepakbola terus-terusan mendukung organisasi yang ingkar janji, walau berulang kali memperoleh kesempatan memperbaiki diri.