Memata-Matai Tahi

Teknik Anyar Membongkar Jaringan Narkoba, Kepolisian Cina Pantau Sisa Urin dan Kotoran Manusia

Memata-matai bandar atau pengedar? Itu masa lalu. Ribuan polisi di kota-kota besar Tiongkok sekarang memakai cara baru buat membekuk jaringan narkoba: nongkrong di selokan sambil meneliti tokai.
18.7.18
Image: Shutterstock

Jika kau adalah petugas dan diminta membongkar jaringan pengedar narkoba di wilayahmu, apa yang akan kau lakukan? Keliling mencari pengedarnya pasti. Lalu berpura-pura jadi pembeli untuk mendapat informasi pemasoknya. Begitulah cara polisi sekian dasawarsa terakhir saat memerangi narkoba. Bagi polisi di Tiongkok, cara tersebut kurang akurat untuk menghasilkan pemetaan masalah. Data yang lebih bermanfaat untuk dianalisis penyidik narkoba adalah tokai dan pipis.

Kalian tidak salah baca. Bekas urin ataupun kotoran penduduk Cina sekarang menjadi petunjuk yang sangat berguna untuk membekuk jaringan narkoba. Berdasar keterangan Jurnal Nature, Puluhan kepolisian kota di Negeri Tiram Bambu sudah memanfaatkan teknologi ini, dengan menganalisis selokan dan memantau adakah tanda-tanda konsumsi narkoba dari ampas pembuangan manusia. Teknologi tersebut bahkan sukses menuntun kepolisian mencokok satu pemasok narkoba besar.

Salah satu kota yang aktif memantau isi selokan adalah Zhongshan, di Provinsi Guangdong. Polisi mendapat bukti-bukti akurat dari uji kimia tentang peningkatan urin dan tahi yang mengandung narkoba jenis tertentu. Dari sana, polisi tinggal melacak siapa saja produsen yang punya kemampuan menghasilkan bahan kimia tadi. Hasilnya, satu bandar besar sukses ditangkap. Aliran urin dan tahi tersebut juga membantu polisi memetakan siapa saja penggunanya. "Karena efektif, semakinbanyak kota yang akan segera memanfaatan sistem analisis kimia ini untuk memerangi peredaran narkoba," tulis Nature. Penelitian lain dari air sistem pembuangan limbah juga berhasil mengungkap pola konsumsi heroin di 24 kota besar Tiongkok.

Iklan

Jadi, apa sih sebetulnya pemantauan tahi dan pipis tadi? Bagi ilmuwan, metode tersebut dinamai epidemiologi berbasis air limbah alias

WBE. Penelitian ini memang dirancang sejak awal untuk mengurai dan menandai kandungan hasil sekresi manusia, entah itu tahi, air seni, hingga keringat. Efek konsumsi narkoba, kita tahu, selalu tersimpan di hasil sekresi tadi. Pakai ganja atau kokain, walau sedikit sekalipun, akan bisa terlacak dari urin dan tahi kita. Bahkan ketika kotoran manusia tadi sudah berakhir di selokan. Intinya, dengan menempatkan variabel bahan kimia tertentu, maka alat yang dipakai bakal mendeteksi tokai dan pipis yang mengandung narkoba di selokan. Data yang terakumulasi dapat memberimu informasi soal berapa banyak konsumsi narkoba oleh seseorang, dari wilayah mana saja, dan apakah ada perubahan konsumsi narkoba selama ini di satu wilayah tertentu.

Biomonitoring, nama lain metode ini, tidak hanya berguna untuk penelitian konsumsi narkoba saja sih. Sudah banyak penelitian terkait penyakit yang memanfaatkannya.

Di Cina, tampaknya perang narkoba memanfaatkan pemantauan kotoran ini akan terus digalakkan. Sebab, Presiden Xi Jinping dalam pidato beberapa saat lalu sempat bersumpah akan menangkap lebih banyak pengedar dan produsen narkoba di negaranya, seperti dilansir kantor berita Xinhua. Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah pusat di Beijing mengucurkan dana sebesar 10 juta Yuan (setara Rp21,5 miliar) hanya untuk pengadaan biomonitoring saja.

Iklan

Namun, euforia pemanfaatan biomonitoring ini dikritik oleh sebagian ilmuwan. Jejak bahan kimia di urin atau feses adalah dampak tidak langsung dari konsumsi narkoba, kadang-kadang datanya bisa keliru karena satu dan lain hal. Hanya karena polisi bisa melihat jejak, bukan berarti otomatis semua orang yang 'mengeluarkan' kotoran tadi bisa ditangkap begitu saja.

Selain itu, teknologi ini masih menyimpan banyak masalah, khususnya dalam hal etika. Seperti apa cara polisi mendapatkan feses dan urinnya? Benar gitu lewat selokan? Jangan-jangan malah membobol septic tank tanpa izin?

Inilah efek teknologi baru. Belum ada aturan bersama soal pemanfaatannya. Mengingat Tiongkok bukan negara yang cukup peduli sama hak asasi manusia, yang pasti pemantauan tahi dan pipis tetap bakal dipakai—asal bisa jadi alasan menangkap bandar dan pengedar sebanyak-banyaknya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.