Pencurian Bitcoin

Mirip Skenario Film, Dalang Pencurian Bitcoin Senilai Rp2M Kabur dari Penjara

Dalang pembobolan server Bitcoin itu berhasil kabur ke Swedia, naik pesawat bareng Perdana Menteri Islandia. Goks!
23 April 2018, 3:41am
Ilustrasi oleh staf Motherboard.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Kira-kira orang bakal rela ngelakuin apa saja sih buat dapat dapat Bitcoin? Jawabannya macam-macam. Salah satunya, ada yang rela membeli dan menunpuk piranti canggih serta mahal menambang Bitcoin. Namun, apapun cara jujur yang dilakukan para penambang Bitcoin tersebut, tak akan ada yang bisa menandingi ulah seorang dalang kejahatan di Islandia.

Alih-alih menggelontorkan uang untuk beli perkakas canggih sebagai modal menambang Bitcoin, dia malah mengomandoi pencurian 600 server penambang Bitcoin bernilai jutaan dollar. Kasus ini sendiri baru terungkap Maret lalu. Nyaris dua bulan kemudian, sang dalang pencurian besar-besaran itu dilaporkan kabur dari penjara Islandia, sehingga jadi buronan internasional.

Sindri Thor Stefansson nama otak kejahatan gila menyasar Bitcoin tersebut. Dia adalah satu dari 11 orang yang ditangkap karena mendalangi pencurian 600 server penambang Bitcoin dari beberapa data centre di Islandia pada sepanjang Desember 2017 hingga Januari 2018.

Semua server yang berhasil diangkut oleh Stefansson dan gerombolannya bernilai US$2 juta (setara Rp2,7 miliar). Namun, seperti plot film kriminal, Stefansson rupanya berhasil kabur dari penjara tempatnya ditahan Selasa [17/4] pekan lalu, seperti dilansir dari laporan surat kabar the Guardian. Diperkirakan Stefansson kabur menuju Swedia dengan memanfaatkan passport dengan nama orang lain di hari yang sama.

Gilanya lagi, dalang pencurian ini terbang sepesawat dengan Perdana Menteri Islandia Katrín Jakobsdóttir. Pihak berwenang Islandia mengatakan rangkaian pencurian yang dikomandoi Steffanson adalah kasus pencurian terbesar dalam sejarah Islandia dan disebut oleh media massa setempat sebagai “Perampokan Bitcoin Akbar.”

Cara Steffanson kabur penjara sebenarnya biasa saja. Jauh lah dari cara-cara cerdas ala serial Prison Break. Stefansson diberitakan ditahan di penjara dengan penjagaan rendah, tanpa pagar dan dilengkapi akses internet yang memadai. Sang otak pencurian itu telah ditahan sejak bulan Februari lalu dan baru dipindahkan penjara berpenjagaan minim sebelas hari lalu. Kemungkinan besar, Steffansson kabur lewat jendela. Kepala Kepolisian Islandia Gunnar Schram mengatakan pada media setempat bahwa pihaknya yakin Steffansson dibantu seseorang untuk kabur.

Kamera keamanan berhasil mengidentifikasi Steffanson di Bandara Internasional Keflavík dan surat pecekalan internasional langsung dikeluarkan untuk menangkap Steffanson. Kendati demikian, seorang juru bicara kepolisian Swedia menerangkan pada Guardian pihaknya sampai saat ini belum melakukan penangkapan.

Pencurian yang didalangi Steffanson terjadi di berbagai data centre di seantero Islandia—termasuk yang terletak di Reykjanesbær, dekat Bandara Reykjavik, dan di Borgarnes, kawasan pantai barat Islandia. Sampai berita ini diturunkan, komputer-komputer peladen yang dicuri Steffanson belum diketahui keberadaaanya. Pemilik server-server tersebut sampai menawarkan imbalan sebesar YS$60.000 (setara Rp883 juta) bagi siapa saja yang sanggup membantu polisi menemukan Bitcoin curian tersebut.

Islandia belakangan memang jadi surga penambang Bitcoin, karena udaranya yang dingin dan tarif penggunaan energi terbarukan di negara tersebut rendah. Imbasnya, penambangan Bitcoin skala besar jamak ditemui di sana. Efek negatifnya, Islandia jadi sasaran empuk pelaku kriminal siber.

Mari berharap ada penulis skenario yang memperhatian perkembangan kasus Steffanson ini. Soalnya, jujur deh, plot pas banget buat sekuel seri film Ocean’s selanjutnya.