Diorama Sinematik: Sejarah Mini Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Foto oleh Iyas Lawrence dan Bambang Noer Ramadhan.
Merdeka

Diorama Sinematik: Sejarah Mini Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Miniatur serta diorama di museum-museum Indonesia terhitung keren lho. Sangat hidup dan detail banget. Kami merekam diorama terbaik seputaran Jakarta buat kalian.
17 Agustus 2017, 2:00am

Indonesia bisa dibilang masih sangat muda usianya. Negara ini baru memperoleh kesempatan merdeka di penghujung Perang Dunia II, mengakhiri penjajahan Belanda (sekaligus pendudukan singkat militer Jepang). Bapak Bangsa Indonesia membacakan proklamasi yang bersejarah itu pada 17 Agustus 1945, hanya berselang dua hari setelah Kekaiasaran Jepang menyerah pada Amerika Serikat dalam perjanjian di Pasifik.

Itulah kenapa negara ini bisa dibilang masih muda. Sebab orang yang usianya di atas 72 tahun mengalami seluruh rentang perjalanan Republik Indonesia. Kita yakin masih banyak lansia yang bisa mengingat detail kondisi masyarakat dan perjuangan antikolonial zaman Hindia Belanda maupun pendudukan Jepang. Tapi, tentu saja, kita tidak bisa selamanya mengandalkan para sesepuh. Generasi muda bangsa ini tentu saja butuh informasi mengenai apa yang terjadi di masa pertempuran kemerdekaan. Salah satu solusinya adalah diorama yang terdapat di banyak museum negara ini.

Diorama adalah salah satu sajian utama banyak museum. Mayoritas keren banget penggambarannya. Ada yang berupa miniatur, ada yang skalanya nyaris 1:1. Hebatnya lagi, diorama di museum-museum Indonesia boleh dibilang sinematik banget. Dua fotografer VICE Indonesia berkunjung ke Museum Monumen Nasional, Museum Satria Mandala, dan diorama Arsip Nasional Republik Indonesia. Diorama yang direkam dalam seri foto ini membekukan beberapa momen, yang walaupun tidak sepenuhnya akurat, setidaknya menggambarkan rumitnya proses perjuangan mencapai kemerdekaan—baik dari garis depan pertempuran maupun meja-meja diplomasi. Tiap museum yang kami datangi memiliki diorama dengan detail mengagumkan. Diorama-diorama tersebut selalu memuat tokoh yang bisa menarik perhatian kita, serta karakter-karakter sampingan yang terlibat dalam momen penting perjalanan bangsa Indonesia.

Bagaimanapun, tidak semua aspek sejarah yang rumit dapat terekam dalam format diorama. Penggambaran yang paling minim tentu saja diorama perjuangan diplomatik, yang bobotnya tak kalah penting daripada proses mengangkat senjata. Tak bisa dipungkiri, betapa banyaknya museum dengan diorama yang didirikan oleh yayasan militer, serta berdiri di era Orde Baru, mempengaruhi ragam tampilan diorama yang bisa diakses publik.

Setidaknya sebagai rekaman sejarah yang dominan memakai sudut pandang militeristik, diorama-diorama ini merupakan karya seni tersendiri. Ada banyak detail pertempuran yang menyayat, mengerikan, dan semua itu ditampilkan apa adanya dalam miniatur museum. Toh, memang, konflik bersenjata merupakan salah satu fase yang ada dalam perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan.

Berikut hasil rekaman fotografer kami sesudah berkeliling Jakarta, berupa kompilasi diorama-diorama paling detail dan indah menggambarkan haru biru revolusi 1945.