teknologi

Alat Ini Membantumu Putar Musik Keras-Keras di Rumah Tanpa Takut Diomeli Tetangga

Xergio Córdoba adalah pemilik paten Masn´live© yang dapat meningkatkan volume di sebuah ruangan, sembari menjaga desibel.
11.8.17
Xergio Córdob

Artikel ini pertama kali tayang VICE Spain

Xergio Córdoba adalah seorang mastering engineer dari Spanyol yang baru saja mematenkan sebuah sistem psychoacoustics yang memungkinkan aula konser dan klub malam menggeber kencang musik dalam level dBA yang sama dengan kondisi di luar. Temuan ini diberi nama Masn´live©. Perangkat ini dapat digunakan sebagai processor untuk sound system apapun. Seketika kalian pakai, maka alat ini memungkinkan siapapun menikmati musik dalam kualitas yang kita inginkan tanpa harus melanggar aturan batasan suara yang biasanya dianggap berisik. Intinya sih, kamu bisa menggeber volume musikmu sekencang-kencangnya tanpa disadari tetanggamu yang usil atau kena teguran Pak RT. Lalu, apa ini adalah solusi bagi mereka yang ingin menggelar—menyitir lirik lagu The Safari—pesta disko di rumah? Kami ngobrol langsung bersama Xergio untuk mencari jawabannya.

VICE: Gimana kamu bisa dapat ide teknologi keren ini?
Xergio Córdoba: Idenya aku temukan beberapa tahun lalu, ketika ngobrol dengan seorang teman yang mengelola sebuah klab malam. Bagi pengusaha klab malam, mengelola sebuah klab malam itu ribet dengan segala aturan yang membatasi output desibel musik. Aturan emisi akustik memaksa mereka menurunkan level tekanan suara. Kualitas sound memburuk lantaran pemilik klab ingin membatasi emisi frekuensi akustik rendah. Masalahnya, sound jelek enggak bagus bagi bisnis klab malam. Bukannya semua aturan ini dibuat untuk membatasi noise yang berbahaya bagi manusia?
Jadi begini, bisnis klab dalam dulunya "dunia antah berantah" yang bebas dari aturan. Orang bisa melakukan apa saja di dalamnya. Nah, sebenarnya para pembuat kebijakan sudah melakukan hal yang benar. Mereka membuat peraturan guna melindungi ketenangan rumah penduduk dan bisnis di sekitar klab. Dengan demikian, menurutku, para pengembang perumahan dan pemilik lahan harusnya bisa mengambil langkah yang tepat dan mengecek lebih seksama apakah sebuah gedung dan lingkungan sekitarnya cocok untuk dijadikan klab malam. Apa langkah pertama yang kamu ambil ketika memutuskan membuat alat ini?
Begadang untuk menguji semua peralatan mencoba segala solusi serta koreksi. Otak memang sedang bagus-bagusnya bekerja di jam-jam itu. Malah, sebagian besar sistem ini lahir dan dikembangkan di malam-malam ketika aku kesusahan tidur. Aku cuma modal alat perekam kecil untuk menangkap semua ide sintingku. Tapi, prosesnya memang enggak gampang.
Saat aku pikir aku sudah beres mengerjakannya dan alatnya siap diuji, aku harus mulai mematenkan ciptaanku dan mulai mendokumentasikan cara kerja alat ini—bersama semua anggota tim pengembang—agar orang lain bisa memahaminya. Rasa was-was selalu. Bisa sebuah perusahaan besar nongol dan langsung mengklaim ini adalah ciptaan mereka. Ada banyak perangkat yang sudah dipatenkan yang sampai sekarang belum diproduksi. Malah sebenarnya, ada perusahaan lain yang sedang mengerjakan alat serupa. Mereka berusaha memblok pengajuan paten kami. Untungnya, kami yang menang.

