Gangguan Mental

Jengkel Tiap Dengar Suara Orang Ngunyah Makanan? Kamu Mengidap Misophonia!

Ini kondisi psikologis yang langka, kalau dibiarkan berpotensi melelahkan penderita. Misophonia belakangan diakui sebagai gangguan medis di kalangan psikiater.
17 November 2017, 9:15am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Buat saya, tidak ada yang lebih menjengkelkan ketimbang mendengar seseorang mengunyah apel, wortel, atau kerupuk. Kriuk, kriuk… Hadeh. Nulis begini aja bikin saya merinding.

Saya bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Banyak teman saya yang merasa jijik sama suara mengunyah. Tapi, apakah kondisi itu merupakan penderitaan yang sungguh-sungguh ataukah ketidaknyamanan pendengaran belaka?

Misophonia, artinya secara harfiah adalah “kebencian terhadap suara,” selama ini jarang sekali didiagnosa sebagai gangguan psikis. Menurut Academic Medical Center (AMC) di Amsterdam, penderita misophonia mengalami perasaan jijik, marah, atau frustrasi yang diakibatkan suara tertentu.

AMC mendeskripsikan suara-suara tersebut dapat berupa suara yang biasa-biasa saja, seperti mengunyah atau menghela napas panjang, tapi saya benar-benar tak paham apa maksud mereka dengan “biasa-biasa saja.”

Jadi mari kita lihat contoh ini ya:

Ntar, setelah baca sampai sini, kalian setuju enggak sih kalau suara mengunyah adalah bunyi paling mengerikan sedunia?

Kalau pencarian Google bisa dijadikan parameter, kondisi saya masih tergolong biasa saja. Ada banyak forum online berisi pengalaman dan tips oleh orang-orang yang menderita jauh lebih parah, setiap harinya, akibat suara-suara mengerikan yang diproduksi sesama manusia.

Walau pengidapnya banyak, masih sedikit kesepaktan ilmiah tentang apakah misophonia sesungguhnya adalah kelainan psikologis. Jangan-jangan itu cuma sekadar kejengkelan temporer? Pada 2013, peneliti dari lembaga AMC merilis sebuah kasus untuk mendiagnosis misophonia, namun hal tersebut belum diakui sebagai gangguan mental dalam kategori DSM-5 maupun ICD-10.

Di seluruh dunia, hanya ada segelintir institusi yang menganggap serius gejala misophonia lalu melakukan riset empiris, termasuk AMC. Saya menghubungi Arjan Schröder, psikiater di AMC, yang saat ini melakukan penelitian soal sebab, akibat, dan kemungkinan perawatan misophonia.

Hasil penlelitian Schöder merupakan kolaborasi bersama Profesor Damiaan Denys, orang pertama yang mendeskripsikan gejala misophonia dalam literatur psikiatri. Tim mereka juga merilis kuesioner untuk menfasilitasi diagnosis tiap pengidapnya. Tapi topik soal kuesioner ini ntar ya kita bahas.

“Kami mengerjakan survei ini selama empat tahun. Setiap minggu, atau dua atau tiga minggu sekali, ada saja orang-orang datang meminta bantuan,” ujar Schöder. Ini adalah orang-orang yang terdorong mencari bantuan akibat parahnya kondisi misophonia mereka.

AMC di Amsterdam saat ini merupakan satu-satunya lembaga penelitian di Belanda dan Eropa yang menawarkan perawatan bagi pengidap misophonia. AMC sekaligus satu dari segelintir tempat di seluruh dunia yang mengakui misophonia sebagai kondisi medis serius.

Hampir semua orang menyadari dan mengakui keengganan mereka terhadap suara-suara yang diproduksi manusia. Sebagaimana dibilang Schröder, “bagi orang-orang yang tiba ke sini, gejala-gejalanya sangat parah, sehingga jelas terlihat bahwa mereka menderita. Mereka tidak bisa makan dengan orang lain, tidur di ruangan yang sama dengan orang lain, atau bahkan pergi bekerja. Misophonia memiliki dampak yang luar biasa mendalam pada mereka, sampai-sampai mereka mulai menghindari tempat-tempat. Dan hal ini membuat kondisi mereka semakin parah.”

Sebagian besar orang yang dirawat di AMC bersyukur karena ada psikiater yang akhirnya mengakui mereka mengidap masalah medis. Coba bayangkan rasanya mendengarkan orang batuk, potong kuku, sikat gigi, mengunyah makanan garing, makan, menyesap, bernapas, buang ingus, menguap, mengunyah permen karet, tertawa, mendengkur, mengetik, atau bersiul memantik perasaan intens. Sudah begitu, kebanyakan psikiater mengaku tidak mengetahui penyebab kondisi ini.

“Gejalanya biasa muncul bermula pada usia 13 atau 14 tahun, saat sebagian besar kelainan psikiatris mulai muncul. Kondisi muncul pada keluarga-keluarga, jadi mungkin ada komponen genetik. Dan pada akhirnya, ada masalah pada kaitan antara suara netral dan emosi benci,” ungkap Schröder. “Ini adalah proses bersyarat: jika kamu berada dalam situasi problematik cukup rutin, dan mulai menghindari situasi tersebut, jadinya semakin parah.”

Terlepas dari kurangnya pengetahuan akan penyebabnya, perawatan mungkin adanya—perawatan yang cukup intens berdasarkan penjelasan Schröder. “Perawatan ini terdiri dari terapi grup berdasarkan teknik berbeda-beda yang digunakan oleh terapis perilaku kognitif,” ujarnya. Selama sesi terapi grup, yang diadakan setiap minggu, para pasien diajarkan cara memutuskan hubungan antara suara-suara dan emosi negatif.

“Merawat misophonia adalah proses yang panjang, bisa berbulan-bulan,” ujar Schröder. Waktu panjang untuk pemulihan karena otak kita ibaratnya diprogram ulang. Sikap yang bertahun-tahun muncul perlu diputus seutuhnya.

Faktor inilah yang membuat terapi misophonia bertambah sulit: segala hal yang dicoba di AMC terhitung baru. Sampai Schröder dan Denys merilis artikel soal teknik terbaik mendiagnosa misophonia, belum ada upaya diagnosis klinis—maupun solusinya dari sisi obat-obatan. Padahal orang-orang secara aktif membagi keresahan mereka soal gangguan mendengar suara di internet. Para ilmuwan mencoba mengkategorikan misophonia dengan membandingkannya dengan kelainan psikiatris yang telah diakui komunitas medis.

Pakar neurologi kondang asal Amerika, Vilaynur Ramachandran, membandingkan misophonia dengan synesthesia pada sebuah makalah yang terbit 2013. Namun menurut makalah lain, perbandingan yang dibuatnya kemungkinan tidak akurat, atau setidaknya tidak berkaitan secara langsung. Misophonia adalah emosi yang dipicu suara-suara tertentu, bukan indra pendengaran secara umum. Timnya mengeksplor misophonia sebagai bagian dari spektrum OCD.

Grup penelitian Denys saat ini menggunakan fMRI untuk menentukan perbedaan-perbedaan pada otak penderita misophonia. Mereka juga mempersiapkan eksperimen menggunakan EEG dan berupaya memperhalus terapi perilaku mereka. Pada akhirnya, tim ini juga memperbaiki Amsterdam Misophonia Scale (A-MISO-S), sebuah kuesioner yang digunakan untuk mendiagnosis misophonia yang parah.

Mayoritas orang yang mengidap misophonia akhirnya memiliki kepribadian kompulsif.

Sebagaimana kelainan mental lainnya, misophonia bisa diidap dalam skala ringan hingga parah. Sebagian besar orang di sekitarmu yang mengeluh saat kamu mengunyah apel terlalu dekat dengan telinga mereka, atau bersembunyi di balik headphone saat seseorang mengunyah wortel, mungkin belum cukup parah hingga membutuhkan terapi. Namun ada pula faktor-faktor lain.

“Gangguan mental ini kemungkian terkait ketidakmampuan mengontrol perasaan,” ujar Schröder. “Saat kamu mendengar seseorang mengunyah dengan lantang, hal tersebut menjadi sejenis ulasan moral: ‘Kamu sebaiknya menutup mulutmu saat kamu makan’ atau ‘Kamu seharusnya enggak mengetik selantang itu. Mayoritas orang yang menyandang misophonia, memiliki kepribadian yang sedikit kaku dan kompulsif.”

Apakah kamu menyadari pikiran-pikiran ini? Apakah kamu bersembunyi atau kabur saat seseorang mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan di telinga? Jadi, kamu bisa saja mengunjungi AMC (tapi jauh ya), di mana mereka terus menerus mengupayakan perawatan yang lebih baik. Bagi orang-orang yang tidak tinggal di Amsterdam, misophonia semakin diakui di level internasional. Jadi dengan sedikit keberuntungan, semoga kita tak perlu ke Belanda hanya karena merasa marah tiap mendengar orang mengunyah kerupuk.