Operasi Pembersihan Kaum LGBT di Chechnya Disebut Menewaskan Dua Orang

Korban dari kalangan gay sangat mungkin bertambah. Pemerintah otoritas Chechnya mengklaim informasi tewasnya dua orang tersebut sebagai 'misinformasi'.
15.1.19
Presiden Wilayah Otonom Chechnya, Ramzan Kadyrov
Presiden Wilayah Otonom Chechnya, Ramzan Kadyrov saat menghadiri acara kenegaraan di Kremlin. Foto oleh Sasha Mordovets/Getty Images

Setidaknya dua orang dikabarkan tewas dalam gelombang masif penangkapan anggota komunitas gay di Provinsi Otonom Chechnya, seperti dilaporkan oleh Jaringan LGBT Rusia pada Senin (14/1) awal pekan ini.

Rumor tentang gelombang baru pembersihan kaum LGBT di kawasan berpenduduk mayoritas muslim itu telah beredar beberapa pekan terakhir ini, namun kelompok aktivis tersebut mengatakan bahwa informasi terbaru yang mereka terima menunjukkan setidaknya 40 orang telah ditahan dan dua di antara menemui ajal setelah mengalami penyiksaan.

"Kami tahu ada sekitar 40 orang—baik laki-laki atau perempuan—yang saat ini tengah ditahan," ujar Igor Kochetkov, program direktur Jaringan LGBT Rusia, dalam sebuah pernyataan resminya. "Setidaknya dua di antaranya tewas karena disiksa. Kami juga dapat informasi bahwa penahanan tersebut dilakukan oleh aparat penegak hukum dan korban yang ditangkap ditahan di Argun."

Pemerintah Chechnya menyanggah laporan tersebut, menyebutnya sebagai “misinformasi”.

“Isi laporan tersebut—terus terang saja—tidak benar dan hanya merupakan sebuah misinformasi. Tak ada penjara dan tempat penahahan d Republik Chechnya yang berada di luar sistem FSIN," kata Alvi Karimov, juru bicara Presiden Republik Chechnya, Ramzan Kadyrov, kepada media asal Rusia RBK.

Media independen Rusia Meduza melaporkan salah stau korban penangkapan yang berhasil kabur mengatakan jumlah korban jiwa bisa mencapai 20 orang. Dia menyebut apa yang terjadi di Chechnya sebagai "genosida kelompok LGBT."

Sebelumnya, pada 2017, Argun pernah digunakan sebagai lokasi penahanan dan penyiksaan lebih dari 100 lelaki gay yang berhasil ditangkap melalui sebuah operasi penangkapan besar-besaran yang konon meminta korban sejumlah nyawa. Saat itu, Kadyrov mengklaim tak ada penangkapan lelaki gay di negaranya karena tak ada kaum gay di Chechnya.

Namun, ada perbedaan mendasar dalam operasi penangkapan kaum LGBT tahun ini. Tak cuma menangkap anggota komunitas LGBT, aparat juga merampas dokumen perjalanan mereka.

“Polisi Chechnya melakukan segalanya untuk mencegah korban pergi ke luar negeri atau menyeret polisi ke pengadilan di masa depan,” ungkap Kochetkov. “Mereka merampas dokumen penting milik korban, mengancam akan memidanakan mereka atau orang terdekat korban, dan memaksa mereka menandatangani surat pernyataan kosong.”

Gelombang penangkapan kaum LGBT ini dimulai ketika seorang admin sebuah grup VKontakte—situs serupa Facebook di Rusia—ditangkap akhir Desember lalu. Grup online tersebut digunakan oleh sebagian besar lelaki gay untuk bertemu sesamanya di dunia maya.

Setelah itu, pihak berwenang memperluas operasi mereka, menangkapi lelaki gay yang nomor ponselnya tertera dalam ponsel sang admin di atas.

Pihak berwenang sejauh ini menampik tudingan terkait penangkapan dan penyiksaan kaum gay di kawasan Kaukasus Utara. Mereka tetap pada sikapnya bahkan setelah Organization for Security and Cooperation in Europe bulan lalu menerbitkan hasil penelitiannya tentang pelanggaran hak asasi manusia di Chechnya dan meminta Kremlin untuk segera menyelidiknya.

Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin pernah mengatakan pihaknya tengah membaca laporan itu dengan seksama sebelum memutuskan benarkah telah terjadi pelanggaran HAM massif di Chechnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News