10 Pertanyaan yang Ingin Kamu Ajukan Pada Caddy Golf Perempuan
Caddy golf perempuan di Taman Dayu Golf and Resto, Pasuruan, Jawa Timur. Semua foto oleh Andriana. 
10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan yang Ingin Kamu Ajukan Pada Caddy Golf Perempuan

Gimana cara mereka merespons imej negatif caddy perempuan? Apa yang mereka lakukan kalau digoda pegolf om-om mesum? Tiga caddy buka-bukaan sama VICE soal profesinya.
9.6.18

Sebelum ada kasus pembunuhan Bos PT Rajawali Nasrudin Zulkarnaen yang menggegerkan Indonesia 2009 silam, profesi caddy golf mungkin belum tenar-tenar amat. Yang tahu paling hanya mereka yang tahu soal golf, atau mereka yang doyan nonton olahraga.

Setelah kasus itu muncul, mendadak semua orang tahu yang namanya caddy golf. Begitu juga perempuan yang bekerja sebagai caddy. Adalah Rani Juliani yang membuat profesi itu mendadak tenar. Dalam kasus yang menggemparkan republik itu, Rani berperan sebagai benang merah yang menghubungkan mantan ketua KPK Antasari Azhar dengan korban pembunuhan Nasruddin.

Masalahnya kasus itu bisa dibilang membuat orang berpikir yang enggak-enggak soal caddy golf perempuan. Orang bisa bilang caddy adalah seorang penggoda, dilihat dari cara Rani mengundang Antasari ke kamar hotel untuk ngobrolin soal keanggotaan klub golf. Atau caddy tak lain adalah simpanan pejabat, berhubung Rani juga disebut-sebut sebagai istri siri Nasruddin.

Berhubung Rani menghilang bak ditelan bumi saat kasus itu bergulir, ia tak sempat bicara banyak pada publik, apalagi mengklarifikasi tudingan-tudingan miring soal profesi caddy golf. Lalu apa sih yang dirasakan para perempuan caddy golf hari-hari ini? Apa benar mereka kerap dihubungkan dengan predikat yang enggak-enggak? VICE sempat berbincang-bincang dengan beberapa caddy di komplek lapangan golf Taman Dayu Golf and Resto, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, pada Kamis 7 Juni lalu untuk mencari tahu soal itu.

Ada 126 caddy perempuan yang bekerja di sana, kami mewawancarai tiga di antaranya. Kiki Amalia, 26 tahun; Nurul Fatimah, 25 tahun; dan Yunita Indahsari, 22 tahun, blak-blakan menceritakan seluk-beluk pekerjaan ini. Berikut rangkuman dari hasil wawancara VICE dengan para caddy itu seperti yang terangkum dalam sepuluh pertanyaan berikut:

VICE: Gimana caramu memulai karir sebagai seorang caddy? Dari mana kamu mengenal profesi ini?
Kiki: Kami tahunya dari teman. Kebetulan kami punya beberapa teman yang memang sudah lama kerja jadi caddy di sini. Nah pas waktu itu sedang butuh caddy, kami dikasih tahu. Kebetulan waktu itu kami juga baru lulus dari SMA. Karena nyari pekerjaan juga sulit, kami nyoba saja untuk melamar. Ternyata diterima. Emangnya ada pendidikan atau pelatihan khusus untuk menjadi caddy golf?
Kiki: Oh iya, itu pasti. Sebelumnya kan memang kami juga tidak mengerti sama sekali tentang golf. Jadi sebelum turun di lapangan, kami harus mengikuti pelatihan dulu selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu kami banyak mendapat pembekalan. Materinya banyak, macam-macam. Mulai dari pengetahuan umum tentang golf, istilah-istilahnya, sampai juga soal etika. Bagaimana etika seorang caddy, juga diajarkan saat pelatihan itu. Apakah ada standar-standar khusus yang ditetapkan manajemen ketika merekrut caddy? Apa yang kamu rasain ketika melihat standar-standar itu? Kamu ngerasa ada yang mengganggu dari standar-standar itu, misalnya caddy perempuan harus "berpenampilan menarik"?
Nurul: Mungkin begini, kalau standar itu diibaratkan sebagai syarat-syarat khusus agar diterima, ya pasti ada lah. Kan sama saja dengan bekerja di tempat lain, pasti ada syarat-syaratnya juga. Kalau di sini ada juga syarat-syarat itu. Seperti tinggi badan minimal 156 sentimeter, berpenampilan menarik dan lain-lain. Sejauh ini kami sih tidak terganggu ya karena kami bisa melakukan itu, artinya syarat-syarat itu masih bisa kami penuhi.

Tapi, ada juga yang memang ada standar yang kurang apa begitu bagi kami. Misalkan yang hamil, harus berhenti. Tapi sebenarnya, itu juga buat kami-kami juga. Logikanya, masa lagi hamil masih harus panas-panasan di lapangan nemani pemain. Makanya, meskipun saat hamil harus berhenti, kalau sudah melahirkan, yang bersangkutan bisa melamar lagi kok. Kiki: Kalau yang untuk tinggi badan, itu juga akan menjadi berguna saat mendampingi pemain di lapangan. Terutama ketika mendampingi pemain dari luar yang memang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari pemain lokal.

