Sepakbola

Pesepakbola Diving Diganjar Larangan Bermain, Akankah Efektif?

Berdasarkan dokumen baru FA, diving berbuah penalti atau kartu merah pada lawan membuat pelaku dihukum larangan bermain dua pekan. Kami yakin aturan ini akan gagal.
23.5.17
Pelanggaran atau bukan ya? Foto oleh Ron Chenoy-USA TODAY Sports.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Pekan lalu, Organisasi Sepakbola Inggris Football Association alias FA mengesahkan aturan larangan bermain bagi atlet terbukti melakukan diving. Hukuman berat menanti pesepakbola pura-pura jatuh atau dicederai, yang berujung pada penalti dan kartu merah. Panel beranggotakan tiga orang—terdiri dari mantan wasit, pemain, dan manajer—akan menentukan apakah si pemain yang jadi terdakwa benar-benar melakukan diving. Apabila terbukti, sang pemain nakal langsung diganjar larangan dua kali bertanding yang berlaku surut.

Iklan

Aturan ini sebenarnya dibangun dari alasan yang masuk akal. Praktik pura-pura jatuh atau dicederai terlalu sering mencederai sportivitas olahraga populer ini. Banyak pemain sekarang berusaha jatuh ketika memasuki kotak penalti agar timnya diuntungkan. Skenario terbaik: wasit menunjuk titik 11 meter dan gol sudah pasti tercipta. Hasil yang lebih netral: tak ada pelanggaran dan pertandingan diteruskan. Hasil yang paling parah (jarang sekali terjadi): si pemain yang pura-pura jatuh dianggap melakukan pelanggaran dan wasit mengacungkan kartu kuning. Artinya, meningkatkan ancaman pada pelaku diving seharusnya akan menurunkan frekuensi diving di lapangan. Benar begitu kan? Eh, engga ya?

Masalahnya, kalau cuma diukur dari sisi untung-rugi bagi tim, diving cenderung akan terus dilakukan. Peraturan baru FA mustahil bisa mengubah perilaku tak terpuji ini dalam semalam. Patut dicermati, diving adalah usaha menciptakan gol yang cenderung efektif karena sangat aman dan peluang berhasilnya tinggi. Dalam penelitian tahun 2011, akademisi ilmu olahraga mencermati 2.800 kasus jatuhnya 60 pemain bola profesional dari sepuluh liga berbeda. Berikut sebagian dari temuan penelitian ini: dari 6 persen kasus pemain yang melakukan diving, sepertiganya memperoleh keputusan menguntungkan dari wasit. Area tempat pemain jatuh dan skor pertandingan punya andil dalam besar persentase ini.

Penelitian tersebut menunjukkan pula, bahwa dari 169 kasys diving yang benar-benar kentara, tak ada satupun atlet mendapatkan hukuman berat dari wasit. Penemuan ini terdengar akrab bagi kita, apalagi jika melihat minimnya kartu kuning yang dikeluarkan wasit untuk kasus diving dalam setiap musim kompetisi Premier League. Jadi kesimpulannya, menurut penelitian tadi, seorang pesepakbola lebih berpeluang dihukum melakukan diving justru ketika tak sengaja sedang melakukannya. Pemain yang melakukan diving ketika skor imbang, timnya dalam posisi tertinggal, atau ketika berada dalam atau dekat kotak penalti, cenderung bebas dari hukuman. Ajib dah.

Manusia tuh pada jago deh diving. Foto oleh: Jayne Kamin-Oncea-USA TODAY Sports.

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan saat membaca hasil penelitian ini. Kajian tersebut memakai kasus diving untuk menguji signaling theory, prinsipnya semakin sering aksi berpura-pura dilakukan, diving akan berkurang efektivitasnya. Dengan kata lain, pengadil lapangan diasumsikan akan bertambah bosan menyaksikan kasus-kasus diving dan akan menghukum setiap pelakunya. Nyatanya, yang terjadi di lapangan berbeda dengan apa yang diungkapkan di halaman kesimpulan. Makin sering diving dilakukan, efektivitasnya malah bertambah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa, diving adalah teknik yang menguntungkan sehingga pemain lebih sering melakukannya. Diving harus lebih sering dilakukan, jauh lebih sering dari sekarang.

Iklan

Inilah alasannya kenapa peraturan larangan main yang berlaku surut tak akan pernah bisa mencegah kebiasaan pura-pura jatuh. Sebagai ilustrasi, Asosiasi Sepakbola Skotlandia telah menghukum pelaku diving sejak musim kompetisi 2011/2012. Menurut keterangan yang dilansir BBC, peraturan ini tak memiliki efek berarti. MLS juga sejak lama mengenakan denda dan hukuman larangan bermain bagi setiap kasus diving yang terbukti. Sayangnya mereka yang menonton liga sepakbola Negeri Adi Daya itu akan kesusahan menemukan dampak peraturan ini di lapangan. Para pemain toh masih kerap jatuh dengan mudah karena sentuhan kecil dengan pemain lain di dekat atau dalam kotak penalti.

Mari masuk ke pertanyaan pamungkas, pangkal masalah dari semua kericuhan ini: apa sih sebenarnya definisi diving? Apakah pemain yang jatuh dengan sendirinya tanpa sentuhan pemain lain dianggap melakukan diving? Atau apakah pesepakbola dinyatakan melakoni diving jika dan hanya jika dia terjatuh oleh sentuhan seadaanya dengan pemain lain yang tak benar-benar menghalangi pergerakan sang pemain? Nyatanya, peraturan permainan sepakbola tak pernah secara gamblang mendefinisikannya. Diving hanya dianggap sebagai usaha mengelabui wasit.

Hal ini pernah sangat baik digambarkan oleh striker Scott McDonald di BBC Scotland radio ketika seorang pemain dianggap melakuan diving:

"Semua terjadi dalam sepersekian detik, tak ada keputusan matang bisa diambil di dalamnya. Ada kalanya ketika anda tahu kalau anda tak akan bisa membawa bola lebih jauh. Jika kamu bisa membuat kontak badan dengan pemain lain, maka sebenarnya anda dibenarkan oleh peraturan untuk melakukan kontak fisik pada lawan."

Mayoritas kasus "diving" terjadi dalam situasi seperti itu. Seorang pemain yang gagal mengontrol arah serangan berusaha mencari kontak badan dengan pemain lawan. Dia kemudian mendapatkannya, lalu jatuh seketika. Tak mudah membedakan perilaku itu dengan pelanggaran yang sah. Alhasil, kebanyakan kasus dipukul rata sebagai pelanggaran. Nah, ini dia masalah sesungguhnya.

Sampai definisi diving bisa diformulasikan dengan baik, saya pesimis peraturan baru FA tak akan begitu berhasil dan diving akan terus terjadi di lapangan. Toh salah satu pesepakbola paling luar biasa di dunia, Filipo Inzaghi, berhasil mempertontonkan seni diving adiluhung sepanjang karirnya di Atalanta, Juventus, dan AC Milan. Diving tidak sepenuhnya buruk kok.