Remaja Kreatif

Remaja Prancis Salin Ayat Injil dan Quran Jadi DNA, Untuk Disuntik Dalam Tubuhnya

Barangkali karena keberhasilan bocah SMA kurang kerjaan ini ramai diliput media, bioengineering bakal jadi tren baru di kalangan remaja.
8.1.19
Ilustrasi patung Yesus dalam rantai DNA.
Sumber foto ilustrasi Shutterstock; Kolase oleh Motherboard 

Seorang pelajar SMA di Prancis diduga merekayasa DNA berdasarkan ayat-ayat dari Kitab Suci Injil dan Al Quran. Tak cukup sampai di situ, siswa SMA kelewat kreatif ini menyuntikan hasil eksperimennya ke kaki sendiri.

Adrien Locatelli, bocah 16 tahun dari Grenoble, Prancis, baru-baru ini mengunggah sebuah paper pendek ke server preprint Open Science Framework. Dalam paper itu, Locatelli mengklaim telah berhasil menciptakan rangkaian DNA yang sudah dicocokan dengan ayat-ayat dalam Qur’an dan Injil. Dia lantas menyuntikan rangkaian DNA itu ke kedua pahanya. bagian DNA yang dibuatkan berdasarkan ayat-ayat injil di paha kiri dan bagian yang mengandung ayat-ayat Qur’an di paha kanan.

Iklan

"Eksperimen ini saya lakukan semata-mata sebagai simbol perdamaian antara agama dan ilmu pengetahuan," tulis Locatelli dalam surel tersebut. "Sekali lagi, ini cuma sebuah simbol."

Rangkaian protesin diciptakan oleh Locatteli sebenarnya cuma rangkaian DNA pendek. Bagian penyusunnya adalah nekleotida yang hanya bisa dikombinasikan dengan sejumlah metode yang khas.

Sebelumnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa nukleotida buatan bisa dimanfaatkan untuk menyimpan data—makanya penting dalam mekanisme dompet Bitcoin. Namun, sampai saat ini, Locatelli adalah orang pertama yang menyuntikan nucleotide ke tubuh manusia.

Locatelli mengatakan dirinya mencocokkan aksara Ibrani ke dalam nukleotida untuk menyusun rangkaian DNA sesuai dengan bunyi ayat pertama Kitab Kejadian dalam Injil. Dalam papernya, Locatelli menjelaskan teknik yang sama dia gunakan untuk menyalin rangkaian aksara arab dalam ayat-ayat dalam Qur’an ke dalam kode genetik.

Locatelli menyebutkan dirinya menggunakan teknik recombinant adeno-associated virus (rAAV) untuk menuliskan kode genetik yang sudah dicocokkan dengan ayat-ayat Injil ke dalam DNA sebuah sebuah virus. Adapun, DNA yang mengandung ayat Qur’an disuntikan dalam bentuk protein tanpa vektor viral. Sayangnya, Locatelli tak menjelaskan caranya mengkloning gen ke dalam vektor viral dalam papernya,

Mengacu pada kuitansi yang diperlihatkan Locatelli pada Motherboard, Locattelo membeli stock bakter E. C dan Virus AAV2 senilai $1.300 (atau setara Rp18,3 juta) dari Vector Builder. Yang mengesankan, Locatelli mengaku dirinya tak memiliki latar belakang bioengineering dan ini adalah kali pertama dirinya bersentuhan dengan aktivitas rekayasa biologis.

Iklan

"Saya cuma pernah magang di Institute for Advanced Biosciences di Grenoble. Itupun cuma semiggu," kata Locatelli. "Ayah saya seorang tukang rotu dan ibu saya bekerja sebagai akuntan. Ayah saya tak keberatan dengan eksperimen ini. Cuma saya memang enggak memberi tahu ibu saya."


Tonton dokumenter VICE saat mewawancarai tokoh teori bumi datar yang menganggap NASA sebagai lembaga penuh kebohongan:


Dalam papermya, Locatelli menulis bahwa injeksi viral di kaki kirinya menyebabkan bengkak yang baru hilang setelah lewat sehari. Sebaliknya, kaki kanannya yang disuntik protein murni tak menunjukkan reaksi apapun.

Alih-alih memanen pujian, eksperimen Locatelli malah bikin berang sejumlah periset bioengineering, salah satunya Sri Kosuri, seorang pakar biokimia dari UCLA yang mempelopori ide pemanfaatan DNA sebagai penyimpan data. Kosuri mendapat informasi mengenai eksperimen Locatteli setelah Google Scholar “tak segaja” memberitahu dirinya dijadikan rujukan dalam papr Locatelli, terang Kosuri dalam sebuah tweet.

"Tahun 2018 belum boleh kelar dulu," katanya lewat sebuah tweet.

"Eksperimen biologis terhadap hewan dan manusia punya risiko tersendiri," ungkap Kosuri dalam sebuah surel. "Ada yang namanya etika penelitian yang wajib kita hormati."

Kendati begitu, Locatelli berkukuh pada pendiriannya, merasa tak ada yang salah dengan eksperimen yang dia lakukan.

"Saya pikir orang biasanya takut kepada segala yang tak mereka pahami," ujarnya. "Rekayasa genetik adalah sesuatu yang luar biasa. saya toh tidak melakukan kegiatan yang membahayakan. Jika eksperimen ini berbahaya, saya tak mungkin bisa membeli bahannya di internet. Istilahnya, kita tak mungkin melarang peredaraan pisau karena kita bisa terluka gara-gara pisau."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard