Toko Buku Independen, Motor Pendorong Dunia Literasi Malaysia Tetap Menyala

VICE ngobrol bersama Abdul Nazir Harith Fadzilah, pendiri Tintabudi. Toko buku independen memberi gairah baru bagi kancah sastra lokal—serupa dengan yang terjadi di Indonesia.
14.2.18
Abdullah Nazir Harith Fadzillah. Semua foto oleh penulis.

Industri buku belum mati. Kita semua tahu itu. Produk cetak memang tidak akan ditinggalkan orang-orang—apalagi oleh anak muda yang sering dituduh tak suka membaca. Hanya saja, masih diliriknya buku oleh anak muda jelas bukan sepenuhnya hasil perjuangan jaringan toko buku besar. Di banyak kota besar Indonesia, banyak millenials dan generasi Z kini aktif membeli buku cetak dari toko buku online kecil, atau dari toko maupun penerbit independen. Sebab, di jaringan independen itulah, kita masih bisa menemukan karya-karya keren, baik fiksi maupun nonfiksi, yang tidak sepenuhnya berorientasi komersial.

Apa yang terjadi di Indonesia, rupanya juga dialami Malaysia. Mari berkenalan dengan Abdul Nazir Harith Fadzilah, dia salah satu pendiri Tintabudi. Itu adalah nama toko buku independen di Kuala Lumpur, Malaysia. Nama Tintabudi, secara simbolis adalah gabungan kata yang bermakna tulisan-tulisan bermanfaat. Toko yang dikelola Nazir merupakan bagian dari ekosistem Gedung Zhongsan—pasar mungil berisi bisnis alternatif yang digerakkan anak muda plus coworking space berbagai startup Kuala Lumpur.

VICE cukup terpukau melihat koleksi buku-buku yang dimiliki Tintabudi. Ada karya sastra klasik Malaysia, penulis muda Negeri Jiran, plus buku klasik macam ini.

Nazir mengaku berusaha mengelola Tintabudi bukan sekadar sebagai tempat jualan buku cetak. Dia ingin tokonya dapat menjadi lokasi nongkrong bagi penulis yang tidak terlalu populer, juga buat para penyuka buku untuk bertemu dan saling berdiskusi tentang karya-karya favorit mereka.

VICE memiliki kesempatan mewawancarai Nazir, sarjana teknik dari RMIT University, mencari tahu alasannya mendirikan Tintabudi, bagaimana proses mengelola toko buku independen, dan mengenal karya sastra Malaysia kontemporer.

VICE Indonesia: Halo Nazir! Bisa diceritakan kayak gimana ceritanya kamu mendirikan Tintabudi?
Abdullah Nazir Harith Fadzillah: Kami mulai pada April 2016. Toko buku ini diurus oleh saya bersama dua teman, Rohan Yung dan Amir Kamil. Mereka adalah mitra Tintabudi. Awalnya Tintabudi berlokasi di Ipoh. Kami menyewa sebuah rumah yang dijadikan sebagai toko buku dan sekaligus sebagai tempat tinggal kami. Sayangnya, toko kami di sana tidak ramai dikunjungi pelanggan karena Ipoh hanya kota kecil. Suatu hari, kami tidak sengaja bertemu dengan anak muda bernama Rohan Young, yang nantinya jadi mitra bersama itu, di pameran. Dia cerita kepada saya dan Amir tentang Zhongshan Building yang ada di Kampung Attap. Akhirnya kami pindah ke sini Agustus tahun lalu.

Wah, selamat kalau begitu. Tempat ini sangat rapi! Mengingatkanku sama Pasar Santa di Jakarta. Bedanya, tempat ini memiliki ventilasi udara lebih baik.
[Tertawa]. Saya belum pernah ke Pasar Santa, tapi saya sering mendengar itu. Di gedung ini kamu bisa menemukan apa saja, dari studio desain, studio arsip, perpustakaan, toko musik dll. Setiap komunitas memiliki jenis pelanggan yang berbeda. Perbedaan inilah yang membantu kami bertahan. Kadang, komunitas-komunitas yang ada di sini juga turut berkolaborasi.

Saat ini, kami sedang bekerja sama dengan Malaysian Design Archives untuk mendigitalisasi sampul buku lama. MDA yang melakukan penelitian terhadap desain dan sampul buku, sementara kami mencatat sampul buku yang langka dan sudah tidak dicetak lagi. Kalau sedang beruntung, kami bisa mendapatkan salinannya, jadi kami bisa menjualnya kembali. Salah satunya adalah buku-buku Chairil Anwar.

