Susu > Alkohol

Cerita Unik Dari Menjamurnya Kedai Susu di Rwanda

Warga negara di bagian timur Benua Afrika itu menjadikan kedai susu bagaikan bar: tempat melepas lelah, nongkrong, ngobrol bareng. Semuanya gara-gara telepon petani ke presiden.
14.8.17
All photos by the author

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Pada Desember 2012, seorang petani di Rwanda menelepon sang presiden. Itu terjadi semasa Umushyikirano, acara dialog bersama pemerintah selama dua hari di Afrika Timur, dan Presiden Paul Kagame menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan dari Facebook, Twitter, dan telepon dari warga Rwanda di seluruh penjuru negeri. Si petani ini punya satu pertanyaan. Mengapa, dia tanya Kagame, bahwa di desanya dia bisa menjual satu liter susu hasil perahan sapi-sapinya seharga 200 franc Rwanda (sekitar Rp 3,000), tapi saat dia pergi ke Kigali dia melihat satu liter susu dijual di supermarket seharga 1200 franc (sekitar Rp 20.000)? "Kayaknya biaya transportasi dan pengemasan enggak sampai 800 franc, deh," ujar petani itu. "Kenapa saya enggak bisa menjual susu sapi saya secara langsung ke warga kita, sehingga mereka bisa bayar lebih murah dan saya bisa untung lebih banyak?"

Iklan

Kagame, menurut analis komunikasi Sam Mandela, terkaget-kaget dengan pertanyaan tersebut. Pada saat itu, Rwanda memiliki tingkat konsumsi produk susu terendah di Afrika Timur, bersamaan dengan tingkatan malnutrisi di sana—hampir 50 persen—di antara penduduk termudanya. Imbauan supaya para warga meminum lebih banyak susu, diluncurkan enam bulan seiringan dengan World Milk Day pertama mereka, sejauh ini tidak menunjukkan hasil signifikan.

Si petani, menurut pengakuan Kagame, bisa jadi ada benarnya. Akhirnya dia membentuk komisi buat menurunkan harga susu dan meningkatan distribusi urban mereka. Dua bulan kemudian, Milk Zone lahir. Dikelola oleh Inyange Industries, perusahaan makanan proses Rwanda dengan spesialisasi produk susu dan jus buah-buahan, Milk Zone adalah pondok berwarna biru muda cerah dengan penyejuk ruangan, kursi-kursi dan meja plastik, dan menu terbatas.

Kita bisa salah sangka. Konsumen kedai ini kebanyakan millennials di Rwanda. Mereka minum dari gelas plastik. Kalau tak jeli, orang pasti menyangka Milk Zone adalah bar atau tempat nongkrong yang lagi hip di negara itu. Tapi satu-satunya yang mereka jual adalah susu.

Kini sudah berdiri 80 cabang Milk Zone di Rwanda, mayoritasnya berlokasi di Kota Kigali. Kedai ini memberi alternatif bagi populasi urban yang selama ini terpaksa susu bubuk mahal yang dijual di supermarket. Di tengah-tengah kedai ini ada kulkas raksasa berisi susu segar, diambil setiap pagi dari 12 pusat koleksi susu berbeda sekitar pedesaan Rwanda, dan diantarkan dengan mobil kulkas khusus langsung ke kedainya.

Seorang pegawai mengelola kedai tersebut, menuang susu pada jerigen, yang kemudian dihargai per liter dan bisa dibawa pulang. Milk Zone juga menawarkan susu mereka dalam gelas, dan itulah bisnis sebenarnya—warga Rwanda dari segala usia kini kongkow-kongkow di Milk Zone sambil minum susu.

"Kamu bisa bilang pada seseorang, ayolah cari susu, seger nih dari pedesaan," ujar sopir saya Charles, yang mengantar saya berkeliling Kigali. Pada pagi-pagi biasanya, Charles dydyk dalam mobil Honda-nya di luar hotel Lemigo tempat saya menginap, dengan jendela mobil terbuka dan lengan kemeja digulung. Dia menunggu sebuah anggukkan dari staf hotel, lalu menyalakan mesinnya, menjemput tamu hotel, dan menegosiasi harga jasanya selama sehari.

Saya telah menyewa jasanya untuk mengantar saya ke Kimironko Market, pasar utama Kigali berisi buah-buahan, sayur-mayur, dan daging, namun hari ini terik banget dan berdebu, jadi kami kehausan. Itulah saat Charles beralih pada Milk Zone di luar pasar dan menyarankan saya ikut dia untuk cari minuman segar. Charles senang nongkrong di Milk Zone dengan beberapa kawan lelaki, ujarnya, dan di sana dia bisa melepas penat setelah seharian bekerja sambil minum susu. Dan dia enggak sendirian: bagi warga Rwanda, menangkal malnutrisi adalah perkara serius, dan susu dianggap sebagai minuman ideal bukan hanya agar tubuh anak-anak terbentuk, tapi juga agar orang dewasa tetap sehat dan tidak cerdik. Di sebuah negara yang gaji minimumnya perbulan sekitar $120 (setara Rp 1,6 juta), harga segelas susu segar—sekitar Rp 5.000 per gelas—rasanya masih masuk akal. Model bisnis Milk Zone bisa menekan harga karena mereka membeli langsung dari para petani, dengan biaya transport minim, dan tanpa biaya pengemasan sama sekali (karena para pelanggan membawa jerigen mereka masing-masing, atau disuguhi susu dengan gelas plastik sederhana tanpa tutup). "Saya suka susu mereka, terutama kalau saya ada waktu luang," ujar Charles, menyeka sisa susu dari kumisnya dengan punggung tangan. "Rasanya lebih enak ketimbang susu di supermarket, dan ini sehat juga. Apalagi yang saya butuhkan?"