Golf itu lekat sebagai olahraganya orang kaya, bener enggak sih mereka kaya semua? Atau, ada juga yang cuma gaya-gayan aja? Bedanya apa?
Kiki: Kalau dianggap sebagai olahraga orang kaya itu betul. Kalau bukan orang berduit, tidak mungkin kan bisa repot-repot ngeluarin duit banyak hanya untuk berolahraga. Sekarang coba saja, kalau mau main di weekday, itu saja Rp600-an ribu untuk satu ronde. Sedangkan untuk weekend, sampai Rp1,3 juta. Kalau tidak punya duit, ada memang yang mau? Mending buat yang lain. Tapi, ada juga memang yang bukan kalangan dari orang berduit. Tapi, biasanya mereka dari koorporasi. Jadi yang bayarin mereka kan perusahaan tempat mereka bekerja. Bukan dari kantong pribadinya.

Salah satu tugas caddy kan ngasih saran dan strategi ke pemain golf. Kamu ngerasa saran-saran dari kamu tuh didengerin enggak sih?
Yunita: rata-rata mereka dengerin dengan saran kami. Karena untuk beberapa hal, mereka juga kadang tidak ngerti. Misal soal jarak antara lokasi pemain dengan posisi lubang yang dituju. Atau juga untuk mengetahui posisi kemiringan, biasanya mereka mesti dengerin saran kami.
Selain ngasih saran, kami kan juga bertugas untuk mengawasi rumput-rumput di lapangan. Jadi misal bekas lokasi bola jatuh, itu kan mesti ada cekungan. Nah itu biasanya sama caddy, langsung dikasih pasir. Ya, ikut bantu ngerawat juga lah. Tipe pemain golf yang paling mengganggu dan menyebalkan itu seperti apa? Pokoknya yang enggak banget tuh yang gimana? Enggak mengenakkan itu yang seperti apa ya?
Nurul: Ada sih. Namanya juga beda orang jadi pasti ada. Biasanya, kalau yang begitu itu yang karakternya sok, kalau nyuruh-nyuruh suka seenaknya. Tapi, ada juga yang terkadang suka iseng-iseng godain kami. Malah juga sampai ngelecehin gitu, pegang-pegang tangan. Biasanya, kalau yang begini, kalau kami merasa sudah keterlaluan, ya kami laporkan. Jadi, besok atau lain waktu pas dia main lagi, kami tidak direkomendasikan untuk mendampingi.

Iklan

Rata-rata kan yang main golf itu cowok-cowok, pernah enggak ada momen di mana kamu lebih jago main golf daripada mereka, dan apa reaksi mereka pas nyadar kamu lebih jago?
Nurul: Kebanyakan memang cowok ya. Tapi, perempuan ada juga kok meski ndak banyak. Kalau pas ternyata caddynya lebih jago, biasanya malah seneng. Mereka merasa lebih terbantu, dan bisa banyak belajar. Jadi, ya tidak apa-apa. Biasanya besok-besok juga malah balik lagi dan nyari caddy yang sudah dikenal itu.

Pernahkah Anda mendapat tips dari pemain golf? Kira-kira, jika dikalkulasi, besar mana dengan gaji yang Anda terima?
Yunita: Ya sering kalau tips. Kalau di sini, rata-rata Rp200 ribu, tapi ya nggak mesti juga sih. Pernah suatu ketika kami main sekali round ada yang ngasih sampai Rp2 juta. Jika dikalkulasi besar mana dengan gaji kami sebulan, bisa dibilang besaran tip lah. Sebulan, saya pernah dapet sampai Rp 6 juta.

Nurul: kalau soal tip, mungkin orang-orang di luar sana mengira banyak dapat dari pemain asing. Padahal tidak. Jangan salah loh. Untuk urusan tip, malah lebih royal pemain lokal daripada pemain luar negeri. Seperti Korea atau Jepang. Mereka kalah royal dengan pemain lokal untuk tip. Mereka pelit-pelit hehe.. Tapi kadang, mereka kalau baru datang dari negaranya, habis berkunjung begitu lalu main ke sini, biasanya juga ngasih kami oleh-oleh.

Kamu pernah nguping pembicaraan paling absurd para pegolf itu enggak sih? Misalnya ngomongin harta, simpanan, atau hal -hal terlarang sampai yang menyeramkan?
Kiki: Mm, tidak pernah sih. Kalau yang suka ngobrol, biasanya memang sambil bermain, kami juga ngobrol. Tapi, tidak pernah yang sampai ngomongin soal begituan. Paling banter biasanya cerita soal anak pendidikan anaknya, misalnya ada yang baru naik kelas atau apa begitu. Atau juga cerita kalau si pemain baru datang dari rekreasi ke mana gitu, itu biasanya diceritakan.

Sebagian masyarakat kita masih memberi stigma negatif seorang caddy. Apa tanggapan Anda soal ini?
Nurul: Iya bener. Tapi kami menanggapi biasa aja lah. Kami sih tidak terlalu peduli dengan anggapan seperti itu. Wong kami kan niatnya bekerja. Bisa jadi mereka begitu kan karena tidak mengerti tentang pekerjaan ini. Jangankan masyarakat umum. Di keluarga juga begitu. Malah ada dari kami yang saat awal dulu harus sembunyi-sembunyi untuk bekerja karena takut dimarahi oleh orang tua. Tapi, prinsip kami ya itu. Terserah orang menilai seperti apa. Yang penting kami bekerja, itu saja.


10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE Indonesia untuk mengajak pembaca mendalami wawancara bersama sosok yang jarang disorot, padahal sepak terjangnya bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda di tautan berikut:

10 Pertanyaan yang Selalu Ingin Kamu Sampaikan Pada Polisi Pembakar Narkoba

10 Pertanyaan Ingin Kalian Ajukan Pada Pengacara Teroris

10 Pertanyaan Penting Untuk Pengusaha Judi Online Tanah Air