Pengalaman Tak Enak yang Kurasakan Sebagai Lelaki Gay Gemuk Saat Pakai Aplikasi Kencan

Kayaknya harus ada yang menyoroti betapa komunitas gay di Indonesia punya persoalan body shaming. Sentimen negatif soal tubuh makin menjadi di aplikasi kencan kayak grindr.
27.2.18
Pengalaman Tak Enak yang Kurasakan Sebagai Lelaki Gay Gemuk Saat Pakai Aplikasi Kencan
Ilustrasi oleh Adam Noor Iman.

Sewaktu beranjak dewasa, aku benci sama tubuhku sendiri. Aku punya selulit dan lekukan pada bagian yang salah. Aku melela sebagai laki-laki gay beberapa tahun lalu. Aku kira, setelah melela aku bisa merasa lebih nyaman dan diterima, tapi ternyata budaya body-shaming sangat kentara di komunitas gay.

“No slim, no obesity, no ngondek (femme)”

“Manly only”

“Not for fat AND ELDER”

“Sorry guys, I’m Chub”

Keterangan-keterangan di atas adalah bio di profil Grindr yang aku baca beberapa waktu lalu. Aku jadi bertanya-tanya, ngapain masih terus menggunakan aplikasi tersebut. Sampai-sampai bio profil terakhir yang kubaca bikin nyesek. Apa orang harus minta maaf hanya karena tubuhnya berukuran plus? Apa harus begitu?

Dengan begitu banyak aplikasi kencan yang siap memfasilitasi orang berkenalan dan bersenang-senang, aku sangat siap memasuki budaya gay. Ini dia, aku mungkin akhirnya bisa menemukan cinta atau hasrat di luar sana. Rupanya kenyataan berkata lain saat mereka melihat fotoku; nyengir dengan sepasang kacamata tebal, kaus dan celana kebesaran (dulu selera fesyenku enggak kayak sekarang).

Intinya, aku enggak kelihatan menarik. Mungkin ratusan laki-laki menolak, mengabaikan, dan bahkan mengolok-olokku karena punya nyali ngajak mereka kencan. Dikelilingi lingkungan seperti ini, dipengaruhi estetika gay yang kumiliki, ditambah hiperealitas budaya gay, hasilnya pengalaman mencari pasangan lebih sulit.

Tidak mengejutkan kalau persoalan citra tubuh, serta body shaming, ada di komunitas gay. Banyak laki-laki ingin mencapai tubuh Adonis—tipe ideal untuk dimiliki atau dikencani. Bukan hanya citra tubuh tapi juga penampilan—maskulin, femme, kekar, semuanya penting. Selera fesyen dan cara aku menampilkan diri sendiri juga sangat diperhitungkan di komunitas gay, terutama lingkup Jakarta.

Setelah bertahun-tahun mencoba kembali bangkit dan gagal, aku akhirnya berdamai sama penampilanku. Aku sudah menerima kalau ada orang-orang yang akan langsung menolakku karena bentuk tubuhku dianggap tak menarik. Tapi, mungkin, karena rasa ingin diterima adalah suatu hal yang alami bagiku, aku juga butuh afirmasi. Aku rasa banyak orang sepakat.

Aku akhirnya ngrobrol-ngobrol dengan beberapa teman gay soal pengalaman mereka sebelum akhirnya menerima dan berdamai dengan diri sendiri—tentu nama mereka pakai pseudonim untuk menjaga privasi. Oh iya, karena kami laki-laki gay, enggak perlu kaget kalau pseudonim kami keren-keren.

Cherie Fox (25 Tahun)

Gue selalu diremehin karena penampilan. Gue pernah dibilang jelek di depan muka gue. Dia bilang mau jalan sama gue hanya karena kasihan. Belum lagi orang-orang yang ngebet mau ketemu gue tapi sekalinya udah ketemu, mereka mencari-cari alasan buat cabut. Itu semua bikin gue ngerasa, “Kayaknya ada yang salah sama diri gue.”

Itulah mengapa saya olahraga—selain buat kesehatan, ya: saya juga mau diterima di komunitas gay di sini. Gue merawat diri sendiri dengan berolahraga, mengenakan pakaian-pakaian yang menonjolkan sisi bagus tubuh gue, dan pakai produk perawatan kulit. Itu karena gue enggak merasa diterima di sini. Tapi untungnya semua itu sepadan sekarang. Cowok-cowok pada mau sama gue, dan gue juga jadinya lebih pede karena itu.

Gil (23 Tahun)

Di Yogyakarta, circle kencannya lumayan kecil dan homogen. Jadi susah menemukan pasangan karena aku sangat terbuka soal orientasi seksualku. Lalu ada Grindr dan tiba-tiba aja rasa percaya diriku merosot. Aku jadi enggak pede. Biasanya habis kirim-kiriman foto, seorang cowok bisa langsung ngeblok aku, atau menolak aku karena aku enggak jenggotan atau aku kelihatan terlalu “hipster” dan “queer” yang mana enggak masuk akal sama sekali.

Pada saat itu, aku ngerasa seperti enggak bisa memenuhi standar kecantikan untuk cowok gay. Hal-hal kayak gitu bikin aku down banget dan akhirnya aku mengubah penampilan; aku jadi pakai baju yang lebih kasual dan maskulin—enggak pakai crop top atau mewarnai rambut. Tapi sekarang aku sadar itu adalah keputusan yang bodoh. Sekarang aku lebih nyaman sama diri sendiri karena aku enggak mau jadi orang lain hanya supaya bisa menyenangkan orang-orang.

Thom Berry (28 Tahun)

Saya gendut, gembil, jelek. Saya sering dibilang gitu di Grindr atau Jack’d. Sakit sih dibilangin gitu. Kadang saya tantangin aja untuk ketemuan supaya mereka bisa ngomong itu langsung. Tapi mereka paling ngeblok saya. Saya kasihan, sih, sama mereka. Tapi saya juga mengasihani diri sendiri karena membuang waktu balesin chat mereka. Saya putus asa. Waktu itu saya masih berusia 19 tahun dan belum pernah ngewe. Pada saat itu saya rela ngewe sama siapa aja karena saya enggak merasa pantas punya pacar cakep. Untuk beberapa saat, ini berhasil.

Tapi setelah beberapa tahun, saya tetap depresi dan bahkan suicidal. Saya enggak suka memandang diri sendiri di cermin. Saya benci dengan paha saya, dada saya, kaki saya, semuanya deh. Bukannya sekarang sudah enggak begitu, tapi setidaknya saya lebih pede dan berani untuk punya harga diri. Saya masih gendut tapi setidaknya saya disayangi oleh teman-teman saya dan itu rasanya cukup.