Sulit Tidur

Kunci Supaya Tidur Nyenyak: Kita Harus Paham Tujuan Hidup Ini (Njir)

Nah, simak perjalanan saya mencari tujuan hidup supaya bisa tidur dan tak lagi begadang terus-terusan.
Anjing ini tidur nyenyak. Kayaknya dia sudah tahu punya tujuan dalam hidup. (Foto via Flickr/kseast)

Peneliti menemukan bahwa obat tidur paling baik adalah pemahaman tentang eksistensi diri di dunia. Sains memang kerap mengejutkan. Kali ini mereka membawa berita terbaru tentang mengapa kita kerap susah tidur.

Terjemahan: "Apakah ketiadaan tujuan hidup membuat manusia dewasa sulit tidur?" — serem yak

Kesimpulan seram itu dikutip dari jurnal Sleep Science and Practice, hasil penelitian yang dilakukan Arlener D. Turner, Christine E. Smith dan Jason C. Ong. Penelitian ini menyimpulkan mayoritas manusia dewasa yang "tidak gila", memiliki "tujuan hidup" yang dapat membantu mereka tidur nyenyak. Berikut nukilan dari abstrak penelitian tersebut.

Iklan

Kalau boleh aku simpulkan sendiri dari abstrak panjang lebar tadi, intinya mereka mau bilang: apabila anda berbaring di atas ranjang dengan pemahaman memadai tentang tujuan hidup ini, niscaya anda bakal tidur nyenyak.

Biarpun penelitian tersebut meneliti kaum manula, formula "TUJUAN HIDUP = TIDUR NYENYAK" harusnya tidak mengenal batas umur dan gender. Jadi intinya, kalau anda susah tidur, coba cari dulu makna dari eksistensi anda di dunia.

Namun saya yang sangat awam, bisa melihat beberapa cacat dari penelitian ini. Berikut beberapa pertanyaan dan juga sedikit kritik dari saya terhadap penelitian soal tidur tersebut:

  • Sulit mencari hal yang lebih tidak nyaman dari kekurangan tidur atau insomnia karena tubuh anda pengen tidur tapi juga gak pengen tidur di saat yang bersamaan, jadi pikiran anda bengong aja, menyala kayak lampu bolam di motel murah. Setiap anda berusaha tidur, anda malah akan semakin bangun. Pokoknya gak enak banget deh. Ini rasanya seperti disiksa tapi anda sendirilah korban dan algojonya. Kombinasi antara berjam-jam yang habis (antara tengah malam dan jam 7 pagi yang mestinya dihabiskan untuk tidur) dan pikiran anda yang melek melulu, anda sudah pasti akan melakukan semua rutinitas pikiran yang bisa anda pikirkan, misalnya memikirkan kenapa anda bangun, kenapa anda tidak bisa tidur dan membayangkan kalau-kalau akhirnya anda bisa tidur. Selama 8 jam terbangun, waktu menjadi semacam perangkap—terasa berjalan lambat namun juga cepat, dan setiap kali anda berusaha menghitung sudah berapa lama anda gagal tidur, anda hanya akan semakin khawatir. Tiba-tiba insomnia satu jam berubah menjadi anda membayangkan momen-momen memalukan hidup semalam suntuk.
  • Oke sekarang kita sudah sedikit paham insomnia itu apa. Dan setelah beberapa malam seperti ini, anda akan mencoba setiap solusi untuk mengakhiri penderitaan ini. Misalnya mandi lama sebelum tidur, atau beli bantal lucu lavender yang mahal, atau merubah kebiasaan tidur, meletakkan ponsel dan laptop di luar ruangan. Anda berubah menjadi sosok suci peminum vitamin yang tiba-tiba sangat mawas diri di dalam kamar. Kemudian anda akan berbaring di atas ranjang, dan lagi-lagi mata melek semalam suntuk menatap atap kamar. Anda berteriak keras di dalam hati.
  • Oke sekarang kita semua sudah paham bahwa semua metode tidur sebelumnya itu omong kosong belaka. Nah terus gimana soal punya tujuan hidup? Bener gak sih? Coba kita kesampingkan dulu deh. Malam itu anda mulai merasa tubuh semakin berat, bahu mulai rileks dan berpikir: Wah, jangan-jangan malem ini akhirnya bisa tidur nih! Tapi gara-gara mikir gitu, anda gagal dan kembali terbangun sepanjang malam.
  • Dua puluh empat jam kemudian, anda mencoba lagi. Tubuh anda terasa berat, mata lelah, leher sakit dan anda mulai membayangkan terayun di sebuah hammock, berusaha untuk tidur. Anda hampir tertidur, tapi kemudian teringat: Eh iya sains bilang kalo mau bisa tidur gue mesti punya tujuan hidup dulu
  • Anda langsung terbangun dan duduk tegak karena menyadari anda belum punya tujuan hidup.
  • Nah menurut saya disinilah letak cacat studi tersebut. Karena (dan memang tidak banyak statistik soal ini, tapi ada satu nih dari "Life on Purpose Institute" yang mengatakan bahwa antara 1 hingga 5 persen orang di bumi memiliki tujuan hidup) memang gak semua orang punya tujuan hidup. Faktanya banyak orang bahkan tidak sadar mereka tidak punya tujuan hidup. Akibatnya banyak orang cemas karena mereka tidak punya tujuan hidup dan menghabiskan malam menatap langit berusaha mencari tahu kenapa mereka tidak punya tujuan hidup. Salahnya di mana sih?
  • Kan dulu gue murid berprestasi? Selalu terdepan, selalu dipuji oleh guru pas kelas 5 SD. Semua ujian lulus, tanpa remedial. "Berbakat," kalau kata guru-guru, "dan penuh talenta." Ya nilai mulai turun pas masa pubertas dan PR mulai susah zaman SMP, tapi mestinya gue masih pinter dong?
  • Sekarang anda manusia dewasa atau hendak menjadi dewasa dan lampu terang yang kerap menyoroti masa depan anda kini terlihat sedikit pudar, terutama setelah anda harus mengulang ujian nasional kelas 3 SMA. Anda masih pinter kok, tapi bukan pinter kayak dokter atau pengacara ya.
  • Mestinya gak ada yang perlu dikhawatirin dong?
  • Saya masih gak yakin (dan ga paham) tujuan hidup saya apa, jadi saya googling aja biar dapet jawaban gitu kan. Sayangnya google juga ga siap ditanya begituan:

Iklan

Yaudah, mari kita coba lagi:

Dapetnya artikel media online beginian.

Yuk coba bedah isinya.

Paragraf pembukanya langsung bikin depresi. Coba liat solusinya aja deh.

"Banyak bertindak," oke umm berguna banget ya. Coba liat yang berikutnya deh.

"Kurangin mikir." Hmm. Gimana sih lagi nyari tujuan hidup kok malah disuruh kurangin mikir.

Artikelnya gak berguna sama sekali. Huft…. Ya pelajaran yang saya dapet ini aja sih: kalau anda gak bisa tidur, ini bukan semata isu psikosomatik, atau tentang rutinitas tidur atau apapun yang bisa diperbaiki dengan semacam aroma terapi, atau selimut yang empuk. Anda justru harus benar-benar memperbaiki hidup anda, menjadi bagian dari lima persen populasi yang tak pernah punya masalah tidur sepanjang sejarah. Sudah paham ya. Masih belum? Ya itu urusan elo, bukan masalah para peneliti tadi. Makasih banyak ilmu pengetahuan! :P

Semoga tidur kalian selalu nyenyak!

Follow penulis di akun Twitter @joelgolby. Dia suka ngobrol soal cara tidur efisien.