Apa sih motivasimu mendirikan Tintabudi?
Saya kira di Malaysia, apalagi sekitaran KL, jarang ada toko buku independen. Maksud saya, usaha kecil yang bermanfaat bagi masyarakat. Saat kami kepikiran untuk mendirikan Tintabudi, kami berharap bisa menyediakan buku-buku yang mungkin belum banyak diketahui oleh pembaca. Kalau kamu mengunjungi toko buku besar, pasti kamu akan kesulitan mendapatkan buku-buku yang tidak terlalu populer. Yang kebanyakan dijual di sana adalah buku-buku terkenal dan laris saja. Karena itulah, kami ingin menawarkan pilihan buku yang lebih beragam.

Bagaimana caramu mengkurasi buku-buku ataupun memilih penulis baru di Tintabudi?
Saya perkirakan 70 persen buku yang dijual di sini adalah buku bekas. Sama seperti yang saya bilang tadi, sangat sulit mendapatkan buku bekas dengan kondisi yang masih bagus di Malaysia dan KL. Kami berfokus pada karya sastra, filsafat dan seni. Sejauh ini, respons pelanggan sangat positif. Banyak yang mengapresiasi bisnis kami. Mungkin karena toko buku independen jarang ditemukan di sini, khususnya dengan fokus yang serupa seperti kami, sehingga mendatangkan banyak pengunjung ke Tintabudi.


Baca juga wawancara VICE bersama sastrawan papan atas Indonesia Eka Kurniawan:

Tolong dong, jelaskan kondisi dunia literasi ataupun kancah sastra Malaysia buat pembaca Indonesia.
Hmm, kebanyakan orang yang saya kenal, terutama di Kuala Lumpur dan Selangor, menyukai karya sastra berbahasa Inggris. Karya sastra asli Malaysia biasanya dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di kota kecil. Saya rasa ini yang mengakibatkan penerbit buku lokal di sini mengalami kesulitan mempertahankan bisnisnya.

Sama seperti di tempat lain, di sini kamu bisa membedakan perbedaan antara penulis senior dan muda. Penulis muda di sini adalah nama-nama yang muncul di era setelah reformasi 98, misalnya seperti Wam Azriq, Ridhwan Saidi, Johan Radzi, Wani Ardy, atau Ashikin M. Mereka muncul ketika gerakan sastra independen mulai berkembang.

Sedangkan penulis senior, seperti Usman Awang, A Samad Said, Shannon Ahmad, atau Salmi Manja, berasal dari wilayah pedesaan. Mereka berkeinginan melanjutkan pendidikannya di universitas, tetapi terhambat masalah ekonomi. Sementara penulis muda sudah terbiasa dengan lingkungan perkotaan. Beberapa karya dari penulis muda memang bagus, tetapi mereka cenderung mengangkat masalah pribadi. Mereka dianggap apolitis.

Apa sih yang dimaksud 'apolitis' dalam sastra Malaysia itu?
Nah, ini rumitnya. Setiap tindakan menulis memang bersifat politis. Menurut saya, penulis senior lebih memiliki obyektivitas politik. Kamu bisa melihat kesadaran politik mereka di karyanya. Misalnya, mereka sosialis atau kelas pekerja, maka pandangan politik ini akan terlihat dalam karya mereka.

Saya bukannya mengatakan kalau penulis muda tidak memiliki kesadaran politik. Hanya saja tidak jelas ditunjukkan di karya sastra atau temanya. Mereka lebih sering menulis tentang kehidupan. Gaya bahasa mereka juga lebih bebas dan tidak ada masalah dalam mencampurkan dua bahasa. Mereka akan menggunakan bahasa pasar, bahasa Inggris, dan bahasa Melayu. Mereka sangat paham menaturalisasikan bahasa Inggris dengan baik.

Sedangkan penulis senior cenderung tetap menggunakan bahasa Melayu standar. Jadi, yah, menurut saya penulis muda tidak begitu apolitis seperti yang banyak orang bilang. Saya merasa mereka memiliki caranya sendiri dalam menyampaikan pandangan politik mereka.

Ah, begitu ternyata. Terima kasih atas waktunya Nazir!

Follow penulis lewat akun twitter @poisonavi_. Jangan ragu ajak dia ngobrol soal buku!