Bisa tolong jelaskan—dalam bahasa orang awam ya—bagaimana alat ini bekerja?
Sebenarnya agak susah menyederhanakan prosesnya. Tapi, pada dasarnya, ini tentang bentuk fisik gelombang suara dan bagaimana otak menerjemahkan gelombang suara yang sama. Prinsip kerja alat ini murni menggunakan psychoacoustics.
Contohnya begini deh, tiap kali kamu mendengarkan file mp3 lewat headphone. Lalu ada suara drum dan bass. Tapi, headphoneemu tak bisa memproduksi suara itu dengan benar. Dalam alat kami, proses ini dlakukan dengan proses kompensasi evolusioner. Ini teknik yang kamu sering banget gunakan dalam proses mastering dan kami terapkan dalam sistem yang kami buat untuk mencapai apa yang kami cari. Apakah sistemmu bisa memberikan perlindungan akan noise yang berlebihan dan bisa mencegah kerusakan pendengaran?
Kerusakan pendengaran itu urusannya dengan level dBA dan durasi paparan kupingmu terhadap level dBA itu. Sayangnya, sistem yang kami buat tak bisa mencegah kerusahan pendengaran. Sistem kami bekerja untuk membantu otak merasakan musik lebih kencang dari sebenarnya. Dampaknya, kita bisa menghindari paparan terhadap frekuensi suara yang merusak. Di titik mana kamu merasa sudah mencapai apa yang kamu kejar?
Kami merasa berhasil ketika kami bisa mencapai frekuensi bass yang kedengeran lebih kencang dari sebenarnya. Kami bisa melipatkan volume suara serta meningkatkan kualitas suara serta dampaknya, tanpa mengubah level dBA. Melipatkan volume di level dBA yang sama—kedengarannya keren. Lalu, menurutmu batasnya apa?
Bisa melipatkan volume saja hitungannya sudah lebih dari sebuah kemenangan bagi kami. Apalagi mengingat kami bisa melakukannya sembari mempertahankan kualitas dan integritas audio. Beberapa waktu lalu, sebuah klab ternama di Madrid, kami bisa meningkatkan volume sampai tiga kali lipat tapi lantas kualitasnya mulai menurun karena ruangannya penuh orang. Klab tetap mempertahankan soundnya di level itu—meski kualitasnya agak turun—karena hari itu adalah hari ulang tahun klab. Kamu pernah mencobanya di mana lagi—di sebuah house party?
Alat ini pernah dicoba di sebuah house partu di Barcelona. Tapi, sebenarnya, alat ini dirancang untuk para musisi yang ingin mentransmisikan musiknya dengan kualitas terbaik. Di masa depan, kita bisa mencapai keajaiban ini tanpa masalah sama sekali. Prinsipnya mirip dengan audio mastering, cuma ini dilakukan di venue bukan di studio. Hasilnya semua terdengar lebih bagus, lebih tajam, lebih keras dan detail-detailnya makin kentara. Kami sudah mencoba sistem ini di banyak tempat dengan hasil yang mengagetkan. Kami telah mencobanya dengan beragam genre blues, pop, salsa, rock—pokoknya semua genre. Siapa saja musisi yang pernah menjajal alat kalian?
Laurent Garnier pernah mencobanya di La Riviera. Kami menjajal alat ini di Sonar bersama Ellen Allien, Steve Lawler, Joris Voorn dan Miss Kittin. Jamie Jones pernah menggunakannya di Teatro Arteria, Barcelona. Lee Foss memakainya di Egg Club di London, Pendulum di Madrid, dan beberapa kali di Fabrik dan Atlántida Barcelona; oh ya, Oscar Mulero dan Christian Wunsch juga pernah menjajal alat ini di Reverse. Kelihatannya alat ini bakal sangat berguna di acara rave outdoor, kamu pernah mencobanya di ruang terbuka?
Tentu saja. Alat ini bisa digunakan di semua tempat yang memiliki sound sistem yang bagus. Alat ini sudah terbukti efektif di ruangan tertutup dan terbuka kok. Kami malah pernah menggunakannya di beberapa skenario berbeda selama Sonar Festival. Kami akan mencoba menerapkan sistem ini di banyak festival musik ternama tahun ini. Terakhir, apa langkah selanjutnya? Mengomersilkan alat ini?
Ya. Itu bagian yang paling susah—kami harus menciptakan alat baru tapi tak boleh terlalu baru agar penggunanya enggak kebingungan. Semua ini berkutat pada usaha kami meng-encode pengalaman musikal yang bisa di-decode oleh otak. Yang jelas ini langkah yang paling berat adalah langkah pamungkas ini.