penelitian

Susah Tidur di Malam Hari? Biang Keroknya Kemungkinan Cahaya Biru dari Gawai Kita

Menurut penelitian di Selandia Baru, yang terimbas dampak buruk sinar biru buatan tak cuma manusia. Tumbuhan dan hewan juga kena getahnya.
15.11.18
​Sinar biru dari gawai berdampak pada kesulitan tidur manusia modern
Sinar biru dari gawai berdampak pada kesulitan tidur manusia modern. Foto ilustrasi via Shutterstock

Apakah kalian sering merasa susah tidur nyenyak? Sering ngerasa capek setelah bangun tidur? Kalau iya, biar kami kasih tahu. Biang kerok dari masalah "jetlag tiada ujung" ini adalah efek paparan berlebih terhadap sinar biru buatan yang berasal dari gawai kita. Mulai dari ponsel, layar laptop, atau televisi.

Penelitian Royal Society Te Apārangi, kampus di Selandia Baru, yang dipublikasikan pekan ini menyimpulkan gaya hidup manusia modern yang susah dipisahkan dari gawai elektronik tak cuma mengacaukan jam biologis, tapi juga ekosistem di sekitar kita. Apalagi, kita harus ingat kalau sinar biru adalah gelombang frekuensi tinggi yang mencapai puncaknya pada tengah hari.

Iklan

Laporan penelitian tersebut—diberi judul Blue Light Aotearoa—menyatakan manusia kadang butuh paparan sinar biru pada pagi hari agar kita lekas terjaga dan tetap aktif. Masalahnya, paparan sinar biru harus direm menjelang malam agar badan kita tahu kapan harus beristirahat.

Dr Lora Wu, peneliti senior di Sleep/Wake Research Centre, Massey University selaku kontributor dalam penelitin tersebut, menyatakan kita sering terpaku pada gawai yang mengeluarkan sinar biru sepanjang hari dan malam. Akibatnya tubuh kita tak bisa membedakan siang dalam lagi.

"Paparan sinar biru yang tinggi tak hanya mengganggu jam tidur kita tapi bisa berdampak pada kesehatan kita. Konsekuensinya bisa macam-macam dari peningkatan kemungkinan menderita obesitas, depresi dan potensi mengidap beberapa tipe kanker," kata Wu.

Untungnya, solusi masalah ini tak rumit-rumit amat. Kita cukup mengganti lampu berwarna putih kebiruan dengan lampu kuning redup. Cara lainnya adalah mengurangi brightness pada layar gawai, menjalankan aplikasi pengurang emisi sinar biru pada malam hari, dan—kalau niat banget nih—mematikan gawai segera setelah kita berbaring di tempat tidur.

Uniknya, yang terpapar kelebihan emisi sinar biru ternyata bukan cuma manusia. Hewan dan tumbuhan juga menggunakan cahaya buat mengatur jam biologis mereka. Celakanya, karena mereka tak bisa menghindari paparan sinar biru dari peralatan modern, hasilnya fungsi reproduksi, pola makan dan dalam kasus tumbuhan, proses penyerbukan jadi terganggu.

Jadi, marilah jadi manusia yang budiman, yuk berubah. Gunakan lampu luar ruangan yang tak begitu terang. Kalau perlu, pasang tirai agar cahaya lampu rumah kita tak bikin kuncing yang kelayapan malam-malam susah tidur.

Follow Zoe di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Selandia Baru