musik campur-campur

Dengarkan 'Sound of The Raging Steppe', Kompilasi Folk Metal Mongolia yang Nendang Abis

Stream 'Sound of the Raging Steppe,' kompilasi folk metal yang diisi oleh lima band metal yang terpengaruh musik folk ala Mongolia dan Kazakhstan.
16 November 2018, 8:03am
Nan
Foto milik Nan

Setelah karir bandnya Tengger Cavalry moncer, komposer dan multi-instrumentalis Nature Ganganbaigaali seakan didaulat menjadi petugas pemasaran yang bertugas seorang diri mempromosikan musik folk mongolia dan saudaranya yang lebih nyeleneh, folk metal Mongol. Ganganbaigaali pindah dari Beijing ke New York City untuk melanjutkan sekolahnya beberapa tahun silam (sebuah keputusan yang sudah menghantarkan dirinya ke Carnegie Hall—berulang kali). Meski tinggal jauh dari Mongol, hati Ganganbaigaali masih tertaut pada stepa-stepa di Mongol. Sekarang, tugasnya adalah menjadi duta besar yang tak pernah lelah memperkenalkan skena dan sound folk metal mongol yang dia tinggalkan di kampung halamannya.

Kini, Ganganbaigaali meningkatkan upaya untuk mengalihkan perhatian pecinta musik global pada kampung halamannya lewat sebuah kompilasi folk metal baru yang diisi lima band metal yang sengat terpengaruh musik Mongolia dan Kazakhstan. Ganganbaigaali menamai kompilasi ini Sound of the Raging Steppe. Tepat tanggal 16 November ini, kompilasi tersebut akan dirilsi melalui labelnya Tengger X Cavalry Recordings. Pengisi kompilasi Sound of the Raging Steppe berasal dari kota-kota di wilayah utara Tiongkok, seperti Beijingdn Hohhot, dua kota yang punya sejarah nomadik yang panjang.

Sepertinya, audiens yang diarah kompilasi ini bukanlah penggemar extreme metal. Layaknya Tengger Cavalry, band-band ini cenderung memainkan rock, metalcore atau malah nu-metal. Kentara sekali bahwa Korn dan Metallica adalah influence utama band-band ini (dengarkan bassline funky dari track milik Nan deh). Selain itu, breakdown dan clean vocal bertebaran di mana-mana (yang paling jelas sih komposisi Metalcore yang dimainkan Liberation. Mixingnya kinclong abis).

Dari semua band dalam kompilasi ini, Suld dan Tengger Cavalry lah yang paling mewakili tema folk di dalamnya. Keduanya sengaja menyanyikan lirik berbahasa Mongol dan memasukkan throat singing serta sejumlah instrumen tradisional; Sintas juga menampilkan warisan budaya Kazakhstan dengan cara yang sama. Uniknya, penggunaan instrumen musik tradisional khas Kazakhstan ini malah nyetel banget dalam kerangka komposisi psych-rock ala Pink Floyd yang dimainkan Sintas.

“Selama kurun waktu delapan tahun yang dihabiskan Tengger Cavalry untuk rekaman dan tur keliling Amerika Serikat dan Inggris, pelan-pelan saya sadar masih sering terdapat ruang kosong, keselahpahaman serta keterbatasan ketertarikan akan musik modern dari kawasan Asia Timur dan Utara,” ungkap Ganganbaigaali kepada Noisey.

"Ruang kosong ini tak tercipta karena sengaja, melainkan dipengaruhi oleh sejarah dan perspektif media. Kebanyakan band metal asia yang keren belum banyak ditemukan oleh media karena skena baru berkembang seiring perkembangan ekonomi di Asia. sebelum akhirnya meraih pangsa pasar global, band-band ini harus terlebih dahulu memperkuat pengauhnya di kancah lokal. Ini butuh uang, waktu dan ketertarikan akan budaya tertentu."

"Jadi, lewat proyek ini, saya ingin menggunakan kekuatan dan wawasan yang saya miliki untuk menunjukkan apa yang bisa ditawarkan Asia pada dunia," imbuhnya. "Tak cuma musik-musik dari Jepang, Cina, Mongolia dan Kazakhstan. Asia punya banyak band keren yang belum banyak dikenali sampai sekarang."

Stream Sound of the Raging Steppe lewat tautan di bawah ini.